Perjuangan Menyusui Bayi Kembar: Rasa Sakit dan Bersalah yang Jarang Dibahas

Aktris India Divyanka Tripathi membagikan pengalaman menyusui bayi kembarnya melalui vlog YouTube.
Penulis: Rendra
Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:01:01 WIB

KILASKINI.COM — Menyusui bayi kembar berarti dua kali sesi, dua kali kebutuhan, dan sering kali dua kali rasa lelah. Aktris India Divyanka Tripathi membagikan pengalamannya dua bulan setelah melahirkan anak kembar laki-laki, mengungkap sisi fisik dan emosional yang jarang diperbincangkan. Simak pelajaran pentingnya untuk ibu menyusui di Indonesia.

Divyanka Tripathi dan suaminya, Vivek Dahiya, menyambut kelahiran bayi kembar laki-laki pada Mei 2026. Sekitar dua bulan setelah persalinan, Divyanka menuangkan pengalaman menyusuinya lewat vlog YouTube, termasuk soal rasa sakit dan rasa bersalah yang ia rasa jarang dibahas terbuka.

Kisah ini relevan bagi banyak ibu baru di Indonesia. Menyusui memang proses alami, tapi bukan berarti selalu berjalan mulus tanpa tantangan.

Mengapa Pengalaman Ibu Jarang Dibicarakan

Dalam vlog tersebut, Divyanka mempertanyakan mengapa pembahasan menyusui sering hanya berfokus pada manfaat ASI untuk bayi. Menurutnya, persiapan fisik dan emosional untuk ibu justru kurang disorot.

"Mengapa tidak ada yang membahas soal menyusui secara terbuka?" ujarnya, seperti diberitakan The Economic Times.

Ia mengaku orang-orang terdekatnya, termasuk ibu, saudara perempuan, dan teman-teman, tidak banyak bercerita soal pengalaman menyusui yang sebenarnya. Akibatnya, ia merasa tidak sepenuhnya siap menghadapi perubahan setelah melahirkan.

ASI Bisa Merembes Saat Bayi Menangis

Salah satu hal yang Divyanka bagikan adalah pengalaman ASI merembes ketika sudah waktunya menyusui, bahkan saat hanya mendengar bayinya menangis. Bagi ibu yang baru pertama kali mengalaminya, kondisi ini bisa terasa mengejutkan.

Divyanka mengaku situasi itu kadang membuatnya merasa malu. Padahal, keluarnya ASI secara spontan adalah respons tubuh yang normal terhadap rangsangan tertentu. Ibu tidak perlu merasa tubuhnya melakukan sesuatu yang aneh.

Menunda Menyusui Membuat Payudara Nyeri

Rutinitas Divyanka bertambah padat dengan kehadiran bayi kembar. Ada kalanya sesi menyusui tertunda karena banyak tamu datang melihat bayinya. Ketika jadwal menyusui terlewat, ia merasakan payudara sangat tidak nyaman dan sakit.

NHS menjelaskan bahwa pembengkakan payudara atau breast engorgement dapat membuat payudara terasa keras, kencang, dan sakit. Penundaan menyusui juga bisa berkaitan dengan penumpukan ASI, di mana saluran ASI yang tersumbat muncul ketika ASI tidak dikeluarkan dengan baik.

Meski begitu, tidak setiap ibu yang telat menyusui pasti mengalami sumbatan atau mastitis. Kondisinya bisa berbeda pada tiap orang.

Rasa Sakit dan Bersalah yang Sering Dipendam

Hal lain yang menjadi perhatian Divyanka adalah sisi emosional menyusui. Ia menyebut ada rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang jarang dibicarakan.

Menjadi ibu baru bukan hanya soal memastikan bayi mendapat ASI. Ibu juga beradaptasi dengan perubahan tubuh, kurang tidur, rutinitas baru, dan berbagai tuntutan setelah melahirkan. Pada ibu dengan bayi kembar, kebutuhan menyusui bisa datang lebih sering dan butuh pengaturan waktu berbeda.

Pengalaman Divyanka mengingatkan bahwa kesulitan menyusui tidak selalu berarti ibu kurang berusaha.

Menyusui Bukan Ujian, Ibu dan Bayi Sama-Sama Belajar

Divyanka menyampaikan pesan kepada ibu baru bahwa menyusui bukanlah sebuah ujian. Kemampuan bayi melakukan latch atau melekat pada payudara bukan bakat yang otomatis dimiliki sejak lahir.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan NHS bahwa latching on adalah keterampilan yang perlu dipelajari ibu dan bayi bersama-sama. Posisi dan pelekatan yang tepat biasanya butuh latihan, bukan sekali coba langsung sempurna.

Nyeri Saat Menyusui Tidak Selalu Harus Ditahan

Banyak ibu menganggap nyeri saat menyusui adalah hal yang wajar dan harus dijalani. Padahal, nyeri hebat atau berkepanjangan bisa jadi tanda pelekatan yang kurang tepat atau masalah lain yang perlu ditangani.

WHO menekankan bahwa ibu menyusui membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Dukungan bisa datang dari pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, atau komunitas ibu menyusui.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter

Segera cari bantuan tenaga kesehatan jika payudara terasa sangat nyeri, keras, memerah, disertai demam, atau ada benjolan yang tidak membaik. Tanda-tanda ini bisa mengarah pada sumbatan saluran ASI atau mastitis yang perlu penanganan.

Konsultasi juga dianjurkan bila ibu merasa sangat tertekan, cemas berlebihan, atau kehilangan minat merawat bayi. Kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kecukupan ASI bayi.

Perjalanan menyusui setiap ibu memang berbeda. Ada yang lancar sejak awal, ada yang harus melewati sakit dan rasa bersalah lebih dulu. Yang perlu diingat, meminta bantuan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari cara ibu dan bayi belajar bersama.

Reporter: Rendra