Bursa Asia Kompak Melemah, Nikkei Turun 1,65% saat Kekhawatiran AI Menguat

Indeks Nikkei 225 melemah 1,65% pada pembukaan perdagangan awal pekan di tengah kekhawatiran atas prospek bisnis AI.
Penulis: Galih
Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41:01 WIB

KILASKINI.COM — Indeks Nikkei 225 melemah 1,65% dan Kospi terkoreksi 1,29% pada pembukaan perdagangan awal pekan, sementara investor mencermati laporan keuangan Anthropic dan sinyal perlambatan belanja infrastruktur AI. Bursa Australia menjadi pengecualian dengan penguatan tipis 0,37% pada S&P/ASX 200.

Tekanan jual mendominasi bursa saham Asia pada perdagangan Senin (19/10/2026). Selain Nikkei dan Kospi, indeks Topix Jepang turun 1,12% dan Kosdaq Korea Selatan melemah 0,93%. Pelemahan ini mengikuti koreksi bursa Wall Street pekan lalu, dengan S&P 500 turun hampir 2% dan Nasdaq merosot 4,5% — mengakhiri tren penguatan empat pekan berturut-turut.

Pendapatan Anthropic Picu Pertanyaan soal Kecepatan Bisnis AI

Kekhawatiran terhadap prospek kecerdasan buatan mencuat setelah CNBC melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal III-2026 mencapai US$16,8 miliar. Angka itu naik dari US$11,6 miliar pada kuartal sebelumnya, tetapi justru memantik diskusi di kalangan investor mengenai laju pertumbuhan bisnis AI di tengah besarnya belanja infrastruktur.

Perhatian pasar juga tertuju pada CoreWeave, penyedia infrastruktur komputasi awan yang membangun pusat data dengan dukungan pembiayaan utang. Saham perusahaan ini anjlok 25% sepanjang pekan lalu, penurunan mingguan terdalam sejak November 2025.

Tekanan Merembet ke Pasar Kredit Korporasi

Kekhawatiran tidak berhenti di pasar saham. Credit default swaps (CDS) CoreWeave mencapai level yang mengindikasikan tekanan kredit serius. Para trader Goldman Sachs mencatat pada Jumat bahwa credit spreads sektor AI, khususnya perusahaan hyperscaler, telah berada di level terlebar sepanjang tahun ini.

"Terakhir kali spread hampir selebar ini, saham-saham terkait berada 15% lebih rendah," tulis para trader Goldman Sachs dalam catatan mereka.

Catatan tersebut menilai pelebaran spread memaksa investor mempertimbangkan dampak perlambatan belanja AI. Menurut Goldman Sachs, belanja modal atau capital expenditure (capex) AI kemungkinan telah mencapai puncaknya, sehingga perhatian pasar bergeser ke isu pembiayaan, keberlanjutan investasi, dan tingkat pengembalian modal.

Ketegangan Geopolitik Tambah Beban Sentimen

Faktor lain yang membebani pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa. Serangan terhadap kapal di Teluk Persia dilaporkan bertambah, sementara Rusia dan Ukraina saling melancarkan serangan ke infrastruktur energi — termasuk serangan Ukraina terhadap terminal minyak di St. Petersburg, Rusia, pada Minggu.

Kontrak berjangka minyak untuk pengiriman jangka panjang mulai menguat karena pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan energi hingga 2027. Namun pada perdagangan Minggu, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat sedikit melemah.

Laporan Meta dan Tesla Jadi Penentu Arah Pasar

Investor akan mencermati rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat pekan ini, termasuk Meta Platforms dan Tesla. Hasil kinerja keduanya dinantikan untuk memberi petunjuk mengenai prospek sektor teknologi sekaligus menopang stabilitas sentimen pasar.

Bagi investor di kawasan Asia, kombinasi tekanan kredit sektor AI dan risiko geopolitik energi menjadi dua variabel utama yang perlu dipantau. Pelemahan indeks regional berpotensi berlanjut bila laporan keuangan perusahaan teknologi AS pekan ini tidak mampu meredakan kekhawatiran atas keberlanjutan belanja AI.

Reporter: Galih