Pencarian

RI Butuh Investasi Rp 2.258 T demi Ekonomi Tumbuh 6% pada 2027

Senin, 05 Oktober 2026 • 08:01:01 WIB
RI Butuh Investasi Rp 2.258 T demi Ekonomi Tumbuh 6% pada 2027
Pemerintah menargetkan kebutuhan investasi nasional Rp 2.218 triliun–Rp 2.258 triliun pada 2027 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 6%.

KILASKINI.COM — Pemerintah menargetkan kebutuhan investasi nasional mencapai Rp 2.218 triliun hingga Rp 2.258 triliun pada 2027 agar pertumbuhan ekonomi bisa menyentuh 6%. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut investasi perlu tumbuh 8%–9% pada tahun depan untuk menutup kebutuhan itu. Angka tersebut menempatkan transisi energi hijau dan digitalisasi sebagai dua mesin utama yang harus jalan beriringan.

Paragraf pembuka: Target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 tidak bisa dicapai dengan cara biasa. Pemerintah menghitung kebutuhan investasi nasional harus berada di rentang Rp 2.218 triliun sampai Rp 2.258 triliun, dengan laju pertumbuhan investasi tahunan di kisaran 8%–9%. Haryo Limanseto memaparkan hitungan itu sebagai dasar arah kebijakan ekonomi tahun depan.

Transisi Energi dan Digitalisasi Jadi Dua Mesin Utama

Pemerintah memposisikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine atau dua mesin penggerak pertumbuhan berkelanjutan. Keduanya dinilai saling mengunci: energi bersih yang terjangkau dibutuhkan untuk menopang infrastruktur digital, sementara digitalisasi mempercepat efisiensi sektor energi.

"Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara ketersediaan energi bersih yang terjangkau dan akselerasi infrastruktur digital menjadi kunci utama menciptakan iklim investasi berdaya saing global sekaligus mempercepat pencapaian target pertumbuhan jangka panjang," kata Haryo, dikutip Senin (5/10/2026).

Keandalan energi hijau disebut sebagai prasyarat mutlak. Kebutuhan listrik nasional diproyeksikan menembus 700–800 TWh pada 2030, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menambah kapasitas pembangkit hingga 100 GW peak berbasis energi terbarukan.

Untuk menjamin pasokan listrik bagi industri dan pusat data, pemerintah membangun jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit. Pembangunan ini menjadi tulang punggung distribusi energi bersih dari wilayah pembangkit ke pusat konsumsi.

Listrik Desa dan Pemerataan Energi

Pemerataan akses energi dijalankan lewat program Listrik Desa. Sepanjang 2025, program itu telah menjangkau 1.505 lokasi dan ditargetkan mencakup 4.390 lokasi pada 2026. Rasio elektrifikasi pun mendekati di atas 99%, dengan indeks ketahanan energi naik ke angka 7,13.

Bagi warga di daerah terpencil, sambungan listrik berarti perubahan langsung: anak bisa belajar malam hari, usaha kecil bisa buka lebih lama, dan layanan kesehatan tidak lagi bergantung pada genset.

Mineral Strategis dan Ekosistem Kendaraan Listrik

Pemerintah mengandalkan kekayaan mineral strategis sebagai modal menarik investasi baru. Nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, hingga batu bara dinilai berperan penting mendukung industri hilir berbasis energi bersih.

Sektor kendaraan listrik menjadi andalan. Hilirisasi di sektor ini diperkirakan menciptakan nilai tambah hingga 67 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah. Pasar global kendaraan listrik diproyeksikan mencapai US$5,91 triliun pada 2045, peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok dunia.

Potensi mineral kritis dan bahan baku panel surya seperti pasir silika juga menarik minat negara maju. Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada menunjukkan ketertarikan menjalin kemitraan dalam pengembangan teknologi transisi energi serta diversifikasi rantai pasok mineral kritis global di Indonesia.

Green Financing dan Kesiapan SDM

Untuk membiayai kebutuhan investasi, pemerintah mengoptimalkan sumber pembiayaan hijau seperti green bonds, blended finance, Just Energy Transition Partnership (JETP), dan Asia Zero Emission Community (AZEC). Skema campuran ini diperlukan karena kebutuhan modal jauh melampaui kapasitas anggaran negara.

Kesiapan tenaga kerja juga disiapkan melalui program vokasi dan magang. Sektor industri hijau diproyeksikan menyerap lebih banyak pekerja dalam beberapa tahun ke depan, sehingga pasokan keterampilan harus dikejar sejak sekarang.

"Optimalisasi potensi energi hijau dan digitalisasi secara terpadu merupakan golden moment bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai tuan rumah energi dan pemain utama transisi energi global," kata Haryo.

Penutup: Angka Rp 2.258 triliun menunjukkan skala taruhan Indonesia di ekonomi hijau. Jika laju investasi 8%–9% tercapai, target pertumbuhan 6% pada 2027 bukan sekadar proyeksi di atas kertas.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks