Pencarian

Hacker China Diduga Menyamar Jadi Karyawan Anthropic dan Pejabat AS

Selasa, 06 Oktober 2026 • 10:21:01 WIB
Hacker China Diduga Menyamar Jadi Karyawan Anthropic dan Pejabat AS
Proofpoint mengungkap kampanye spionase siber yang menyasar ekosistem AI Amerika Serikat.

KILASKINI.COM — Kelompok hacker yang diduga selaras dengan pemerintah China menyamar sebagai karyawan Anthropic dan mantan pejabat Gedung Putih dalam kampanye spionase terhadap ekosistem AI Amerika Serikat. Laporan Proofpoint mengungkap targetnya adalah pakar pengendalian ekspor AI dan penerapan AI militer di universitas, think tank, serta firma hukum. Serangan berlangsung pada Februari dan Juli, tanpa bukti pembobolan berhasil sejauh ini.

Proofpoint, perusahaan keamanan siber asal Silicon Valley, mengungkap kampanye spionase yang menyasar ekosistem kecerdasan buatan Amerika Serikat. Pelaku diduga kuat merupakan aktor ancaman yang selaras dengan pemerintah China.

Dalam operasi tersebut, hacker menyamar sebagai karyawan Anthropic, perusahaan di balik model AI Claude, dan Lynne Parker, mantan pejabat teknologi senior Gedung Putih era pemerintahan Trump dan Joe Biden. Target utama mereka adalah pakar kebijakan pengendalian ekspor AI dan penerapan AI di bidang militer.

Siapa yang Menjadi Sasaran

Proofpoint mencatat para target bekerja di sejumlah universitas AS, lembaga think tank, dan firma hukum. Peneliti Proofpoint, Mark Kelly, menyatakan pihaknya belum menemukan bukti pembobolan yang berhasil pada organisasi-organisasi tersebut.

Meski demikian, Kelly mengingatkan kelompok hacker terkait China dikenal gigih dan akan terus mencoba hingga berhasil. "Kami yakin kelompok hacker tersebut adalah aktor ancaman yang selaras dengan pemerintah China berdasarkan pola penargetan yang konsisten dengan kepentingan pemerintah China, infrastruktur dan artefak teknis yang kami amati, serta bukti penguat dari mitra industri," ujar Kelly.

Modus Penyamaran di Dunia Maya

Dalam salah satu operasi, hacker mengirim email dengan menyamar sebagai Parker kepada seseorang di sebuah firma hukum AS. Email itu mengundang korban berpartisipasi dalam "komite penasihat kebijakan AI". Parker palsu kemudian mengirim dokumen berisi malware yang diklaim memuat informasi lebih lanjut mengenai komite fiktif tersebut.

Parker yang asli mengaku rekan-rekannya mulai menghubunginya setelah menerima email mencurigakan dari orang yang mengaku dirinya. Kini ia beraktivitas sebagai akademisi di University of Tennessee, Knoxville.

"Kekhawatiran utama saya adalah kepada rekan-rekan yang mungkin menerima email palsu itu. Saya ingin memperingatkan mereka, tapi sangat sulit dilakukan karena saya tidak tahu siapa saja yang menjadi target," kata Parker.

"Secara pribadi, saya sedih karena hubungan yang telah saya bangun sepanjang karier saya dieksploitasi aktor jahat untuk menipu orang lain," tambahnya.

Anthropic Jadi Kedok Serangan

Proofpoint juga menemukan hacker menyamar sebagai karyawan Anthropic. Pada 26 Februari, mereka mengirim email atas nama karyawan perusahaan itu ke seorang analis kebijakan AI di sebuah think tank AS.

Subjek email berbunyi, "Permintaan Umpan Balik tentang Integrasi Militer Claude". Melalui email tersebut, hacker berupaya mencuri kredensial email sang analis.

Sehari setelah email dikirim, pemerintahan Trump menginstruksikan badan federal dan kontraktor militer menghentikan hubungan bisnis dengan Anthropic. Langkah itu menyusul penolakan perusahaan untuk mengizinkan Pentagon memakai teknologi AI-nya tanpa batasan.

Mengapa Serangan Ini Penting

Upaya peretasan yang terjadi pada Februari dan Juli ini muncul di tengah AI menjadi titik fokus krusial dalam hubungan AS-China. Presiden Donald Trump membahas masalah AI pekan lalu di Gedung Putih bersama pemimpin China Xi Jinping, namun tidak menghasilkan kesepakatan substantif.

Bulan lalu, pemerintahan Trump menuduh perusahaan-perusahaan AI China melakukan pencurian rahasia dagang skala industri dari pesaing mereka di Amerika. Tuduhan itu diyakini untuk menghemat biaya sekaligus mempercepat peluncuran produk. China membantah tuduhan tersebut.

Menurut pakar, agen siber China menargetkan hampir setiap lapisan ekosistem AI, mulai dari semikonduktor hingga individu-individu yang mendedikasikan karier di bidang ini. Pola ini menunjukkan perang teknologi AS-China tidak lagi hanya soal chip dan model bahasa besar, tetapi juga perang informasi di lapisan manusia.

Sumber: inet.detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks