KILASKINI.COM — Danantara Indonesia menanamkan modal US$ 250 juta atau setara Rp 4,48 triliun ke HighPeak Energy, perusahaan eksplorasi dan produksi migas asal Amerika Serikat. Investasi melalui PT Danantara Investment Management (DIM) itu menyasar sektor hulu migas di Permian Basin, Texas, dengan proyeksi imbal hasil tetap 6-7 persen per tahun.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara memperbesar portofolio di sektor hulu minyak dan gas bumi dengan masuk ke HighPeak Energy. Langkah ini menandai ekspansi Danantara ke aset migas internasional, khususnya di wilayah yang menyumbang hampir separuh produksi minyak mentah Amerika Serikat.
HighPeak berbasis di Texas dan bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin. Wilayah itu tercatat menyumbang 48 persen dari total produksi minyak mentah AS sepanjang 2025.
Skema Saham Preferen Konvertibel
Danantara menanamkan modal lewat penerbitan saham preferen konvertibel (convertible preferred stock) secara bertahap. Mekanisme itu memberi imbal hasil tetap yang diproyeksikan 6-7 persen per tahun, dengan pembayaran berkala.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai skema tersebut memperkecil risiko investasi. Menurut dia, pembayaran periodik membuat Danantara tidak perlu menunggu setahun penuh untuk menerima arus kas.
"Nantinya kalau nunggu setahun kan agak sulit gitu ya. Tapi kalau kemudian nggak sampai setahun, kemudian cash flownya masuk, saya kira itu lebih baik," kata Komaidi kepada Katadata.co.id, Jumat (9/10).
Komaidi menilai investasi di sektor hulu migas memiliki prospek positif. Risiko dapat dimitigasi melalui saham preferen yang memberikan kepastian imbal hasil, sekaligus memberi manfaat bagi Danantara dan keuangan negara.
Potensi Transfer Teknologi ke Indonesia
Selain aspek finansial, Komaidi menyoroti peluang alih teknologi dari operasi HighPeak di Permian Basin. Kawasan itu dikenal sebagai pusat industri hulu migas dunia dengan teknologi yang berkembang lebih pesat dibanding wilayah lain.
Dengan mengamankan posisi di kawasan tersebut, Danantara disebut dapat memperluas akses terhadap teknologi, pengetahuan, pengalaman, dan jaringan industri migas global. Hal itu berpotensi mendukung peningkatan kemampuan operasional hulu migas di Indonesia.
"Dari aspek finansialnya, saya kira prudent. Dari aspek teknologi maupun operasional hulu migas, juga ada beberapa hal yang strategis, salah satunya mengenai kemungkinan nanti alih teknologi apabila suatu waktu kita perlu," ujar Komaidi.
Kualitas Investasi Jadi Perhatian Pemerintah
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan pemerintah tidak hanya mengejar besaran investasi yang masuk. Kualitas dan keberlanjutan investasi dinilai sama pentingnya, termasuk dampaknya terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Rosan menyebut realisasi investasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi itu menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung, belum termasuk tenaga kerja pendukung.
Kontribusi hilirisasi terhadap realisasi investasi nasional juga naik ke level 30 persen. Sebelumnya, porsi sektor itu berada di kisaran 25 persen.
"Kalau dulu di level 25% dari total investasi, sekarang sudah di level 30%, close to 30% actually come from hilirisasi," kata Rosan dalam Investor Daily Summit 2026 Jakarta, Rabu (7/10).
Rosan menyebut investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral. Namun, ia memperkirakan tren itu meluas ke sektor lain seperti perkebunan dan kelautan. Sekitar 75 persen investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa, dengan porsi investasi dalam dan luar negeri relatif berimbang, masing-masing sekitar 50 persen.
Presiden Prabowo Subianto pada Februari menyelenggarakan Presidential Forum on Strategic Capital & Partnership di Washington, D.C. Forum itu mempertemukan pimpinan senior sejumlah institusi investasi terkemuka AS untuk mendorong kemitraan strategis permodalan.
Rosan menegaskan forum tersebut mencerminkan komitmen Indonesia membangun kemitraan jangka panjang dengan investor institusional global. Strategi penyaluran investasi Danantara mencakup penguatan eksposur global melalui kemitraan dengan fund managers terkemuka.
"Pendekatan ini memungkinkan Indonesia memperluas akses ke jaringan investasi global, teknologi, serta keahlian manajerial, sekaligus memastikan setiap alokasi investasi mendukung sektor prioritas, pengembangan industri, dan penciptaan nilai di dalam negeri," ujar Rosan.
Investasi Danantara di HighPeak Energy menjadi uji awal strategi ekspansi global holding investasi negara itu. Selain mengejar imbal hasil tetap, langkah ini membuka jalur akses teknologi dan jaringan industri migas yang lebih matang di pasar internasional.