Pencarian

Asap Karhutla Selimuti Makassar, Senja Pantai Losari Kini Hilang

Senin, 12 Oktober 2026 • 10:41:30 WIB
Asap Karhutla Selimuti Makassar, Senja Pantai Losari Kini Hilang
Asap karhutla menyelimuti Kota Makassar dan menghilangkan pemandangan senja di Pantai Losari.

KILASKINI.COM — Asap karhutla dari Kalimantan dan Papua menyelimuti Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sejak beberapa hari terakhir dan menghapus pemandangan senja di Pantai Losari. Indeks kualitas udara di kota ini tercatat tidak sehat dengan konsentrasi PM 2,5 mencapai 43,9 mikrogram per meter kubik, atau 8,8 kali lipat batas aman WHO. Warga yang biasa menikmati matahari terbenam di kawasan Centre Point of Indonesia (CPI) memilih pulang lebih cepat karena langit kelabu dan udara yang kian pengap.

Fitriyah (37), warga Makassar, menunggu hingga menjelang petang sebelum akhirnya memutuskan membawa keluarganya pulang. Ia mengaku ingin mengajak anak-anak bermain sambil menonton matahari terbenam, tetapi kondisi langit tidak memungkinkan.

"Maunya tunggu matahari terbenam sambil ajak main. Tapi, langit kelabu, tidak kelihatan mataharinya," kata ibu tiga anak tersebut.

Senja yang Hilang dari Pantai Losari

Bagi warga Makassar, Minggu sore adalah waktu terbaik menikmati Pantai Losari. Setelah bermain, bersepeda, atau sekadar duduk santai, mereka biasanya menantikan momen matahari tenggelam. Sinar jingga kemerahan yang hangat memenuhi langit di batas horizon, lalu berganti lembayung senja sebelum langit benar-benar gelap.

Pemandangan itu kini tidak terlihat. Yang tersisa hanya langit kelabu tanpa matahari senja. Fitriyah menduga fenomena ini berkaitan dengan kebakaran hutan yang kabarnya sedang parah.

"Katanya karena asap kebakaran hutan. Sudah parah betul kalau begitu kebakarannya," tambahnya.

Warga Mulai Waspadai Dampak Kesehatan

Pengunjung lain, Inna (43), juga memilih pulang cepat setelah berkeliling di sekitar Pantai Losari dan kawasan CPI. Udara di kawasan terbuka terasa semakin pengap. Sejak beberapa hari terakhir, ia mewajibkan dua anaknya memakai masker saat berangkat dan pulang sekolah.

"Saya pikir hari ini tidak terlalu tebal asapnya, apalagi kalau di tempat terbuka. Ternyata masih tebal sampai matahari tidak terlihat. Saya baca imbauan Pemkot Makassar agar mewaspadai paparan asap berbahaya," ujarnya.

Nasrullah (54), pedagang makanan di sekitar Pantai Losari, mengeluhkan asap yang tidak kunjung hilang. Selama puluhan tahun berjualan, ia baru kali ini merasakan asap mengepung kota selama berhari-hari. Biasanya matahari hanya tidak terlihat saat musim hujan tiba.

"Anehnya, mataharinya tidak kelihatan, hanya panasnya yang terasa," katanya.

Kualitas Udara Makassar di Level Tidak Sehat

Hingga Senin pagi, udara Kota Makassar dan sekitarnya masih diselimuti asap putih. Data di situs IQair.com pada pukul 09.00 Wita menunjukkan indeks kualitas udara berada di angka tidak sehat. Konsentrasi PM 2,5 mencapai 43,9 mikrogram per meter kubik, atau 8,8 kali lebih tinggi dari batas aman WHO.

Sebelumnya, angka PM 2,5 bahkan jauh lebih tinggi. Kondisi berkali lipat terjadi di Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Papua. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mengimbau warga mengurangi aktivitas berat di luar ruangan saat udara berkabut dan memakai masker yang terpasang rapat jika harus beraktivitas di luar.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar Fadli Tahar mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan penurunan kualitas udara dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.

"Jangan menunggu sampai sesak napas untuk mulai melindungi diri. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker yang sesuai jika harus keluar, dan lindungi anak-anak serta anggota keluarga yang rentan," tuturnya.

Asap dari Kalimantan dan Papua Terbawa Angin

Penurunan kualitas udara dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pembakaran terbuka, hingga pergerakan angin yang membawa partikel dari wilayah lain. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan asap dari Kalimantan berpotensi terbawa ke Sulawesi Selatan ketika kondisi angin mendukung.

Pergerakan angin dari arah timur juga memungkinkan asap dari Papua dan Maluku mencapai Sulsel. Kebakaran lahan di sejumlah daerah di Sulsel turut menjadi sumber partikulat. Besarnya kontribusi setiap sumber harus dipastikan melalui analisis resmi BMKG.

Fadli mengingatkan anak-anak, warga lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma, penyakit paru-paru, dan gangguan jantung perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara menurun. Dampak karhutla juga terasa di Palembang, Sumatera Selatan, dengan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menembus angka tinggi.

Bagi traveler yang berencana berkunjung ke Makassar dalam waktu dekat, pantau terus informasi kualitas udara dari BMKG dan dinas pariwisata setempat. Aktivitas luar ruangan di kawasan Pantai Losari sebaiknya ditunda sampai kondisi udara membaik.

Sumber: kompas.id

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks