Rupiah Ungguli Mata Uang Negara Berkembang Asia Lain

Ekonomi, Pilihan333 Dilihat

JAKARTA – Nilai tukar rupiah Indonesia melonjak ke level tertinggi dalam tiga bulan pada hari Kamis (12/1), sementara nilai tukar mata uang negara-negara berkembang Asia lainnya bervariasi menjelang dikeluarkannya data inflasi AS yang dapat menentukan jalur pengetatan moneter Bank Sentral Amerika.

Rupiah menguat hingga 1,2 persen, sehari setelah pemerintah mengatakan sedang meninjau peraturan tentang pendapatan ekspor.

Bank Indonesia (BI) akan meluncurkan instrumen operasi moneter baru untuk menerima tabungan valuta asing eksportir yang diteruskan oleh bank-bank umum lokal, sehingga lebih menarik bagi deposan untuk menyimpan devisa di dalam negeri.

“Selain meningkatkan ketersediaan mata uang asing secara domestik, arus masuk ini akan mendukung mata uang rupiah dan menurunkan biaya pinjaman terkait,” kata Radhika Rao, seorang ekonom senior di Bank DBS.

Baht, mata uang Thailand, berbalik arah dan terakhir turun 0,1 persen, bahkan saat kepercayaan konsumen naik selama tujuh bulan berturut-turut di bulan Desember, didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan kedatangan turis asing yang lebih tinggi.

Mata uang Filipina, peso, melemah 0,6 persen, sementara harga-harga saham di Manila secara umum naik 1,3 persen.

Gubernur bank sentral Filipina mengatakan ia berharap suku bunga acuan dapat dipotong pada tahun 2024, dan mengindikasikan prospek penurunan persyaratan cadangan bank pada paruh pertama tahun ini.

Dolar AS stabil menjelang dikeluarkannya data inflasi hari ini, yang akan memberikan lebih banyak kejelasan tentang berapa banyak inflasi di ekonomi terbesar dunia itu telah dimoderasi dan bagaimana jalur kenaikan suku bunga.

“Ekspektasi bahwa inflasi AS akan turun lebih rendah dan menunjukkan bahwa inflasi dapat memuncak, sehingga memungkinkan Bank Sentral menurunkan suku bunga dan memberi sedikit dorongan kekuatan bagi mata uang Asia,” kata Chang Wei Liang, pakar mata uang asing dan kredit di DBS Bank.

Tingkat inflasi konsumen tahunan China meningkat pada bulan Desember, didorong oleh kenaikan harga pangan, sementara penurunan tingkat tahunan dalam indeks harga produsen (PPI) melambat pada bulan Desember.

“Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) utama, berdasarkan tahun-ke-tahun, kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena pemulihan ekonomi. Namun, deflasi IHK dapat berlanjut karena efek dasar dan permintaan yang lemah akibat perlambatan produksi global, ” tulis analis di Goldman Sachs.

Nilai tukar mata uang China, yuan, naik 0,1 persen, mendekati level tertinggi dalam lima bulan.

Harga-harga saham berfluktuasi beragam di Asia. Saham-saham di Jakarta naik sebanyak 1,2%, setelah turun tajam di dua sesi sebelumnya. Saham-saham di Thailand, Singapura, dan India turun antara 0,1 persen dan 0,5 persen. [ab/uh/voa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *