PBB: Tahun 2022 Sebagai Satu dari Delapan Tahun Terpanas

Internasional187 Dilihat

JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memastikan bahwa delapan tahun terakhir adalah tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat sejak pencatatan itu dimulai, terlepas dari pengaruh pendinginan akibat pola cuaca La Nina yang berlarut-larut.

Tahun lalu, ketika dunia menghadapi bencana alam demi bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang semakin mungkin terjadi dan semakin mematikan akibat perubahan iklim, suhu rata-rata dunia berada sekitar 1,15 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

“Delapan tahun terakhir adalah yang terhangat yang pernah tercatat di dunia, yang dipicu oleh konsentrasi gas rumah kaca dan akumulasi panas yang semakin tinggi,” kata badan PBB tersebut dalam sebuah pernyataan.

Tahun terpanas yang tercatat adalah tahun 2016, disusul tahun 2019 dan 2020, menurut temuan lembaga tersebut.

Sementara itu, tahun lalu merupakan tahun kedelapan berturut-rurut suhu tahunan dunia setidaknya berada satu derajat lebih tinggi di atas tingkat pra-industri pada era 1850-1900.

Perjanjian Paris, yang disepakati oleh hampir seluruh negara di dunia tahun 2015, menyerukan pembatasan kenaikan suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celcius, yang disebut ilmuwan dapat membatasi dampak perubahan iklim ke tingkat yang masih dapat dikelola.

Namun WMO memperingatkan pada hari Kamis bahwa “kemungkinan melampaui batas 1,5 derajat Celcius – untuk sementara waktu – semakin tinggi seiring waktu.”

WMO mencapai kesimpulan tersebut dengan mengonsolidasikan enam rangkaian data internasional terkemuka, termasuk pengawas iklim European Union’s

Copernicus (C3S) dan Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), yang mengumumkan temuan serupa pekan ini.

Bencana Cuaca Dramatis

“Pada 2020, kita menghadapi sejumlah bencana cuaca dramatis yang merenggut terlalu banyak nyawa dan matapencaharian,” kata Ketua WMO Petteri Taalas, merujuk pada banjir yang merendam sepertiga Pakistan, gelombang panas yang memecahkan rekor di China, Eropa dan benua Amerika, serta kekeringan berkelanjutan di kawasan Tanduk Afrika.

WMO menyebut trennya sudah jelas.

“Sejak tahun 1980-an, setiap dekade menjadi lebih hangat dari dekade sebelumnya,” ungkapnya.

Suhu rata-rata planet Bumi pada periode 2013-2022 yaitu 1,14 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Angka itu berada pada 1,09 derajat Celcius untuk suhu rata-rata di antara 2011-2020, menurut perkiraan panel penasihat sains iklim PBB (IPCC).

Hal ini, kata WMO, “mengindikasikan bahwa pemanasan jangka panjang masih berlanjut,” dengan dunia yang “sudah mendekati batas bawah kenaikan suhu yang berusaha dihindari Perjanjian Paris.”

Berbagai peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi menggarisbawahi perlunya “peningkatan kesiapan,” kata Taalas.

Pada KTT Iklim COP27 November lalu, Sekjen PBB Antonio Guterres mengungkap sebuah rencana lima-tahunan senilai $3 miliar untuk membangun sistem peringatan dini dunia untuk peristiwa cuaca ekstrem mematikan dan merugikan yang diperparah oleh perubahan iklim.

Sejauh ini, hanya separuh dari 193 negara anggota PBB yang sudah memiliki sistem tersebut, kata Taalas.

Ia memperingatkan, “kesenjangan yang besar” dalam pengamatan cuaca dasar, termasuk di Afrika, memiliki “dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas prakiraan cuaca.” [rd/lt/voa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *