Transfer Runtuh, Agen Sebut Pemain Afrika Diperlakukan seperti Komoditas

Winger Ismaila Sarr menghapus seluruh unggahan terkait klubnya di media sosial setelah batal pindah ke Liverpool pada bursa transfer musim panas ini.
Penulis: Galih
Kamis, 03 September 2026 | 04:05:31 WIB

Sarr Kecewa, Hapus Jejak di Media Sosial

KILASKINI.COM — Palace dilaporkan menolak tawaran Liverpool dan menegaskan pemain berusia 28 tahun itu tidak untuk dijual. Padahal, Sarr merupakan pencetak gol terbanyak klub musim lalu. Ia melewatkan dua laga pembuka melawan Everton dan Manchester City setelah manajer Pierre Sage menyatakan pemainnya mengalami cedera.

Kekecewaan Sarr pun tampak nyata. Ia menghapus semua referensi tentang Palace, klub juara Conference League, dari akun media sosialnya. Sumber internal menyebut ia kecewa dengan sikap klub yang menahannya.

Komoditas dan Tuntutan untuk Didengar

Kamara, yang juga mantan penyerang internasional Senegal, berujar bahwa para pemain Afrika harus "didengar" dalam proses transfer. Ia menyoroti adanya perbedaan perlakuan antara pemain Afrika dan pemain dari kawasan lain. "Ini soal rasa hormat, dan itu harus diberikan sejak awal negosiasi," tegas Kamara kepada media Inggris.

Palace Bersikukuh, Camara Jadi Korban Aturan?

Sikap Palace sebenarnya telah diisyaratkan sejak awal. Mereka bersikukuh mempertahankan Sarr karena kontribusinya yang vital di lini serang. Namun di sisi lain, kasus Camara berujung berbeda; Monaco membela langkah mereka menghentikan kepindahan gelandang muda itu ke Chelsea, dengan alasan tenggat waktu yang tidak memungkinkan.

Kamara menilai kedua kasus itu memiliki benang merah: minimnya transparansi dan komunikasi dari pihak klub. Bagi Kamara, insiden ini menjadi preseden buruk bagi pemain Afrika yang ingin berkembang di kompetisi elite Eropa. "Klub harus paham, pemain punya ambisi, dan pasar transfer harusnya menjadi ruang dialog, bukan ruang dominasi sepihak," pungkasnya.

Reporter: Galih