PDPI Peringatkan 5 Risiko Abu Vulkanik Anak Krakatau bagi Warga

Warga melintas di kawasan yang tertutup abu vulkanik dampak letusan Gunung Anak Krakatau.
Penulis: Redaksi
Senin, 07 September 2026 | 18:38:32 WIB

KILASKINI.COM — Sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau mengancam kesehatan masyarakat, mulai dari iritasi saluran cerna hingga risiko asfiksia fatal. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengingatkan partikel halus PM 2.5 mampu menembus alveolus paru dan memicu sesak napas akut. Warga diimbau membatasi aktivitas di ruang terbuka dan mengamankan pasokan air bersih.

Pakar pulmonologi dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, memaparkan lima potensi bahaya medis yang dapat muncul akibat paparan material vulkanik tersebut.

Ancaman Asfiksia dan Penetrasi Partikel PM 2.5 ke Paru

Bahaya paling fatal dari material erupsi adalah asfiksia atau kondisi tercekik akibat kekurangan oksigen. Menurut Tjandra, kondisi ekstrem ini rawan menimpa mereka yang terpapar konsentrasi abu sangat tinggi, terutama pada area yang berdekatan langsung dengan pusat letusan.

Selain risiko mati lemas, abu vulkanik sarat dengan partikel halus berukuran PM 2.5. Ukuran mikroskopis ini memungkinkan material terhirup hingga ke bagian terdalam sistem respirasi.

"Abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mencapai alveolus paru-paru," ujar Tjandra.

Penetrasi partikel tersebut memicu batuk, radang tenggorokan, hingga bronkitis. Bagi warga yang sudah memiliki riwayat penyakit paru kronis, paparan ini akan mempercepat perburukan kondisi klinis.

Bahaya Gas Belerang dan Kontaminasi Makanan

Material letusan tidak hanya berwujud debu padat, melainkan juga membawa senyawa kimia beracun seperti sulfur dioksida. Emisi gas vulkanik ini kerap menimbulkan efek langsung pada sistem saraf dan pernapasan tambahan, dengan gejala awal berupa pusing dan sakit kepala berat.

Dampak buruk abu vulkanik juga mengintai organ pencernaan masyarakat. Endapan debu yang jatuh berpotensi mengontaminasi stok bahan makanan terbuka serta jaringan penampungan air minum.

Ketika bahan konsumsi yang tercemar itu tertelan, senyawa dan partikel asing di dalamnya langsung memicu iritasi lambung serta infeksi saluran cerna.

Peradangan Kulit serta Risiko Konjungtivitis

Kontak fisik secara langsung dengan debu vulkanik juga berdampak pada integritas kulit dan organ penglihatan. Tekstur partikel padat yang tajam dapat menimbulkan rasa gatal, perih, hingga reaksi peradangan luar.

Pada tingkat paparan ekstrem tanpa proteksi mata, partikel abu berisiko menyebabkan konjungtivitis atau radang selaput mata. Gesekan material abu yang masuk ke rongga mata berpotensi menggores kornea bila tidak ditangani secara higienis.

Langkah Mitigasi Mandiri bagi Warga

Guna menekan angka morbiditas akibat abu erupsi Gunung Anak Krakatau, Tjandra menyarankan langkah proteksi ketat di tingkat rumah tangga:

  • Menjaga kebersihan dan menutup rapat wadah makanan serta sumber air minum keluarga.
  • Menghindari segala bentuk aktivitas di luar ruangan selama sebaran abu vulkanik masih pekat di udara.
  • Mengamankan pasokan kebutuhan dasar di dalam rumah untuk mengurangi kontak langsung dengan udara terbuka.

Langkah pencegahan ini menjadi krusial mengingat abu vulkanik yang masih melayang di udara dapat sewaktu-waktu terhirup dan memperberat beban fasilitas layanan kesehatan di sekitar wilayah terdampak.

Reporter: Redaksi