Pesantren Baitul Arqom Jember Kembangkan Pertanian dan Peternakan Santri

Santri Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember mengikuti kegiatan bercocok tanam di lingkungan pesantren.
Penulis: Wahyu
Minggu, 13 September 2026 | 08:01:01 WIB

KILASKINI.COMParagraf pembuka: Kegiatan bercocok tanam dan beternak di lingkungan pesantren itu tidak sekadar menghasilkan pangan. Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom, KH Izzat Fahd, menegaskan santri dilatih langsung mengelola pertanian dan peternakan agar punya keterampilan setelah lulus.

Menurut Kiai Izzat, pesantren punya potensi besar mengembangkan kegiatan produktif berbasis komunitas. Pertanian dan peternakan menjadi bekal keterampilan yang bisa terus dikembangkan santri selepas pendidikan formal.

Hasil Usaha untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Kiai Izzat menyebut hasil dari usaha tani dan ternak itu dirasakan langsung manfaatnya. Salah satunya untuk mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis yang menjadi fokus Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

"Para santri di Baitul Arqom tidak hanya dibekali keilmuan agama, tetapi juga dilatih secara langsung untuk bercocok tanam dan berternak. Hasil dari usaha ini dirasakan langsung manfaatnya, salah satunya untuk mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus Asta Cita Presiden Prabowo Subianto," kata Kiai Izzat dalam keterangan pers, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan itu ditopang pengelolaan wakaf dan sejumlah unit usaha pesantren. Badan Pengelola Penelitian dan Pengembangan Pesantren (BP3) Wakaf dan Amal Usaha Pondok Pesantren Baitul Arqom, Muhammad Imaduddin, menilai kemandirian ekonomi menjadi modal penting bagi pesantren.

Modal Kemandirian Ekonomi Pesantren

Imaduddin menyebut Baitul Arqom memiliki fondasi kuat dalam kemandirian usaha, baik lewat pengelolaan wakaf maupun potensi unit bisnis pesantren. Pihaknya menyatakan siap bersinergi dan mendukung program pemerintah.

"Pondok Pesantren Baitul Arqom memiliki fondasi yang sangat kuat dalam kemandirian usahanya, baik melalui pengelolaan wakaf maupun potensi unit bisnis pesantren. Kami siap bersinergi, berkontribusi, dan mendukung seluruh rencana serta program baik dari Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia yang berdikari, maju, dan sejahtera," kata Imaduddin.

Ia menilai pesantren dapat mengambil peran di luar pendidikan keagamaan melalui kegiatan ekonomi produktif. Pertanian, peternakan, dan usaha pangan disebut sebagai sektor yang bisa dikembangkan sesuai potensi tiap daerah.

Harapan Jadi Model Kemandirian Pangan

Baitul Arqom berharap pengembangan pertanian dan peternakan ini bisa ditiru pesantren atau komunitas lain. Sistem kemandirian pangan ala pesantren dinilai relevan menjaga keamanan pangan di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan kondisi El Nino yang berkepanjangan.

"Kami harap sistem kemandirian pangan ala pesantren dapat ditiru dan diikuti oleh lembaga pendidikan dan masyarakat lainnya, harapannya demi menjaga keamanan pangan kita di tengah naiknya harga sejumlah bahan pokok dan kondisi El Nino yang berkepanjangan," ujarnya.

Pengembangan sektor pangan di Baitul Arqom tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan internal pesantren. Kegiatan itu juga menjadi ruang bagi santri memperoleh pengalaman mengelola pertanian, peternakan, dan usaha pangan secara nyata.

Penutup: Langkah Baitul Arqom menunjukkan pesantren bisa berperan lebih luas dalam ketahanan pangan, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Jika model ini direplikasi, pesantren berpotensi menjadi penyangga pangan komunitas di daerah masing-masing.

Reporter: Wahyu