Gunung Fuji Catat 6 Pendaki Meninggal Musim 2026, Aturan Off-Season Diperketat

Pendaki berjalan menuju puncak Gunung Fuji saat musim pendakian 2026.
Penulis: Rendra
Senin, 14 September 2026 | 15:00:31 WIB

KILASKINI.COM — Musim pendakian Gunung Fuji resmi berakhir pada 10 September 2026. Sepanjang periode tersebut, enam pendaki dilaporkan meninggal dunia. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya, meski otoritas Jepang sudah memperketat aturan pendakian sejak 2024.

Peningkatan angka kematian terjadi bersamaan dengan lonjakan jumlah pendaki. Jalur Yoshida di sisi Prefektur Yamanashi mencatat lebih dari 175 ribu pendaki, naik sekitar 20 persen dari tahun lalu. Sementara di sisi Prefektur Shizuoka, 55 kecelakaan pendakian tercatat sepanjang Juli dan Agustus 2026.

Dua Pendaki Ditemukan Henti Jantung di Hari Terakhir Musim

Pada 9 September 2026, polisi Prefektur Shizuoka menemukan dua pendaki dalam kondisi henti jantung dan paru-paru. Keduanya mendaki seorang diri. Satu warga Jepang berusia sekitar 50-an tahun, satu lagi pria yang diduga warga Thailand berusia 60-an tahun.

Polisi tidak menemukan luka luar signifikan pada tubuh kedua korban. Kondisi cuaca ekstrem diduga menjadi faktor yang membuat mereka tidak mampu bertahan.

Hujan deras mengguyur Gunung Fuji sejak 8 hingga 9 September. Curah hujan di sekitar Stasiun Kelima Jalur Gotemba mencapai 52 milimeter per jam pada malam hari. Hujan berintensitas tinggi juga turun singkat di jalur Fujinomiya.

Angin 90 Km per Jam di Lereng Atas

Kecepatan angin di sejumlah titik mencapai 80 hingga 90 kilometer per jam. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan kondisi tersebut dapat membuat pendaki kesulitan berjalan. Lereng bagian atas gunung diterjang angin kencang saat hujan turun.

Perubahan cuaca berlangsung cepat. Sejumlah pendaki memilih membatalkan perjalanan ke puncak ketika kondisi memburuk.

Pendaki Pilih Turun Demi Keselamatan

Seorang pria asal Inggris berusia 34 tahun bersama temannya sempat menunda pendakian akibat cuaca buruk. Keduanya kembali mencoba mencapai puncak pada 10 September, tetapi angin yang semakin kencang membuat mereka mengubah rencana. Mereka memilih turun karena perjalanan ke puncak dinilai terlalu berisiko.

Keputusan serupa diambil seorang pria asal Prefektur Tottori yang mendaki bersama putranya. Keduanya mengurungkan niat mencapai puncak setelah cuaca tidak memungkinkan.

"Anak saya yang mengatur seluruh perjalanan, dan ini adalah pertama kalinya saya mendaki Gunung Fuji," ujarnya.

"Memang mengecewakan, tapi kita tidak bisa melawan alam," katanya menambahkan.

Aturan Ketat Belum Hilangkan Risiko

Prefektur Yamanashi memasang gerbang di Stasiun Kelima sejak 2024 dan menetapkan biaya pendakian 4.000 yen atau sekitar Rp 460 ribu. Pembatasan akses malam hari kembali berlaku pada musim 2026. Kebijakan ini menyasar praktik bullet climbing, yakni mendaki sepanjang malam demi mencapai puncak saat matahari terbit tanpa istirahat cukup.

Petugas menilai aturan tersebut berhasil mengurangi pendaki bullet climbing dan mereka yang datang tanpa perlengkapan memadai. Namun jumlah pendaki tetap naik.

Aturan Baru untuk Pendaki Off-Season

Jalur menuju puncak ditutup selama off-season dan tidak mendapat perawatan seperti saat musim pendakian. Cuaca lebih sulit diprediksi, dan petugas di pondok gunung minim. Kondisi ini menyulitkan proses penyelamatan saat terjadi keadaan darurat.

Prefektur Shizuoka mempertimbangkan kewajiban bagi pendaki off-season untuk melaporkan rencana perjalanan ke pemerintah setempat sebelum mendaki. Menurut SoraNews24, aturan tersebut berpotensi mencakup biaya penyelamatan atau sanksi bagi pendaki yang mengabaikan kewajiban hingga membutuhkan pertolongan.

Prefektur Yamanashi juga disebut tengah mencari mekanisme untuk memberikan konsekuensi kepada pendaki di luar musim yang memerlukan operasi penyelamatan.

Bagi traveler yang berencana mendaki Gunung Fuji, informasi terkini soal jadwal musim, tarif, dan regulasi off-season dapat dikonfirmasi via situs resmi pemerintah Prefektur Yamanashi atau Shizuoka sebelum berangkat.

Reporter: Rendra