BGN Copot Kepala SPPG Batang usai 219 Orang Keracunan MBG

BGN mencopot Kepala SPPG Batang Bawang Bawang dan menghentikan sementara operasional usai 219 orang mengalami gangguan kesehatan.
Penulis: Rendra
Jumat, 25 September 2026 | 09:20:31 WIB

KILASKINI.COM — Sebanyak 219 orang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang Bawang Bawang. Badan Gizi Nasional bergerak cepat mencopot kepala dapur dan menghentikan sementara operasional SPPG tersebut. Berikut kronologi lengkap dan langkah yang diambil pemerintah.

Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan keprihatinan mendalam kepada para penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang jatuh sakit usai mengonsumsi makanan dari SPPG Batang Bawang Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kejadian ini berlangsung pada 23 September 2026 dan hingga Kamis (24/9) pukul 03.00 WIB, jumlah korban terus bertambah.

219 Orang Terdampak, 132 Dirawat Inap

Data terbaru mencatat 219 orang mengalami gangguan kesehatan. Sebanyak 132 orang menjalani rawat inap, sementara 87 orang lainnya cukup menjalani rawat jalan di tujuh fasilitas kesehatan.

BGN memastikan angka ini masih bisa berubah seiring proses pendataan dan koordinasi di lapangan. Pemerintah Kabupaten Batang bersama fasilitas kesehatan setempat dan Tim Satgas MBG dikerahkan untuk memastikan penanganan berjalan terpadu.

Kepala SPPG Dicopot, Operasional Dihentikan Sementara

Sebagai langkah mitigasi, SPPG Batang Bawang Bawang dihentikan sementara dengan kategori suspend berat. BGN juga mencopot Kepala SPPG dari jabatannya.

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menjelaskan alasan di balik tindakan tegas tersebut. Menurutnya, ada dua pelanggaran berat yang ditemukan: pelanggaran SOP oleh dapur dan adanya makanan yang dibawa pulang oleh penerima manfaat.

"Kami sudah melakukan suspend dengan katagori berat, serta mencopot Kepala SPPG Bawang, disamping adanya adanya pelanggaran SOP oleh dapur, juga ada sebagian dibawa pulang oleh penerima manfaat yang juga merupakan pelanggaran berat, sehingga kita juga akan melakukan evaluasi secara penyeluruh, serta melakukan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait," ujar Ketut, dikutip dari laman resmi BGN, Jumat (25/9/2026).

Telur Diolah Pukul 19.30, Dipanaskan Ulang Pukul 02.30

Pemeriksaan awal menemukan sejumlah ketidakpatuhan terhadap standar operasional. Salah satunya adalah waktu pengolahan telur yang dilakukan terlalu awal, yakni pukul 19.30 WIB, sebelum kemudian dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB.

Selain itu, ditemukan pula kondisi kebersihan di beberapa bagian SPPG yang perlu mendapat perhatian. Temuan ini masih menjadi bagian dari proses investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penyebab kejadian.

Investigasi Menyeluruh, BGN Tak Mau Berspekulasi

BGN sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian, hingga distribusi. Ketut menegaskan pihaknya tidak ingin berspekulasi sebelum seluruh pemeriksaan selesai.

"Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua harus berdasarkan fakta dan hasil investigasi," tegas Ketut.

Evaluasi dan Tindakan Jika Ditemukan Pelanggaran

BGN akan mengevaluasi hasil pemeriksaan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG tersebut. Tindakan sesuai ketentuan akan diambil apabila ditemukan pelanggaran terhadap standar keamanan pangan dan operasional.

"Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi BGN. Kami akan memastikan proses penanganannya berjalan sampai tuntas dan menjadikan hasil investigasi sebagai dasar untuk melakukan perbaikan. Keamanan pangan tidak boleh dikompromikan. Apabila ditemukan pelanggaran, tentu akan ada tindakan sesuai ketentuan yang berlaku," pungkas Ketut.

Bagi para ibu yang anaknya menerima manfaat MBG, kejadian ini menjadi pengingat pentingnya memantau kondisi anak setelah makan. Jika muncul gejala seperti mual, muntah, diare, atau demam, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Simpan informasi kemasan atau jadwal distribusi makanan untuk membantu proses penanganan medis.

Reporter: Rendra