Rupiah Ditutup di Rp 17.966 per Dolar AS, Melemah 0,4% pada Kamis (1/10)

Rupiah ditutup melemah 0,4% ke Rp 17.966 per dolar AS pada Kamis (1/10).
Penulis: Doni
Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:01:01 WIB

KILASKINI.COM — Rupiah kembali tertekan dengan penutupan di level Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (1/10), melemah 0,4% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga turun 0,34% ke Rp 17.937 per dolar AS pada hari yang sama.

Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa sesi terakhir. Penurunan 0,4% pada Kamis (1/10) menambah tekanan bagi rupiah yang sebelumnya juga ditutup melemah.

Kurs Jisdor yang dirilis Bank Indonesia mencatat level Rp 17.937 per dolar AS, turun 0,34% dari sehari sebelumnya. Selisih tipis antara kurs Jisdor dan kurs pasar Bloomberg mencerminkan pergerakan yang konsisten di seluruh segmen perdagangan valas domestik.

Tekanan Global Masih Jadi Pendorong Utama

Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih kuatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global. Investor terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan dampaknya terhadap arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pergerakan kurs harian menjadi perhatian pelaku pasar valas, importir, dan investor asing yang memegang aset rupiah. Depresiasi yang berlanjut berpotensi mempengaruhi biaya impor dan imbal hasil investasi dalam denominasi dolar.

Jisdor dan Bloomberg Kompak Tunjukkan Pelemahan

Dua acuan kurs utama sama-sama mengonfirmasi arah pelemahan rupiah. Kurs Jisdor yang ditetapkan Bank Indonesia berada di Rp 17.937, sementara data Bloomberg mencatat penutupan di Rp 17.966 per dolar AS.

  • Kurs Bloomberg: Rp 17.966 per dolar AS, melemah 0,4%
  • Kurs Jisdor: Rp 17.937 per dolar AS, turun 0,34%
  • Arah pergerakan: konsisten melemah di kedua acuan

Selisih antara kedua acuan berada di kisaran 29 poin, mencerminkan likuiditas pasar valas domestik yang tetap terjaga meski dalam tekanan.

Yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar Selanjutnya

Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada sentimen global, terutama data ekonomi AS dan arah suku bunga Federal Reserve. Pelaku pasar juga menantikan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs.

Bagi importir dan perusahaan dengan utang valas, pelemahan ini menjadi sinyal untuk memperhitungkan ulang kebutuhan lindung nilai. Sementara eksportir berpotensi mendapat manfaat dari penerimaan dolar yang lebih tinggi bila tren berlanjut.

Reporter: Doni