Anak Sering Lapar Usai Makan Mi dan Roti? Dokter Gizi Ungkap Sebabnya
KILASKINI.COM — Mi dan roti jadi menu favorit banyak keluarga Indonesia, tapi tak jarang anak minta makan lagi tak lama setelahnya. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan kenapa olahan tepung terigu bikin cepat lapar, plus trik sederhana agar kalori tak menumpuk jadi lemak.
Mi instan, roti tawar, sampai mi ayam kerap jadi penyelamat saat anak susah makan. Tapi ibu mungkin pernah bingung, kenapa baru satu jam selesai makan, si kecil sudah bilang lapar lagi.
Jawabannya ada pada cara tubuh memproses karbohidrat olahan. Dokter gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, membeberkan mekanismenya dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).
Kenapa Olahan Terigu Bikin Cepat Lapar
Tepung terigu termasuk karbohidrat olahan yang dicerna tubuh dengan sangat cepat. Kadar gula darah pun melonjak naik dalam waktu singkat, lalu diikuti kenaikan hormon insulin.
"Sama, dia juga selain cepat meningkatkan berat badan, dia juga cepat meningkatkan insulin, meningkatkan glukosa darah. Jadi memang kalau bisa mulai dihindari, atau kita batasi pelan-pelan," ujar dr Yaze.
Masalahnya tidak berhenti di lonjakan gula darah. Setelah insulin naik tinggi, kadarnya justru turun drastis beberapa saat kemudian.
"Kenapa bisa meningkatkan berat badan? Karena setelah itu akan spike insulinnya. Habis itu langsung drop lagi, turun insulin. Nah, di situ kita jadinya cepat lapar lagi, pengen makan lagi," terangnya.
Kalori Berlebih Bisa Berubah Jadi Lemak
Rasa lapar yang datang lagi membuat asupan kalori bertambah tanpa disadari. Kalau energi itu tidak segera dipakai untuk beraktivitas, sisa glukosa dalam tubuh akan disimpan sebagai cadangan.
"Jadi, habis itu dia tersimpannya pun, kalau misalnya kamu enggak ada olahraga, dia tersimpannya dalam bentuk jaringan lemak," tambah dr Yaze.
Inilah alasan olahan terigu sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan. Bukan karena tepungnya sendiri berbahaya, tapi karena siklus lapar datang lagi setelah makan yang membuat porsi makan berikutnya ikut membengkak.
Cara Siasati agar Kalori Tak Menumpuk
Ada trik sederhana yang bisa ibu coba di rumah. Setelah makan, ajak anak bergerak ringan supaya glukosa dari makanan langsung dipakai otot sebagai energi.
"Sama ada tips juga nih yang aku kasih buat kalian. Jadi kalau misalnya habis makan, boleh banget misalnya habis itu jalan sekitar 10 sampai 15 menit," beber dr Yaze.
"Jadi makanan yang habis kita makan itu enggak sempat tersimpan ke jaringan lemak, tapi langsung dipakai otot untuk glukosanya ini dijadikan energi," paparnya.
Jalan kaki santai keliling rumah atau komplek selama 10-15 menit sudah cukup. Tidak perlu olahraga berat, yang penting tubuh tetap bergerak setelah makan.
Jangan Jadikan Olahraga sebagai Hukuman
Meski aktivitas fisik setelah makan bermanfaat, dr Yaze mengingatkan agar ibu tidak memaknainya sebagai hukuman atas makanan yang baru disantap.
"Tapi bukan berarti si olahraga ini dijadiin hukuman ya. Jadi misalnya kayak habis makan mi ayam, terus habis itu olahraga 2 jam, itu enggak boleh juga," pungkas dr Yaze.
Prinsipnya, olahraga adalah kebiasaan sehat yang menyenangkan, bukan kompensasi rasa bersalah. Untuk anak, cara ini juga membantu membangun hubungan positif dengan makanan sejak dini.
Yang Perlu Ibu Perhatikan
Membatasi olahan terigu bukan berarti menghapusnya dari menu keluarga. Ibu bisa mengatur porsinya, menambahkan sumber protein dan serat seperti telur, ayam, sayur, atau buah agar rasa kenyang bertahan lebih lama.
Kalau anak menunjukkan kenaikan berat badan berlebih atau sering mengeluh lapar meski baru makan, konsultasi dengan dokter gizi bisa membantu menyusun pola makan yang lebih sesuai.
Mengatur porsi olahan terigu, menambah serat dan protein, plus jalan kaki 10-15 menit setelah makan, jadi langkah kecil yang bisa ibu mulai hari ini untuk menjaga berat badan anak tetap sehat.