IHSG Terkoreksi 3,28% Pekan Ini, LQ45 Jatuh Lebih Dalam 4,13%
KILASKINI.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 3,28% secara point-to-point sepanjang pekan ini, lebih dalam dibanding koreksi 3,09% pada pekan sebelumnya. Bursa Efek Indonesia mencatat indeks LQ45 ikut ambruk 4,13%, sementara rata-rata volume perdagangan justru melonjak 72,51% menjadi 50,37 miliar unit saham yang didominasi aksi jual investor asing.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan IHSG bergerak di rentang 5.973,16 hingga 6.227,9 sepanjang pekan ini. Posisi terendah indeks menyentuh level 5.973,16, sementara titik tertingginya hanya mencapai 6.227,9.
Koreksi indeks utama pekan ini lebih dalam ketimbang pekan lalu. Sebelumnya, IHSG sudah ambruk 3,09% secara point-to-point, dan pekan ini terpangkas lagi 3,28%.
LQ45 Terkoreksi Lebih Dalam dari IHSG
Indeks LQ45 yang menghimpun saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid mencatat penurunan lebih tajam. Sepanjang pekan ini, LQ45 merosot 4,13%, memperlebar koreksi dari pekan sebelumnya yang turun 3%.
Kinerja LQ45 yang lebih buruk dari IHSG mengindikasikan tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham unggulan. Investor asing tercatat melakukan aksi jual masif di pasar reguler sepanjang periode ini.
Volume Perdagangan Melonjak 72,51%
Di tengah tekanan jual, aktivitas perdagangan justru meningkat signifikan. Rata-rata volume perdagangan harian melonjak 72,51% dibandingkan pekan lalu menjadi 50,37 miliar unit saham.
Lonjakan volume tersebut mengindikasikan tingginya intensitas transaksi yang didominasi aksi jual. Investor cenderung melepas kepemilikan saham di tengah ketidakpastian pasar.
Tekanan Jual Asing dan Koreksi Dua Pekan Beruntun
Koreksi IHSG pekan ini menandai pekan kedua berturut-turut dalam zona merah. Aksi jual investor asing menjadi faktor utama yang menekan indeks, seiring minimnya sentimen positif di pasar domestik.
Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar tercermin dari kinerja LQ45 yang turun lebih dalam dari IHSG. Saham-saham unggulan yang biasanya menjadi buruan investor justru menjadi sasaran pelepasan.
Bagi investor, koreksi dua pekan beruntun ini menjadi sinyal perlunya mencermati arus dana asing dan sentimen global sebelum mengambil posisi. Volume perdagangan yang melonjak menunjukkan pasar masih aktif, meski arahnya didominasi tekanan jual.