Anemia pada Anak Masih Tinggi, IDAI Ingatkan Pentingnya Protein Hewani

Anggota Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, menjelaskan penyebab utama anemia pada anak dalam konferensi pers daring.
Penulis: Doni
Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:20:31 WIB

KILASKINI.COM — Kasus anemia pada anak dan remaja di Jakarta dan Bekasi masih jadi pekerjaan rumah besar bagi para orang tua. Penelitian IDAI menemukan sekitar 14 persen anak usia sekolah mengalami anemia, sementara defisiensi besi tanpa anemia justru lebih tinggi lagi. Simak penjelasan lengkap soal pemicu dan cara mencegahnya lewat asupan sehari-hari.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, mengungkap bahwa kekurangan zat besi jadi penyebab utama anemia pada anak. Kebutuhan zat besi paling tinggi terjadi pada dua kelompok usia: bayi dan remaja.

Pada masa-masa itu, tubuh anak mengalami percepatan pertumbuhan. Artinya, kebutuhan zat besi ikut melonjak dan rawan tidak terpenuhi dari makanan sehari-hari.

Mengapa Defisiensi Besi Perlu Jadi Prioritas

Murti menyebut defisiensi zat besi menyumbang sekitar 30 sampai 50 persen dari keseluruhan kasus anemia. Angka itu menjadikannya target utama jika ingin menurunkan prevalensi anemia secara nasional.

"Jadi penyebab anemia itu yang terbanyak adalah defisiensi besi. Sehingga kalau kita mau menurunkan angka kejadian anemia, yang utama prioritasnya adalah mengatasi defisiensi besi," jelas Murti dalam konferensi pers daring, Selasa (6/10/2026).

Ia juga mengaitkan masalah ini dengan kondisi ekonomi sebuah negara. Menurutnya, kebutuhan besi yang tinggi hanya bisa dipenuhi dari sumber protein hewani yang tidak selalu mudah diakses semua keluarga.

Sumber Zat Besi Terbaik untuk Anak

Telur, hati, dan daging merah menjadi tiga sumber protein hewani yang direkomendasikan Murti. Ketiganya mengandung zat besi dalam jumlah tinggi dan mudah diserap tubuh anak.

Pemberian sumber protein hewani bisa dimulai sejak bayi masuk masa MPASI. Murti menegaskan momen ini sangat menentukan karena bayi sedang butuh asupan besi besar-besaran.

"Ketika orang tua sejak awal sudah bisa memberikan protein hewani seperti telur, hati, daging merah kepada bayi-bayi pada saat mereka mulai untuk mendapatkan MPASI, akan memberikan zat besi yang sangat tinggi," ujarnya.

Anemia Bisa Muncul Sejak Bayi 4 Bulan

Data IDAI menunjukkan anemia sudah dapat ditemukan pada bayi berusia 4 bulan. Prevalensinya berada di kisaran 20 sampai 30 persen, lalu meningkat hingga sekitar 40 persen pada usia 9 sampai 12 bulan.

Defisiensi besi tanpa anemia angkanya lebih besar lagi, mencapai sekitar 30 persen. Pada usia 9 bulan, anemia defisiensi besi berada di kisaran 20 sampai 25 persen sebelum naik pada usia berikutnya.

Temuan ini penting dicatat orang tua. Sebab, bayi yang tampak sehat dan aktif belum tentu bebas dari masalah kekurangan zat besi.

Data Terbaru dari Jakarta dan Bekasi

Penelitian IDAI di wilayah Jakarta dan Bekasi menemukan anemia masih ada pada kelompok usia sekolah hingga remaja. Pada anak usia 6 sampai 12 tahun, sekitar 14 persen mengalami anemia.

Angka tersebut tercatat 13,1 persen pada kelompok usia 6 sampai 18 tahun, dan sekitar 10 persen pada usia 10 sampai 21 tahun. Sementara prevalensi defisiensi besi justru lebih tinggi: 14,8 persen pada anak usia 6 sampai 12 tahun, 18,8 persen pada usia 6 sampai 18 tahun, dan 20 persen pada usia 10 sampai 21 tahun.

Artinya, masalah kekurangan zat besi tidak berhenti saat anak lepas dari masa bayi. Ia bisa terbawa sampai usia sekolah dan remaja jika asupan harian tidak diperbaiki.

Kenali Gejala Anemia pada Anak

Murti menjelaskan anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal untuk kelompok usia tertentu. Hemoglobin di sel darah merah bertugas membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.

Saat kadarnya turun, kondisi klinis anak bisa terpengaruh. Gejala yang muncul biasanya lelah, lemah, dan letih yang tidak wajar untuk anak seusianya.

"Jadi kalau misalnya Hb-nya turun tentu akan berdampak juga pada yang mengidap anemia. Jadi akan terlihat kalau misalnya kita dulu ada lelah, lemah, letih," pungkasnya.

Kapan Perlu ke Dokter

Jika anak terlihat pucat, mudah lelah, lesu, atau tidak bersemangat bermain seperti biasanya, jangan tunggu lama. Konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan kadar hemoglobin.

Pemeriksaan ini penting terutama jika anak termasuk kelompok berisiko: bayi usia 4 sampai 12 bulan, anak usia sekolah, dan remaja yang sedang tumbuh cepat. Deteksi dini membuat penanganan jauh lebih mudah.

Mulai dari meja makan, langkah kecil seperti menambahkan telur atau hati ke menu harian anak bisa memberi dampak besar untuk tumbuh kembangnya. Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan asupan gizi si kecil sudah tepat.

Reporter: Doni