Harga Laptop 2027 Diprediksi Naik, Biaya RAM dan Prosesor Jadi Pemicu

Laptop kelas menengah senilai USD 900 dengan komponen prosesor, DRAM, dan SSD yang menyumbang 68% biaya material.
Penulis: Doni
Senin, 12 Oktober 2026 | 10:21:01 WIB

KILASKINI.COM — TrendForce memprediksi harga laptop 2027 naik akibat mahalnya RAM, SSD, dan prosesor. Pada kuartal III 2026, ketiga komponen itu sudah menelan 68% biaya material laptop kelas menengah senilai USD 900. Produsen kini terjepit antara menaikkan harga atau memangkas spesifikasi.

Lembaga riset pasar TrendForce memperingatkan tekanan biaya produksi laptop yang dipicu kenaikan harga RAM, SSD, dan prosesor. Dalam laporan yang dirilis 8 Oktober 2026, TrendForce menyebut komponen tersebut bakal menjadi tantangan utama industri laptop pada 2027.

Produsen laptop menghadapi dua pilihan yang sama-sama berisiko. Menaikkan harga jual berpotensi melemahkan permintaan, sementara menanggung kenaikan biaya akan menggerus margin keuntungan.

Berapa Besar Kenaikan Biaya Komponen

TrendForce mencontohkan laptop kelas menengah dengan harga jual USD 900 atau sekitar Rp 15 jutaan. Pada kuartal III 2026, biaya prosesor, DRAM, dan SSD sudah menyumbang sekitar 68% dari total biaya material perangkat tersebut.

Artinya, setiap kenaikan harga ketiga komponen itu langsung memberikan tekanan besar terhadap total biaya produksi. Produsen pun semakin sulit mempertahankan harga jual, spesifikasi, dan keuntungan secara bersamaan pada 2027.

Permintaan Memori AI Ikut Menekan Pasokan RAM

Tekanan harga RAM tidak datang dari sisi konsumen biasa. Produsen chip semakin banyak mengalokasikan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan server kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.

Akibatnya, pasokan DRAM untuk komputer pribadi berisiko tumbuh terbatas sepanjang 2027. Situasi berbeda terjadi pada NAND Flash yang dipakai di SSD — pasokannya diperkirakan mulai membaik pada paruh kedua 2027 seiring bertambahnya kapasitas produksi.

Komponen lain juga ikut mahal. Harga papan sirkuit cetak (PCB), kapasitor, dan chip pengelola daya naik, diperparah oleh kenaikan bahan baku serta persoalan geopolitik yang memperumit rantai pasokan.

Penjualan Laptop Global Terancam Turun

TrendForce memperkirakan pengiriman laptop global pada 2027 turun dalam kisaran persentase satu digit rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika harga DRAM dan prosesor tetap tinggi dan kenaikan biaya dibebankan ke konsumen, penurunan pengiriman bisa memburuk hingga kisaran satu digit tinggi.

Konsumen berpotensi menunda pembelian atau memakai laptop lama lebih lama. Kondisi ini berbeda dengan 2026, ketika pengiriman laptop masih terbantu ketersediaan prosesor yang membaik dan pembelian lebih awal oleh produsen maupun konsumen.

Pilihan Memangkas Spesifikasi

Selain menaikkan harga, produsen bisa mengurangi spesifikasi perangkat, misalnya kapasitas RAM, agar biaya produksi tetap terkendali. Namun, langkah itu berisiko membuat produk kurang kompetitif di pasaran.

"Produsen menghadapi pilihan sulit. Menaikkan harga jual berisiko melemahkan permintaan, sementara menanggung kenaikan biaya akan menekan margin keuntungan," ungkap TrendForce dalam laporannya.

Bagaimana Dampaknya ke Pasar Indonesia

Kenaikan harga laptop belum menjadi kepastian untuk seluruh pasar, termasuk Indonesia. Besarnya perubahan harga akan bergantung pada strategi masing-masing produsen, kondisi pasokan komponen, dan perkembangan permintaan konsumen di tiap negara.

Bagi pelaku bisnis digital dan konsumen yang berencana membeli perangkat baru, laporan TrendForce ini menjadi sinyal untuk mempertimbangkan waktu pembelian. Pasokan DRAM yang terbatas hingga 2027 membuat peluang harga turun dalam waktu dekat relatif kecil.

Reporter: Doni