Uni Eropa Batasi Impor Mobil Hybrid China, Kuota 350 Ribu Unit Mulai 2027

Uni Eropa menyiapkan kuota impor 350 ribu unit mobil hybrid China mulai 2027.
Penulis: Doni
Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:41:01 WIB

KILASKINI.COM — Uni Eropa berencana menetapkan kuota impor 350 ribu unit mobil hybrid buatan China pada 2027. Kebijakan ini menyusul tarif impor mobil listrik China yang membuat sejumlah produsen mengalihkan fokus ke hybrid dan plug-in hybrid. Kesepakatan ini diklaim bisa memangkas defisit perdagangan UE-China hingga 14 miliar euro atau sekitar Rp 280 triliun.

Uni Eropa mengambil langkah baru untuk menahan laju penetrasi merek otomotif China di pasar mereka. Setelah sebelumnya memberlakukan tarif impor terhadap mobil listrik (EV) buatan China, blok tersebut kini menyiapkan pembatasan serupa untuk kendaraan hybrid dan plug-in hybrid.

Rencana pembatasan ini masih menunggu persetujuan negara-negara anggota UE. Angka finalnya pun belum diputuskan, namun arah kebijakannya sudah jelas: membatasi volume kendaraan hybrid China yang masuk ke Eropa.

Kuota 350 Ribu Unit dan Kenaikan 6% per Tahun

Mengutip laporan Bloomberg, UE berencana menetapkan kuota impor 350 ribu unit mobil hybrid China pada 2027. Jumlah tersebut akan naik sekitar 6% setiap tahunnya.

Sementara Financial Times melaporkan angka kuota tahun depan kemungkinan berada di kisaran 500-700 ribu unit. Sebagai perbandingan, sekitar 800 ribu unit mobil hybrid buatan China masuk ke Eropa sepanjang 2026.

Pangsa Pasar Mobil China Melonjak Tajam

Lonjakan impor itu tercermin dari data penjualan. Pada semester pertama 2026, mobil plug-in hybrid asal China menguasai 25% penjualan di segmen tersebut di Eropa. Angka itu naik drastis dari hanya 2% pada 2024.

Di segmen hybrid secara keseluruhan, pangsa mobil China mencapai 14%, meningkat dari 2% pada periode yang sama tahun 2024. Pertumbuhan secepat ini yang membuat produsen Eropa mendesak adanya perlindungan.

Menghindari Perang Dagang yang Lebih Luas

Negosiasi pembatasan impor ini dirancang untuk mencegah konflik dagang yang lebih besar. China dilaporkan sepakat tidak membalas kebijakan tersebut.

UE memperkirakan kesepakatan ini bisa mengurangi defisit perdagangan dengan China hingga 14 miliar euro atau setara Rp 280 triliunan. Angka itu menjadi salah satu alasan utama di balik dorongan pembatasan ini.

Pabrik Lokal Jadi Celah Produsen China

Kuota tersebut hanya berlaku untuk mobil yang diekspor langsung dari China, bukan kendaraan yang diproduksi di dalam kawasan Eropa. Kondisi ini membuka jalan bagi produsen China untuk tetap agresif di pasar setempat.

BYD sudah memiliki pabrik di Hungaria. Chery, Geely, Dongfeng, dan Leapmotor juga tengah mengembangkan fasilitas produksi di Eropa. Dengan memproduksi secara lokal, mereka bisa melewati batasan kuota impor yang sedang dirancang.

Bagi konsumen Eropa, pembatasan ini berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga mobil hybrid China dalam beberapa tahun ke depan. Namun selama produsen China mempercepat pembangunan pabrik lokal, dampaknya bisa jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.

Reporter: Doni