Dampak Psikologis Anak Ditinggal Tanpa Pengawasan dan Cara Menjaganya

Psikolog anak menjelaskan dampak psikologis yang dapat muncul ketika anak ditinggal tanpa pengawasan orang dewasa.
Penulis: Wahyu
Senin, 26 Oktober 2026 | 09:40:31 WIB

KILASKINI.COM — Dua peristiwa belakangan ini kembali menyorot risiko meninggalkan anak tanpa pengawasan orang dewasa. Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo dan Sani Budiantini Hermawan menjelaskan dampak psikologisnya, dari rasa takut hingga gangguan tidur, plus cara orang tua membangun rasa aman anak sesuai usianya.

Dua peristiwa belakangan ini kembali menyorot risiko meninggalkan anak tanpa pengawasan orang dewasa, meski hanya sebentar. Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menyebut anak yang terbangun atau berada di tempat asing sendirian bisa merasakan ketakutan luar biasa.

Rasa aman yang hilang itu bukan perkara kecil. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi perilaku anak di masa depan, mulai dari sikap lekat berlebihan sampai gangguan tidur.

Mengapa Anak Merasa Takut Saat Ditinggal Sendiri

Anak belum punya kemampuan memahami situasi dan menenangkan dirinya seperti orang dewasa. Vera, lulusan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa terbangun sendirian di tempat asing bisa terasa sangat menakutkan bagi anak.

Karena itu, respons orang tua setelah kejadian menentukan. Menurut Vera, tidak semua kejadian otomatis menimbulkan trauma berkepanjangan. Dampak akhirnya bergantung pada situasi, usia anak, serta bagaimana pengasuh menenangkan anak setelahnya.

Dampak Psikologis yang Perlu Ibu Waspadai

Vera menyebut beberapa dampak yang mungkin muncul setelah anak ditinggal tanpa pengawasan. Anak bisa menjadi lebih lekat (clingy) dengan orang tua, mengalami gangguan tidur, hingga munculnya ketakutan berlebih saat harus berpisah.

Psikolog anak dan remaja Sani Budiantini Hermawan, S.Psi., menambahkan bahwa dampak ini sangat dipengaruhi faktor usia dan tingkat kematangan anak. Anak yang tiba-tiba ditinggal tanpa pengawasan cenderung merasa bingung, khawatir, hingga panik.

"Dampak ke depannya bisa membuat anak menjadi tidak percaya atau membangun rasa tidak aman kepada orang dewasa. Hal ini justru membuat anak malah menjadi terlalu lekat, enggan berpisah, atau bahkan marah saat ditinggalkan," jelas Sani.

Bukan Hanya Soal Mental, Ini Soal Keselamatan

Pengawasan orang dewasa menyangkut dua hal sekaligus: kondisi psikologis dan keselamatan nyawa anak. Dua peristiwa menonjol yang menjadi sorotan publik belakangan ini menunjukkan bahwa kelalaian pengawasan bisa berujung fatal.

Karena itu, meninggalkan anak sendiri perlu dipertimbangkan matang-matang. Usia anak, kematangan emosinya, dan keamanan lingkungan tempat tinggal adalah tiga hal yang wajib dicek sebelum ibu memutuskan pergi sebentar.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Orang tua perlu waspada jika perubahan perilaku anak bersifat menetap atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, Vera menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

Peran orang tua setelah kejadian juga krusial: membantu anak menenangkan diri agar kembali merasa aman. Pelukan, kehadiran, dan penjelasan sederhana sesuai usia anak bisa membantu memulihkan rasa amannya.

Kunci Me Time Tanpa Mengabaikan Anak

Kedua psikolog menekankan pentingnya kerja sama pengasuhan atau support system. Dengan dukungan keluarga atau pengasuh yang dipercaya, orang tua tetap bisa menikmati waktu sendiri tanpa mengorbankan keselamatan anak.

Sebelum menitipkan anak, pastikan pengasuh memahami rutinitas dan kebutuhan anak. Untuk anak yang lebih besar, jelaskan dengan jujur ke mana ibu pergi dan kapan akan kembali agar anak tidak merasa ditinggalkan tanpa kepastian.

Rasa aman anak dibangun dari hal-hal kecil yang konsisten: kehadiran yang bisa diandalkan, penjelasan yang jujur, dan respons tenang saat anak takut. Pengawasan yang baik bukan berarti ibu tidak pernah lepas dari anak, melainkan memastikan selalu ada orang dewasa yang bisa diandalkan saat ibu tidak ada.

Reporter: Wahyu