Pencarian

Kapal Feri MV June Aster Terbakar di Filipina: 77 Tewas, Baterai EV Bukan Pemicu

Rabu, 30 September 2026 • 10:00:31 WIB
Kapal Feri MV June Aster Terbakar di Filipina: 77 Tewas, Baterai EV Bukan Pemicu
Kapal feri MV June Aster terbakar dalam perjalanan dari Manila menuju Coron, Palawan.

KILASKINI.COM — Penyelidikan awal MARINA menunjukkan kebakaran MV June Aster yang menewaskan 77 orang bukan dipicu baterai mobil listrik. Muatan mudah terbakar yang tidak disimpan sesuai prosedur justru jadi penyebab utama. Sejumlah operator feri Filipina pun melarang sementara pengangkutan kendaraan listrik.

Kepala MARINA Wilayah IV, Maximo Bañares Jr., mengungkap temuan awal lembaganya terkait kebakaran kapal MV June Aster. Kapal yang dioperasikan Atienza Inter-Island Ferries itu terbakar pada 9 September 2026 dalam perjalanan dari Manila menuju Coron, Palawan.

Insiden tersebut menewaskan 77 orang dan sejumlah lainnya masih dinyatakan hilang. Spekulasi awal sempat mengarah ke baterai kendaraan listrik yang ikut diangkut kapal, setelah para penyintas melaporkan mendengar ledakan keras dari dek kargo.

Muatan Mudah Terbakar Jadi Fokus Penyelidikan

Pernyataan Bañares menepis dugaan bahwa baterai EV menjadi pemicu kebakaran. Menurutnya, kapal mengangkut banyak muatan mudah terbakar yang tidak diamankan sesuai prosedur standar.

"Saya tidak ingin mendahului pengumuman laporan resmi, tetapi terdapat banyak muatan mudah terbakar di dalam kapal. Dan muatan tersebut tidak diamankan dengan semestinya," ujar Bañares.

Ia menambahkan bahwa muatan jenis ini seharusnya tidak ditempatkan dekat area penumpang. Tim penyelidik MARINA tengah menelusuri bagaimana prosedur penyimpanan diterapkan di kapal tersebut.

Kenapa Baterai EV Sempat Dituding

Ledakan yang dilaporkan penyintas dari dek kargo memicu kekhawatiran soal risiko thermal runaway pada baterai kendaraan listrik. Fenomena ini terjadi ketika suhu baterai naik tak terkendali dan sulit dipadamkan dengan alat pemadam konvensional.

Kekhawatiran itu mendorong Penjaga Pantai Filipina dan Departemen Energi (DOE) melakukan penyelidikan terpisah. Namun hingga temuan awal MARINA keluar, belum ada bukti yang mengaitkan baterai EV dengan titik awal kebakaran.

Operator Feri Larang Angkut EV Sementara

Sejumlah perusahaan pelayaran di Filipina mengeluarkan larangan sementara pengangkutan kendaraan listrik dengan kapal feri. Kebijakan ini berlaku selama penyelidikan berlangsung.

Larangan tersebut bersifat sementara dan belum ada keputusan resmi soal status jangka panjangnya. Penyelidikan masih dilanjutkan oleh Penjaga Pantai Filipina, Biro Perlindungan Kebakaran, dan Kepolisian Nasional Filipina.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Laporan resmi MARINA belum diumumkan penuh, temuan Bañares masih bersifat indikasi awal
  • Penyelidikan terpisah dari Penjaga Pantai, Biro Perlindungan Kebakaran, dan Kepolisian masih berjalan
  • Larangan pengangkutan EV oleh operator feri Filipina bersifat sementara, belum ada keputusan permanen
  • Penyebab pasti kebakaran belum dipastikan sampai laporan resmi keluar

Dampak untuk Pengguna EV di Indonesia

Insiden ini menyoroti pentingnya standar penanganan kendaraan listrik di moda transportasi laut. Filipina dan Indonesia sama-sama negara kepulauan yang mengandalkan feri untuk mobilitas antarpulau, termasuk pengiriman kendaraan.

Belum ada pernyataan resmi dari otoritas Indonesia soal evaluasi prosedur pengangkutan EV di kapal feri. Namun isu keselamatan baterai di ruang tertutup seperti dek kargo kapal tetap relevan untuk dipantau, terutama seiring meningkatnya populasi kendaraan listrik di dalam negeri.

Temuan awal MARINA menegaskan bahwa penyebab kebakaran kapal bukan selalu soal teknologi baterai. Prosedur penyimpanan muatan berbahaya yang tidak sesuai standar justru jadi faktor yang perlu diperiksa lebih dulu dalam kasus ini.

Sumber: oto.detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks