KILASKINI.COM — Ceer Exobot membawa performa yang jarang ditemui di segmen sedan listrik: tiga motor listrik dengan total 1.111 HP dan torsi 1.500 Nm, cukup untuk melesat 0-100 km/jam dalam 2,1 detik. Merek asal Arab Saudi ini memastikan versi produksinya dibangun di King Abdullah Economic City, bukan sekadar mobil konsep. Tapi di balik angka brutal itu, ada sejumlah catatan yang perlu dicermati sebelum Anda membayangkan memarkirnya di garasi.
Ceer bukan nama yang akrab di telinga penggemar otomotif Indonesia. Perusahaan ini merupakan patungan dengan Foxconn, dan Exobot menjadi produk pertamanya. Sistem penggeraknya disebut memakai teknologi dari BMW. Dua model diperkenalkan sekaligus: sedan dan SUV, keduanya mengusung nama Exobot.
Yang paling mencolok dari Exobot adalah klaim kaca depan terbesar yang pernah dipasang pada mobil produksi, dengan panjang mencapai 2,4 meter. Desainnya futuristis, dengan bagian kaca depan yang sangat landai dan menyatu dengan kap mesin.
Desain Radikal dengan Pintu Gullwing Shahin Wing
Lampu depan dibuat pipih, memperkuat kesan kendaraan konsep. Ceer menambahkan pintu model gullwing yang mereka sebut Shahin Wing Doors, terinspirasi dari burung elang khas Arab Saudi.
Kombinasi kaca landai dan pintu gullwing membuat Exobot tampil berbeda dari mayoritas EV di pasaran. Namun desain seekstrem ini biasanya menimbulkan pertanyaan praktis: seberapa mudah masuk-keluar kabin di parkiran basement dengan plafon rendah, dan bagaimana ketahanan mekanisme gullwing dalam pemakaian harian jangka panjang. Ceer belum mengungkap detail soal itu.
Performa: 1.111 HP dan Torsi 1.500 Nm
Versi tertinggi Exobot memakai tiga motor listrik dengan tenaga gabungan 1.111 HP dan torsi 1.500 Nm. Sedan diklaim mampu berakselerasi 0-100 km/jam dalam 2,1 detik, dengan kecepatan maksimum 250 km/jam.
Versi SUV sedikit di bawahnya: 0-100 km/jam dalam 2,4 detik dan kecepatan maksimum 210 km/jam. Untuk tahap awal, Exobot dijual dalam varian First Edition dengan tenaga 850 HP dan torsi 1.000 Nm.
- Sedan Exobot: 0-100 km/jam 2,1 detik, top speed 250 km/jam
- SUV Exobot: 0-100 km/jam 2,4 detik, top speed 210 km/jam
- Varian First Edition: 850 HP, torsi 1.000 Nm
- Konfigurasi tertinggi: tiga motor listrik, 1.111 HP, 1.500 Nm
Angka 2,1 detik menempatkan sedan Exobot sejajar dengan hypercar listrik kelas atas. Pertanyaannya, seberapa sering pemilik benar-benar memakai mode performa penuh di jalan raya biasa. Untuk pasar seperti Indonesia, angka ini lebih berfungsi sebagai simbol kemampuan teknis ketimbang kebutuhan nyata.
Baterai 112 kWh dan Arsitektur 800 Volt
Kedua model dibekali baterai berkapasitas 112 kWh. Sedan memiliki jarak tempuh hingga 670 km, sedangkan SUV mencapai 560 km. Sistem kelistrikannya memakai arsitektur 800 volt.
Pengisian baterai dari 10-80 persen diklaim membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. Arsitektur 800 volt memang menjadi standar baru di segmen EV premium karena memungkinkan pengisian daya lebih cepat tanpa kabel yang terlalu tebal.
Catatan pentingnya: angka 670 km dan 560 km itu masih klaim pabrikan. Jarak tempuh riil biasanya lebih rendah, terutama di negara bersuhu panas karena sistem pendingin kabin dan baterai bekerja lebih keras.
Uji Suhu Ekstrem: Kabin 65 Derajat ke 32 Derajat dalam 10 Menit
Kaca yang sangat luas menimbulkan masalah di negara bersuhu ekstrem seperti Arab Saudi. Ceer mengatasinya dengan kaca berlapis perak tiga lapis serta sistem pendingin kabin berdaya besar.
Teknologi tersebut diklaim mampu menurunkan suhu kabin dari 65 derajat Celsius menjadi 32 derajat Celsius hanya dalam 10 menit. Klaim ini menarik karena masalah kabin panas adalah keluhan umum pemilik EV di iklim tropis, termasuk Indonesia. Sayangnya, Ceer belum merinci berapa besar daya yang disedot sistem pendingin tersebut dan seberapa besar dampaknya terhadap jarak tempuh.
Interior: Layar 48 Inci dan Setir Yoke
Interior Exobot membawa nuansa mobil masa depan. Ada layar sepanjang 48 inci di bagian atas dashboard, layar infotainment utama 10,4 inci, serta layar 8 inci untuk penumpang belakang.
Setirnya memakai model yoke, bukan lingkar bulat konvensional. Ceer juga menyematkan asisten suara berbasis kecerdasan buatan. Perusahaan menjanjikan fitur mengemudi tanpa tangan dengan navigasi point-to-point, tapi belum mengungkap pemasok teknologi otonom yang digunakan.
Setir yoke masih jadi perdebatan di kalangan pengguna. Sejumlah pemilik Tesla yang memakai setir serupa mengeluh soal kesulitan saat manuver parkir dan putaran balik. Tanpa pengujian langsung, belum bisa dipastikan apakah Ceer berhasil mengatasi masalah ergonomi tersebut.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Terlalu Antusias
- Harga Exobot belum diumumkan, sehingga sulit menilai posisinya terhadap kompetitor
- Semua angka performa dan jarak tempuh masih klaim pabrikan, belum ada hasil uji independen
- Jaringan layanan purnajual Ceer belum jelas, apalagi untuk pasar di luar Arab Saudi
- Ketersediaan di Indonesia belum ada indikasi sama sekali
- Mekanisme pintu gullwing dan setir yoke perlu dibuktikan dalam pemakaian harian
Rencana Produk dan Perubahan Strategi Ceer
Setelah Exobot, Ceer berencana meluncurkan lima model lainnya pada periode 2028-2030. Rencana perusahaan juga sudah berubah. Jika awalnya hanya fokus membuat mobil listrik, Ceer kini turut menyiapkan mobil plug-in hybrid dan mobil bermesin bensin.
Perubahan strategi ini menarik dicermati. Sejumlah produsen EV di berbagai negara mulai melunakkan target elektrifikasi penuh karena permintaan pasar yang tidak secepat perkiraan awal. Langkah Ceer menyiapkan opsi plug-in hybrid dan bensin menunjukkan mereka membaca realitas pasar, bukan sekadar ikut arus.
Bagi pembaca di Indonesia, Exobot lebih tepat diposisikan sebagai penanda arah industri ketimbang kandidat pembelian. Yang layak ditunggu justru apakah teknologi kaca berlapis perak dan sistem pendingin kabin berdaya besar itu benar-benar efektif. Kalau terbukti, teknologi semacam ini jauh lebih relevan untuk iklim tropis dibanding angka 0-100 km/jam 2,1 detik.