KILASKINI.COM — Kemampuan bicara anak dibentuk jauh sebelum kata pertama keluar dari mulutnya. Lewat latihan otot mulut dan rahang sejak dini, ibu bisa membantu si Kecil mengunyah, menelan, hingga mengucapkan kata dengan lebih lancar. Berikut empat cara stimulasi oromotor yang bisa dicoba di rumah sesuai usia bayi.
Mengunyah dan berbicara ternyata berbagi otot yang sama: lidah, rahang, bibir, dan pipi. Melatih area itu sejak bayi bukan cuma soal makan, tapi juga fondasi kemampuan bicaranya nanti.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menyebut keterampilan motorik oral tumbuh lewat pengalaman dan kesempatan berlatih. Artinya, semakin sering bayi memakai otot mulutnya, semakin siap ia membentuk bunyi dan kata.
Apa Itu Stimulasi Oromotor?
Stimulasi oromotor adalah latihan untuk meningkatkan kekuatan, koordinasi, dan mobilitas lidah, rahang, bibir, serta mulut. Latihan ini membantu anak mengembangkan koordinasi yang dibutuhkan untuk membentuk kata dan bunyi atau artikulasi dengan benar.
Latihan motorik oral, yang juga dikenal sebagai latihan orofasial, termasuk bagian dari terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi fisik. Sasaran utamanya otot-otot di mulut dan wajah, supaya fungsinya makin kuat.
Selain mendukung bicara, gerakan ini juga membantu keterampilan lain seperti menggosok gigi dan mengolah makanan.
Tahapan Perkembangan Oromotor Bayi
Dikutip dari Journal of Clinical Chiropractic Pediatrics, usia 3-7 bulan jadi masa bayi mengembangkan pola motorik oral. Di tahap ini muncul gerakan mengunyah, rahang lateral dan diagonal, serta pola gerakan lidah lateral.
Saat bayi bisa duduk tanpa bantuan di usia 6 bulan dan pola mengunyahnya sudah terbentuk, ia umumnya siap menerima bubur encer hingga kental seperti pisang dan ubi. Memasuki 7-9 bulan, kemampuan duduk dan merangkak turut menopang stabilitas rahang serta motorik halus untuk keterampilan makan.
Di usia 12 bulan, dasar-dasar motorik oral anak sudah terbentuk untuk mendukung proses makan berikutnya. Antara 16 dan 36 bulan, kekuatan rahang dan kemampuan mengunyah terus berkembang, termasuk untuk makanan bertekstur lebih keras seperti sayuran dan daging.
Kenali Speech Delay dan Perannya
Speech delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi ketika kemampuan bicara anak belum mencapai tahapan yang diharapkan sesuai usianya. Contohnya, kosakata masih sangat terbatas, belum muncul kata bermakna, atau pengucapan kata belum sesuai tahap perkembangan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya stimulasi sejak dini. Caranya bisa dengan mengajak anak membaca dengan suara jelas, mengobrol dan bercerita, merespons ocehan bayi dengan kata sederhana, serta bernyanyi.
Perlu diingat, terlambat bicara tidak selalu disebabkan kurang latihan otot mulut. Kalau ibu curiga ada tanda keterlambatan, segera periksa ke profesional seperti dokter anak, psikolog, atau terapis wicara.
1. Meniup Bola Kapas
Letakkan bola kapas di atas meja, lalu minta anak meniupnya menggunakan sedotan. Aktivitas ini melatih kendali pernapasan sekaligus posisi bibir.
2. Minum dengan Sedotan
Ajak anak minum cairan dengan tingkat kekentalan berbeda, misalnya air, susu, lalu jus buah, memakai sedotan berbagai ukuran. Terlihat sederhana, tapi gerakan ini menstimulasi otot pipi.
3. Beri Kesempatan Eksplorasi Makanan
Ketika bayi siap mulai MPASI, berikan makanan dengan tekstur sesuai tahap perkembangannya. Bayi akan belajar memakai lidah, rahang, dan otot mulut untuk memindahkan serta mengunyah makanan.
Mencoba berbagai varian tekstur juga melatih otot tenggorokan dan koordinasi gerakan makanan menuju kerongkongan.
4. Ajak Bayi Meniru Gerakan Mulut
Contohkan gerakan sederhana seperti membuka dan menutup mulut, menjulurkan lidah, atau mencibir, lalu ajak bayi menirunya. Cara ini melatih mobilitas lidah dan bibir yang dibutuhkan saat membentuk bunyi.
Kapan Perlu ke Dokter?
Stimulasi oromotor bermanfaat, terutama bagi anak yang kesulitan di area mulut karena keterlambatan perkembangan, gangguan neurologis, atau kondisi kesehatan lain. Namun latihan di rumah bukan pengganti penilaian tenaga ahli.
Jika anak belum mengeluarkan kata bermakna sesuai usianya atau pengucapannya jauh dari tahap perkembangan, jangan tunda konsultasi. Dokter anak, psikolog, atau terapis wicara bisa memetakan kebutuhan si Kecil dengan tepat.
Merawat kemampuan bicara anak tidak butuh alat mahal. Cukup konsisten memberi kesempatan bayi memakai otot mulutnya lewat aktivitas harian, ibu sudah menanam fondasi komunikasi yang kuat untuk tahun-tahun berikutnya.