Sekolah Rakyat Targetkan 1 Juta Siswa pada 2029, Wamensos: Negara Jemput Anak Keluarga Miskin Desil 1 dan 2
JAKARTA — Pemerintah menargetkan kapasitas Sekolah Rakyat mencapai 1 juta siswa pada 2029 untuk mengejar ketertinggalan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan, dari total 4,1 juta anak yang belum tersentuh pendidikan, kapasitas Sekolah Rakyat pada tahun ini baru mampu menampung sekitar 43 ribu siswa.
“Targetnya di 2029 itu 1 juta (siswa). Jadi untuk memenuhi target 4,1 juta itu masih panjang,” kata Agus Jabo saat menerima audiensi Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu dan Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan Anang Armunanto di Jakarta, Kamis (27/8).
Bukan Sekadar Bansos, Pendidikan Jadi Kunci Pemutusan Kemiskinan
Agus menegaskan bahwa penanganan kemiskinan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial. Menurutnya, investasi pada pendidikan berkualitas menjadi cara paling efektif untuk menghentikan transmisi kemiskinan dari orang tua ke anak.
“Jadi tujuannya untuk memutus transmisi kemiskinan antar generasi lewat pendidikan. Pak Presiden Prabowo maunya begitu,” ujarnya.
Konsep pendidikan berasrama dipilih karena anak-anak dari keluarga miskin tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi. Persoalan gizi, sanitasi, kepercayaan diri, hingga lingkungan sosial yang kurang mendukung juga menjadi hambatan. Dalam kondisi tertentu, anak-anak bahkan terpaksa membantu orang tua bekerja sehingga kehilangan waktu belajar.
“Negara menjemput orang-orang miskin ini sejak dini. Supaya kemudian anak-anak ini tidak hidup dalam lingkungan kemiskinan,” kata Agus Jabo.
Prioritas Utama Desil 1, Baru Kemudian Desil 2
Penentuan sasaran program ini menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Agus Jabo menekankan bahwa kuota penerima manfaat diprioritaskan secara ketat untuk kelompok paling bawah.
“Saya ingatkan kalau sudah jadi, untuk desil 1. Kalau desil 1 belum memenuhi, baru ke desil 2. Jadi maksimal desil 2,” tegasnya.
Daerah Diminta Percepat Sertifikasi Lahan
Untuk mengejar target 1 juta siswa, pemerintah mendorong pemerintah daerah mempercepat penyiapan lokasi Sekolah Rakyat. Daerah yang lahannya sudah clear and clean diminta segera melengkapi persyaratan agar masuk dalam tahap pembangunan tahun ini.
“Kita berjuang supaya yang mengusulkan dan sudah clear and clean itu masuk di tahun ini,” ujar Agus.
Kabupaten Nias Barat menjadi salah satu daerah yang paling siap. Bupati Eliyunus Waruwu menyatakan lahan seluas 8,6 hektare di Simaeasi, Kecamatan Mandrehe, telah memenuhi seluruh persyaratan, termasuk sertifikat tanah.
“Kemarin sudah komplit sampai sertifikat sudah selesai dan tim dari balai juga sudah turun. Memenuhi syarat (dengan luas) 8,6 hektare,” jelas Eliyunus.
Kebutuhan Sekolah Rakyat di Nias Barat dinilai mendesak. Dari total 97.856 penduduk, sebanyak 22,47 persen masih berada dalam kategori miskin. Eliyunus menyebut kehadiran sekolah ini merupakan kerinduan besar masyarakatnya untuk mendapatkan akses pendidikan lebih baik.
Grobogan Siapkan Lahan Strategis Dekat Rumah Sakit
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Grobogan menyiapkan lahan seluas 6,75 hektare di Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi. Sekretaris Daerah Grobogan Anang Armunanto menyebut lokasi tersebut sangat strategis karena berada di kawasan permukiman perkotaan dengan infrastruktur memadai.
“Lokasinya sangat strategis berada di kawasan pemukiman perkotaan. Tentunya juga dekat dan memiliki dukungan infrastruktur strategis,” kata Anang.
Lokasi tersebut juga dekat dengan rumah sakit dan pusat pemerintahan kabupaten, memudahkan akses layanan pendukung bagi siswa. Penyiapan lahan oleh daerah menjadi kunci percepatan perluasan Sekolah Rakyat agar program ini dapat menjangkau lebih banyak anak dari keluarga prasejahtera di seluruh Indonesia.