Baznas RI Luncurkan Beasiswa Santri di Muktamar ke-35 NU Jombang, Targetkan Ribuan Penerima dari Keluarga Kurang Mampu
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI resmi meluncurkan program Beasiswa Santri di sela-sela Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Al Wahabiyyah Tambakberas, Jombang, Sabtu. Program ini dirancang untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi para santri, dengan prioritas utama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Peluncuran ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan biaya pendidikan yang kerap menjadi penghalang santri melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
JOMBANG — Langkah konkret untuk mendorong kebangkitan umat melalui sektor pendidikan diresmikan di tengah hajatan besar warga Nahdliyin. Baznas RI memanfaatkan momentum Muktamar ke-35 NU untuk meluncurkan program Beasiswa Santri yang menyasar ribuan pelajar pondok pesantren di seluruh Indonesia.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan instrumen strategis untuk membangun peradaban. Menurutnya, kekuasaan politik, ekonomi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi hanyalah alat yang harus diarahkan pada satu tujuan besar.
"Seluruh upaya tersebut harus diarahkan pada kebangkitan umat," kata Sodik di Jombang, Sabtu.
Sinergi Kemenag dan Alumni IPNU Perluas Jangkauan
Program Beasiswa Santri tidak berjalan sendiri. Baznas menggandeng Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Kementerian Agama untuk memastikan dampaknya terasa luas hingga ke pelosok pesantren.
Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menyatakan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi dengan pesantren. Ia menilai program ini akan membantu santri yang selama ini terkendala biaya untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Kerja sama dengan alumni IPNU pun diwujudkan melalui skema Program Future Leaders Fellowship (FLF). Sekretaris Jenderal Majelis Alumni IPNU Idy Muzayyad menyebut inisiatif ini sebagai langkah awal yang strategis dalam mendorong kebangkitan santri melalui bantuan pendidikan.
Harapan Pengasuh Pesantren untuk Santri Tidak Mampu
Dukungan datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Wahabiyyah Tambakberas Jombang, Bu Nyai Mundjidah Wahab. Ia berharap program ini benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
"Semoga kegiatan ini menjadi program yang bermanfaat bagi para santri, terutama santriwan-santriwati yang tidak mampu, sehingga mereka dapat merasakan pendidikan yang layak," ujarnya.
Peluncuran program ini dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari alumni IPNU, perwakilan pesantren, organisasi kemasyarakatan, serta para penerima beasiswa Baznas yang sudah berjalan sebelumnya.
Talkshow Transformasi Pesantren: Menakar Kesiapan SDM Indonesia
Rangkaian acara juga diisi talkshow bertajuk "Transformasi Pesantren dalam Meningkatkan Kualitas SDM Indonesia melalui Pendidikan Tinggi". Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Gerakan Pengasuh Pesantren Indonesia (GAPI) K.H. Cholil Nafis, Ketua RMI PBNU K.H. Hodri Arief, serta Ketua LP2 PP Muhammadiyah H Maskuri.
Para tokoh tersebut membahas bagaimana pesantren harus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keilmuannya. Pendidikan tinggi menjadi salah satu kunci untuk mencetak kader-kader bangsa yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam kompetensi global.
Idy Muzayyad menambahkan bahwa kerja sama dengan Kementerian Agama akan terus diperluas, khususnya melalui bidang pendidikan pesantren. Dengan begitu, manfaat program beasiswa ini diharapkan bisa menjangkau lebih banyak santri di berbagai daerah di Indonesia.