Karhutla Sumatera Selatan Agustus 2026 Tembus 2.849 Titik Api, Lahan Mineral Kini Lebih Banyak Terbakar
PALEMBANG — Pola kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan mulai bergeser. Data pemantauan citra satelit NASA Modis Terra dan Aqua yang diolah Hutan Kita Institut (HaKI) menunjukkan mayoritas titik api sepanjang Agustus 2026 berada di lahan mineral, bukan gambut.
Teknis GIS dan Pemetaan HaKI, Bayu Prima, mengatakan pergeseran ini mengindikasikan kesadaran masyarakat untuk tidak membakar gambut mulai tumbuh. Namun, kebiasaan membakar lahan masih berlanjut di areal mineral. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar tetap berlangsung di lahan mineral,” katanya kepada Mongabay Indonesia, Rabu (2/9/2026).OKI dan Muba Tetap Tertinggi, Banyuasin Justru Didominasi Gambut
Dari total 2.849 titik api dan titik panas, sebanyak 668 titik terpantau di lahan gambut. Ribuan titik lain menyebar di lahan mineral di 17 kabupaten dan kota, dengan wilayah tertinggi masih berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).
Kabupaten OKI mencatat 750 titik api dan Muba 443 titik. Menyusul kemudian Muaraenim dengan 345 titik dan Banyuasin 259 titik. Wilayah lain yang juga mencatat angka signifikan antara lain:
- OKU Timur: 180 titik
- Penukal Abab Lematang Ilir: 179 titik
- Musirawas Utara: 149 titik
- Ogan Ilir: 144 titik
- Lahat: 113 titik
Menariknya, Banyuasin menjadi satu-satunya kabupaten yang justru lebih banyak terbakar di lahan gambut. Tercatat 53 titik api di gambut, sedangkan di lahan mineral hanya 34 titik.
Walhi Catat Ribuan Titik Panas di Lahan Konsesi Perusahaan
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan menemukan 5.539 titik panas berada di wilayah konsesi perusahaan. Data ini, menurut Walhi, harus segera diverifikasi pemerintah agar tidak menimbulkan tumpang tindih tanggung jawab antara korporasi, masyarakat, dan negara.
Verifikasi diperlukan untuk menentukan pihak yang wajib menangani karhutla di lapangan. Tanpa kejelasan ini, potensi kebakaran pada lahan konsesi di musim kemarau ekstrem dapat meluas ke area sekitarnya.
Kawasan Konservasi Ikut Terbakar
Titik api juga terpantau di dalam kawasan konservasi. Di Taman Nasional Berbak-Sembilang yang luasnya mencapai 267.592 hektare, HaKI mendeteksi dua titik api, masing-masing di Desa Tanah Pilih atau hulu Sungai Benu dan di tengah taman yang masuk wilayah Desa Sungsang IV.
“Perlu dicek ke lapangan. Kebakaran ini apakah akibat aktivitas pembalakan liar atau pembukaan lahan untuk perkebunan,” kata Bayu.
Selain taman nasional, sejumlah titik api ditemukan di pinggiran Suaka Margasatwa Dangku di Muba dan Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sebokor yang membentang di OKI dan Banyuasin. Padang Sugihan Sebokor merupakan kawasan rawa gambut datar yang menjadi habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Titik api di sekitar kawasan itu berbatasan dengan Desa Siju, Suka Pindah, Perigi Talang Nangka, dan Riding.
Puncak Kemarau September dan Ancaman Kabut Asap yang Meningkat
September diprediksi menjadi puncak kemarau sehingga titik api berpotensi bertambah. “Paling ditakutkan kebakaran banyak terjadi di lahan gambut. Jika itu terjadi, bencana kabut asap akan sangat luar biasa. Bukan hanya mengganggu kesehatan, juga menghentikan berbagai aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, dan pemerintahan,” ujar Bayu.
Ia menegaskan semua pihak harus berjaga siang dan malam serta mengedepankan upaya pencegahan, bukan sekadar pemadaman. Karhutla tidak akan terjadi bila tidak ada manusia yang membakar lahan dan hutan.
Perhatian juga diminta untuk tidak hanya menyasar penanganan api. Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan pasokan air bersih bagi masyarakat yang ruang hidupnya mengalami kekeringan, seiring musim kemarau yang diprediksi berlangsung ekstrem hingga akhir tahun ini.