Bandara Soekarno-Hatta hingga Husein Sastranegara Kembali Beroperasi Normal, Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga

Petugas kebersihan membersihkan sisa abu vulkanik di marka landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (8/9/2026).
Penulis: Redaksi
Selasa, 08 September 2026 | 11:36:01 WIB

KILASKINI.COM — Seluruh penerbangan komersial dari Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara kembali beroperasi normal sejak Selasa dini hari, 8 September 2026, setelah pengujian paper test memastikan sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau sudah aman. Sebelumnya, penutupan sementara bandara terjadi selama dua hari akibat enam kali erupsi strombolian yang mengeluarkan material vulkanik ke atmosfer.

Lima Bandara Terdampak, Tiga Pulih Lebih Cepat

Dampak penutupan akibat abu vulkanik pada 6-7 September 2026 sempat melumpuhkan konektivitas udara di Jawa dan Sumatera. Setidaknya lima bandara terdampak langsung, yakni Soekarno-Hatta (Banten), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Husein Sastranegara (Bandung), Radin Inten II (Lampung), dan Budiarto Curug. Dari jumlah itu, tiga bandara utama telah pulih lebih cepat dari perkiraan awal karena arah angin mulai menjauhi wilayah padat penduduk.

Bandara Radin Inten II dan Budiarto Curug belum diumumkan kembali beroperasi hingga Selasa pagi. Petugas kebersihan bandara dikerahkan untuk membersihkan sisa abu halus yang menempel di marka landasan demi memastikan keamanan pendaratan.

Enam Erupsi Strombolian dan Catatan Kegempaan yang Padat

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tercatat mengalami enam kali erupsi bertipe Strombolian sejak episode erupsi menerus berakhir pada Sabtu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode erupsi menerus sebelumnya berlangsung sekitar 25 jam, dimulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan pola erupsi ini adalah karakteristik khas gunung api tersebut.

"Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus," ujar Lana Saria dalam keterangan resmi yang dirilis Selasa.

Data kegempaan periode 7-8 September menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih tinggi: 2 kali gempa erupsi, 4 kali gempa hembusan, 76 kali gempa low frequency, serta 100 kali gempa hybrid/fase banyak. Ditambah 8 kali gempa vulkanik dangkal dan 9 kali gempa vulkanik dalam, sinyal tekanan dari dapur magma masih bekerja aktif di bawah permukaan.

Radius Bahaya Tiga Kilometer, Warga Diminta Waspadai Hujan Abu

Status Gunung Anak Krakatau masih bertahan di Level III (Siaga). Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi tegas agar masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus terulang menjadi dasar pertimbangan utama penetapan zona terlarang tersebut.

Warga yang bermukim di sekitar Selat Sunda diimbau menggunakan masker saat terjadi hujan abu vulkanik untuk mencegah gangguan pernapasan. Untuk informasi terkini, masyarakat dapat menghubungi PVMBG di nomor (022) 7272606 atau Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di (0254) 651449.

Walhi Dorong Evaluasi Mitigasi Bencana dan Infrastruktur Transportasi

Organisasi lingkungan Walhi menilai rangkaian erupsi yang mengganggu penerbangan ini menjadi momentum evaluasi kesiapsiagaan bencana secara menyeluruh. Penilaian tersebut mencakup keselamatan publik, kesehatan lingkungan akibat paparan abu vulkanik jangka panjang, serta ketahanan infrastruktur transportasi menghadapi gangguan serupa di masa depan.

Catatan Walhi ini merespons fakta bahwa penutupan bandara kali ini bukan insiden pertama. Wilayah Jawa bagian barat dan Sumatera bagian selatan memiliki riwayat panjang gangguan penerbangan akibat aktivitas Anak Krakatau, yang menuntut sistem peringatan dini lebih presisi dan protokol pembukaan kembali bandara yang lebih terukur.

Reporter: Redaksi