Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp17.916 per Dolar AS, Terburuk di Asia
KILASKINI.COM — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,55% atau 98 poin ke level Rp17.916 per dolar AS pada Kamis (24/9/2026), menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Pelemahan tajam terjadi di tengah tekanan beruntun dari kenaikan yield obligasi AS, penguatan indeks dolar, dan lonjakan harga minyak mentah dunia.
Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel.
Rupiah Terpuruk, Mata Uang Asia Lain Justru Menguat
Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terpuruk di Asia pada saat sejumlah mata uang regional justru menguat. Ringgit Malaysia tampil perkasa terhadap dolar AS dengan penguatan 0,10%, diikuti yen Jepang yang menguat 0,09%.
Baht Thailand dan dolar Singapura masing-masing menguat 0,09%, sementara dolar Hong Kong naik tipis 0,01%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lain turut melemah meski dengan besaran lebih kecil. Dolar Taiwan melemah 0,33%, rupee India turun 0,19%, peso Filipina melemah 0,18%, won Korea Selatan turun 0,02%, dan yuan China melemah 0,01%.
Yield US Treasury 5,11% Jadi Pemicu Utama
Kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke level 5,11% menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang masih ketat.
Penguatan dolar AS yang berlanjut juga dipicu oleh sikap antisipatif pasar terhadap potensi pernyataan tegas atau hawkish dari sejumlah pejabat The Fed yang dijadwalkan berpidato malam ini.
Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan berikutnya. "Mata uang Garuda diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan berikutnya, kecuali jika ada intervensi yang cukup kuat dari Bank Indonesia," ujar Lukman, Kamis (24/9/2026).
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi tersebut disusun berdasarkan data analisis Doo Financial Futures.
Investor dan pelaku bisnis perlu mencermati dua faktor utama yang akan menentukan arah rupiah hari ini. Pertama, pernyataan pejabat The Fed yang dijadwalkan berpidato malam ini, yang bisa memperkuat atau melemahkan dolar AS.
Kedua, langkah Bank Indonesia dalam mengantisipasi pelemahan lebih lanjut. Intervensi yang cukup kuat di pasar valas menjadi kunci untuk menahan laju pelemahan rupiah, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih berlanjut.
Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap dolar AS, pelemahan rupiah ini menambah tekanan biaya impor dan bahan baku. Sementara eksportir berpeluang menikmati margin lebih baik, meski harus mewaspadai volatilitas yang tinggi dalam jangka pendek.