Lightdox Akuisisi Hak Jual Film My Home of Wind and Sand Sebelum Premiere di Zurich

Lightdox resmi mengakuisisi hak penjualan dunia untuk dokumenter My Home of Wind and Sand sebelum pemutaran perdana di Zurich Film Festival.
Penulis: Rendra
Senin, 28 September 2026 | 15:20:31 WIB

KILASKINI.COM — Lightdox resmi mengantongi hak penjualan dunia untuk dokumenter My Home of Wind and Sand tepat sebelum tayang perdana di Zurich Film Festival. Film garapan Patrick Wally ini membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk dirampungkan dan menyorot aktivis HAM, perempuan, sekaligus iklim asal Sahara Barat, Najla Mohamed Lamin. Penayangan perdananya dijadwalkan dihadiri oleh Greta Thunberg.

Kesepakatan akuisisi ini diumumkan secara eksklusif sebelum film tersebut menjalani pemutaran perdana dunia. Lamin lahir di kamp pengungsi Sahrawi di Aljazair dan telah lama memimpin kampanye damai untuk mendukung hak penentuan nasib sendiri bagi Sahara Barat.

Sosok Najla Mohamed Lamin dan Perjalanan Sebelas Tahun

Najla Mohamed Lamin bukan nama baru di kancah aktivisme internasional. Ia lahir dan besar di kamp pengungsi Sahrawi di Aljazair, wilayah yang menampung lebih dari 200.000 orang selama beberapa generasi setelah perang dan pengungsian pada 1975.

Perjuangan rakyat Sahrawi untuk menentukan nasib sendiri telah terhambat lebih dari setengah abad. Lamin konsisten menyuarakan perlawanan damai di tengah situasi yang tak kunjung menemukan titik terang.

Sutradara Patrick Wally mengaku menghabiskan sebelas tahun mengikuti perjalanan Lamin. Ia juga bertindak sebagai sinematografer dalam film ini, didukung produser Shirin Hooshmandi, Najla Mohamed Lamin, dan dirinya sendiri. Anna Kirst bertindak sebagai editor dengan tambahan editing dari Daniel Rutz, sementara musik digarap Ahmed Zain.

Greta Thunberg Hadir di Premiere Dunia

Aktivis iklim sekaligus nominator Nobel Perdamaian Greta Thunberg dijadwalkan menghadiri pemutaran perdana dunia pada Selasa. Thunberg juga akan mengikuti sesi percakapan bersama Lamin setelah pemutaran selesai.

Keduanya sebelumnya pernah bertemu di kamp pengungsi Sahrawi tahun lalu. Dalam kunjungan itu, Thunberg dan Lamin menggelar lokakarya bertema perubahan iklim bersama warga kamp.

Pendekatan Personal dalam Mengangkat Konflik

Sinopsis film menegaskan bahwa dokumenter ini menolak mereduksi Najla menjadi sekadar simbol konflik geopolitik. Sahara Barat dihadirkan melalui pengalaman satu orang yang menjalani konsekuensinya secara langsung.

Najla digambarkan aktif menyuarakan aspirasinya ke lembaga-lembaga internasional, membangun ruang praktis bagi perempuan dan anak-anak, sekaligus membesarkan keluarganya. Ia tetap menggaungkan perlawanan damai meski generasi yang lahir di pengasingan terus menua tanpa penyelesaian politik.

Ketika konflik bersenjata kembali pecah setelah puluhan tahun gencatan senjata, keyakinan yang membentuk kehidupan publik Najla diuji. Film ini mengikuti perjalanannya dalam mempertanyakan arti pasifisme, kesabaran, dan agensi di tengah sejarah yang tampak tak bergeming.

Alasan Lightdox Mengambil Hak Penjualan Dunia

CEO Lightdox, Anna Berthollet, menyebut keputusan ini diambil karena cerita Najla dianggap relevan dengan perhatian internasional yang kembali mengarah ke Sahara Barat. Menurutnya, film ini bukan kisah geopolitik semata, melainkan potret intim tentang pilihan hidup seseorang.

"Najla has lived her entire life with an unresolved conflict. Yet Patrick's film is not a geopolitical story; it is an intimate portrait of how she chooses to live, raise her children and build a future for her community," ujar Berthollet.

Ia menambahkan bahwa Wally menghabiskan sebelas tahun mengikuti perjalanan Lamin untuk membawa kisah dan misinya ke layar lebar. Lightdox mengaku merasa terhormat dipercaya membawa cerita personal keduanya ke audiens global.

Konteks Wilayah Sahara Barat

Status Sahara Barat masih menjadi persoalan yang belum tuntas hingga kini. Spanyol pernah menguasai wilayah itu sebagai koloni selama hampir seratus tahun sebelum melepaskan klaimnya pada pertengahan 1970-an.

Harapan wilayah tersebut menentukan masa depannya sendiri sirna setelah Maroko mengambil kendali atas sebagian besar Sahara Barat. Front Polisario yang mewakili masyarakat adat Sahrawi memperjuangkan penentuan nasib sendiri dan didukung Aljazair, tempat kamp-kamp pengungsi berada. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi menyebut Sahara Barat sebagai "Non-Self-Governing Territory".

Dalam pernyataan sutradaranya, Wally mengaku belum pernah mendengar isu Sahara Barat saat pertama bertemu Najla sepuluh tahun lalu. Ia mengaku terkejut karena menganggap dirinya cukup terinformasi soal berbagai pergolakan dunia, tetapi tidak tahu apa pun tentang nasib lebih dari 200.000 orang Sahrawi di kamp pengungsi Aljazair.

Yang paling menarik perhatiannya bukan konflik secara abstrak, melainkan sosok Najla sendiri. Wally menyebut Lamin sebagai perempuan yang tumbuh di kamp pengungsi namun sangat fasih berbicara, presisi secara politik, dan penuh visi tentang masa depan.

Selain pemutaran perdana dunia pada Selasa, My Home of Wind and Sand akan menggelar pemutaran publik pada Rabu, Kamis, dan Minggu di Zurich Film Festival. Akuisisi Lightdox membuka peluang distribusi film ini ke pasar internasional yang lebih luas, termasuk kemungkinan tayang di festival dan platform streaming global.

Reporter: Rendra