Reshuffle Kabinet, Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Jadi Kunci Investasi Hijau
KILASKINI.COM — Presiden menempatkan posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sebagai poros baru kebijakan ekonomi dalam reshuffle Kabinet Merah Putih. Ekonom BCA David Sumual menilai fokus ini penting karena cadangan energi fosil Indonesia terus menurun. Arah kebijakan ini juga menentukan daya tarik investasi hijau ke dalam negeri.
Jakarta — Pemerintah menegaskan hilirisasi dan transisi energi sebagai prioritas melalui pembentukan posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dalam reshuffle Kabinet Merah Putih. Posisi ini diisi Bahlil Lahadalia, sementara jajaran ekonomi juga diperkuat dengan masuknya Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Ekonom BCA David Sumual menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin memberi perhatian lebih besar pada dua sektor yang saling terkait itu. Menurut dia, fokus khusus diperlukan karena cadangan energi fosil Indonesia—dari batu bara, minyak, hingga gas—terus menyusut.
Mengapa Hilirisasi dan Transisi Energi Jadi Prioritas
David menyebut penurunan cadangan energi fosil sebagai alasan utama perlunya langkah antisipatif. Tanpa persiapan, kebutuhan energi nasional dalam 10 hingga 20 tahun ke depan bisa terganggu.
"Yang jelas ini ada menko baru ya, hilirisasi dan transisi energi. Ya harapannya bisa lebih fokus untuk dorong hilirisasi dan juga transisi kita ke energi hijau," kata David kepada Liputan6.com, Jumat (2/10/2026).
Ia menambahkan, hilirisasi dan transisi energi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu diintegrasikan agar sumber daya alam tetap memberi nilai tambah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi kotor.
"Jadi memang perlu langkah khusus untuk mengantisipasi 10-20 tahun ke depan kalau energi fosil kita turun cadangan. Jadi ini harus ada fokus khusus untuk hilirisasi dan transisi energi," ujar dia.
Daya Tarik Investasi Hijau di Mata Investor
Transisi energi juga berkaitan erat dengan upaya menarik investasi asing. David menyoroti bahwa sebagian investor kini semakin memperhatikan sumber energi yang digunakan dalam proyek hilirisasi.
"Kita ingin juga supaya investor lebih banyak lagi masuk ke dalam negeri. Termasuk investor di sektor-sektor hilirisasi tadi," ujarnya.
Namun, ia mencatat ada syarat yang semakin sering diajukan calon investor. Mereka bersedia masuk, asalkan pasokan energinya berasal dari sumber hijau.
"Tapi banyak memang yang mereka juga sadar akan green energy. Jadi mereka mau masuk, tapi kalau bisa energinya green. Itu banyak investor yang semacam itu," kata David.
Wamenkeu Baru dan Harapan Stabilitas Ekonomi
Selain posisi menko, reshuffle juga membawa nama baru di Kementerian Keuangan. Luky Alfirman, yang sebelumnya menjabat Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, kini dipercaya sebagai Wakil Menteri Keuangan.
David berharap komposisi baru ini memperkuat kinerja pemerintah dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, ia menilai penilaian terhadap pejabat baru belum bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Harapannya makin baik lagi kinerjanya ke depan. Makin bisa dorong pertumbuhan, memberikan stabilitas juga buat perekonomian, stabilitas sekaligus dorong pertumbuhan," ungkapnya.
Menurut David, dampak pergantian pejabat terhadap pertumbuhan ekonomi baru bisa dilihat setelah mereka menjalankan tugas selama beberapa waktu. Ia menyebut periode 100 hari sebagai patokan awal evaluasi.
"Ya harus tunggu ya, biasanya kan 100 hari ya. Tiga bulan, kita lihat kinerjanya bagaimana," ujarnya.
Sinergi Kementerian Perindustrian dan Perdagangan
David juga menyoroti pergantian Menteri Perindustrian. Menurut dia, pejabat baru memiliki pekerjaan rumah untuk memperkuat koordinasi dengan Menteri Perdagangan agar kebijakan di kedua kementerian berjalan sinkron.
"Saya pikir perlu ada kolaborasi sinergi yang kuat juga dengan Menteri Perdagangan ya. Karena kebijakan-kebijakannya supaya sinergi dan sinkron," ucap David.
Koordinasi yang erat antara kedua kementerian dinilai penting karena kebijakan industri dan perdagangan sering kali saling memengaruhi, mulai dari hilirisasi komoditas hingga ekspor produk jadi.
Reshuffle kali ini menempatkan sektor energi dan hilirisasi di garis depan kebijakan ekonomi. Bagi pelaku pasar, sinyal yang paling ditunggu adalah seberapa cepat posisi baru ini menghasilkan terobosan yang bisa menarik investasi hijau dan menjaga pasokan energi nasional dalam jangka panjang.