Indonesia Peringkat Kedua Destinasi Wisata Ramah Muslim Dunia 2026

Indonesia menempati peringkat kedua destinasi wisata ramah Muslim dunia dengan skor 79 dari 100 dalam GMTI 2026.
Penulis: Galih
Minggu, 01 November 2026 | 11:01:31 WIB

KILASKINI.COM — Indonesia menempati posisi kedua destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia dengan skor 79 dari 100 dalam laporan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Posisi Indonesia naik tiga tingkat dari tahun sebelumnya yang berada di urutan kelima, dan kini setara dengan Turki serta Arab Saudi. Malaysia masih memimpin dengan nilai 83, sementara Singapura menjadi teratas untuk kategori negara non-OKI di peringkat ke-10 dengan skor 73.

Turki dan Arab Saudi mengumpulkan nilai identik 79 pada edisi ke-11 ini. Malaysia tetap menguasai posisi puncak dengan skor 83, sedangkan Singapura memimpin kategori destinasi non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lewat peringkat ke-10 dan nilai 73.

Apa yang Dinilai dalam GMTI 2026

Sebanyak 150 destinasi dievaluasi kesiapannya melayani kebutuhan wisatawan Muslim. Penilaian memakai lebih dari 60 kumpulan data yang dikelompokkan ke dalam empat pilar ACES: Access, Communication, Environment, dan Services.

Pilar akses mengukur kemudahan mencapai destinasi. Komunikasi menimbang ketersediaan informasi relevan bagi pelancong Muslim. Lingkungan mencakup keamanan dan keberlanjutan, sedangkan layanan melihat fasilitas penunjang sepanjang perjalanan.

Skor Sempurna di Tiga Indikator Layanan

Pilar Services menjadi andalan Indonesia dengan nilai 84. Tiga indikator bahkan meraih angka sempurna 100, yakni ketersediaan makanan halal, tempat ibadah, dan fasilitas bandara halal.

Angka itu menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan paling siap untuk wisatawan Muslim. Informasi soal fasilitas tersebut juga dinilai memudahkan pelancong menyusun rencana perjalanan.

Di sisi lain, Communication berada di 69, Environment 68, dan Access 58. Skor akses terendah menjadi pekerjaan rumah, terutama soal konektivitas penerbangan internasional dan kemudahan pengurusan visa bagi pelancong dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa.

Rekam Jejak Indonesia di GMTI

Sepanjang 11 edisi GMTI, Indonesia tidak pernah absen dari enam besar. Indonesia sempat berbagi posisi teratas dengan Malaysia pada 2019, 2023, dan 2024.

Konsistensi itu menunjukkan fondasi pariwisata halal Tanah Air sudah terbangun lama, bukan hasil perbaikan semusim.

Pasar Wisatawan Muslim Tumbuh Dua Digit

Kedatangan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta pada 2025, naik 11,3 persen dari tahun sebelumnya. Proyeksi GMTI 2026 memperkirakan 208 juta kedatangan pada 2026 dan 262 juta pada 2030.

Pengeluaran perjalanan tahunan pasar ini diprediksi menyentuh 310 miliar dolar AS pada 2030. Segmen Muslim Women in Travel (MWIT) menyumbang sekitar 90 juta perjalanan atau 48 persen dari total kedatangan wisatawan Muslim global.

Perubahan perilaku ikut mewarnai laporan. Penggunaan smartphone melampaui 80 persen di seluruh tahapan perjalanan, dari mencari inspirasi sampai beraktivitas di lokasi. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membantu wisatawan menyaring informasi dan menentukan tujuan.

Faktor keamanan dan geopolitik juga memengaruhi preferensi. Fluktuasi harga bahan bakar, penutupan wilayah udara, dan kekhawatiran keselamatan membuat pelancong semakin cermat memilih destinasi.

Tips Traveler Muslim Merencanakan Liburan

  • Manfaatkan skor layanan Indonesia yang tinggi: cari akomodasi dan restoran bersertifikat halal di destinasi tujuan.
  • Periksa konektivitas penerbangan dan syarat visa sejak awal, karena aspek akses masih menjadi titik lemah.
  • Gunakan aplikasi digital untuk memverifikasi ketersediaan tempat ibadah dan fasilitas bandara halal.
  • Pertimbangkan musim dan kondisi geopolitik sebelum memesan tiket, terutama untuk rute internasional.

Bagi traveler yang merencanakan liburan keluarga, posisi kedua dunia ini jadi sinyal bahwa kebutuhan dasar wisatawan Muslim di Indonesia sudah terpenuhi. Informasi terkini soal sertifikasi halal dan fasilitas di destinasi tertentu dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.

Reporter: Galih