KILASKINI.COM — Pengembangan Metro 2039 berlangsung di tengah kondisi yang tidak biasa. Tim 4A Games di Ukraina bekerja setiap hari di bawah bayang-bayang perang, mulai dari ancaman pemadaman listrik hingga serangan drone. Executive Producer 4A Games, Jon Bloch, menegaskan bahwa realitas ini secara fundamental mengubah visi artistik dan naratif sekuel tersebut.
“Game-game sebelumnya berbicara tentang mencegah perang; bagaimana cara kita menghentikan siklus yang terus berulang. Sekarang, tim kami telah hidup dalam keadaan perang selama empat setengah tahun terakhir. Itu mengubah banyak hal,” ujar Bloch dalam wawancara eksklusif. Pernyataan ini menjadi dasar perombakan total pada elemen cerita yang akan disajikan kepada pemain.
Mengapa Moralitas Abu-Abu Ditinggalkan?
Seri Metro selama ini dikenal dengan dilema moral yang kompleks, di mana pemain sering dibuat bingung membedakan mana yang benar dan salah. Namun, untuk Metro 2039, pendekatan itu dianggap tidak relevan lagi. Bloch menjelaskan bahwa narasi tentang rezim otoriter tidak bisa lagi dibingkai dalam perspektif ambigu.
“Ketika cerita mengeksplorasi apa yang dilakukan rezim otoriter, tidak ada hal baik di dalamnya. Hanya ada kejahatan. Moralitas abu-abu di masa lalu perlu didefinisikan ulang, dibuat lebih spesifik dan jelas,” tegasnya. Alhasil, tim penulis yang digawangi Dmitry Glukhovsky, penulis novel asli Metro yang juga kritikus keras pemerintah Rusia, memilih untuk menulis berdasarkan apa yang mereka ketahui dan alami sehari-hari.
Hunter Kembali dan Lahirnya Rezim Novoreich
Keputusan kreatif terbesar terletak pada pengenalan The Stranger, protagonis pertama yang memiliki dialog vokal dalam sejarah franchise ini. Ia adalah karakter baru yang enggan kembali ke terowongan metro Moskow untuk menghadapi ancaman baru. Kehadiran suara ini bukan tanpa alasan; 4A Games ingin menyampaikan komentar sosialnya secara lebih gamblang dan tidak lagi samar.
Cerita dimulai ketika faksi-faksi bawah tanah yang tadinya terpecah akhirnya bersatu di bawah rezim totaliter bernama Novoreich. Pemimpinnya adalah Hunter, karakter yang diingat penggemar dari game dan buku pertama. Hunter menjanjikan kehidupan baru di permukaan, namun ambisinya tidak mengenal kompromi. The Stranger harus berhadapan dengan “keburukan umat manusia” dan menentukan seberapa besar harga yang harus ia bayar untuk mengamankan masa depan.
Komentar yang Tak Lagi Nyaman
Pawel Ulmer, co-creative director dan lead audio designer di 4A, menambahkan perspektif pribadinya sebagai warga Ukraina. Ia mengakui bahwa tema pencegahan perang kini terasa basi karena konflik sudah terjadi di depan mata mereka. Justru, kekuatan game ini sekarang terletak pada kemampuannya menunjukkan apa yang bisa terjadi jika dunia gagal mencegah perang.
“Ironisnya, kami membuat game di dunia yang sudah mati! Tapi dunia nyata kita masih punya kesempatan. Metro selalu tentang kultus perang, propaganda, dan harga dari ambisi orang lain. Yang membuat tidak nyaman sekarang adalah sifat franchise ini menjadi terlalu dekat dengan kenyataan,” kata Ulmer. Tim internal bahkan bercanda bahwa kisah di balik layar pembuatan Metro 2039 akan jauh lebih kelam daripada cerita di dalam game-nya sendiri.
Meski demikian, para pengembang tetap berkomitmen menyelesaikan proyek ini. Bloch menutup dengan menegaskan bahwa pelajaran dan moral yang ingin disampaikan game ini adalah konsekuensi nyata dari perang, sebuah pesan yang lahir dari pengalaman pahit yang sedang mereka jalani. Belum ada tanggal rilis resmi untuk Metro 2039, namun game ini dipastikan hadir untuk PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S.