Pencarian

Alat Kontrasepsi yang Bisa Picu Risiko Kanker Payudara, Ibu Wajib Tahu

Rabu, 30 September 2026 • 09:01:01 WIB
Alat Kontrasepsi yang Bisa Picu Risiko Kanker Payudara, Ibu Wajib Tahu
Studi di Swedia melibatkan lebih dari 2 juta perempuan untuk meneliti kaitan jenis hormon kontrasepsi dengan risiko kanker payudara.

KILASKINI.COM — Penelitian terbaru dari Uppsala University Swedia mengungkap bahwa risiko kanker payudara bisa berbeda tergantung jenis hormon dalam alat kontrasepsi yang dipakai. Melibatkan lebih dari 2 juta perempuan usia 13-49 tahun, studi ini menemukan satu kandungan progestin yang berkaitan dengan risiko lebih tinggi. Berikut penjelasan lengkapnya supaya ibu bisa berdiskusi lebih tenang dengan dokter.

Alat kontrasepsi jadi pilihan banyak pasangan untuk mengatur jarak kehamilan. Tapi kandungan hormon di dalamnya ternyata memberi efek berbeda-beda pada tubuh, termasuk pada risiko kanker payudara. Sebuah studi terbaru dari Swedia mencoba memetakan perbedaan itu secara lebih rinci.

Studi 2 Juta Perempuan di Swedia

Penelitian yang diterbitkan di JAMA Oncology mengamati 2.095.130 remaja perempuan dan perempuan usia 13-49 tahun di Swedia. Data registrasi nasional dipakai untuk mengikuti mereka selama periode 2006-2019.

Selama pemantauan, tercatat 16.385 kasus kanker payudara. Peneliti lalu membandingkan risiko berdasarkan jenis dan kandungan hormon pada alat kontrasepsi yang digunakan partisipan.

Peningkatan Risiko 24 Persen, Tapi...

Secara keseluruhan, pemakaian kontrasepsi hormonal berkaitan dengan kenaikan risiko kanker payudara sekitar 24 persen secara relatif. Angka ini terdengar besar, tapi peningkatan risiko absolutnya tergolong kecil, yakni sekitar satu kasus tambahan per 7.752 pengguna setiap tahun.

Artinya, hasil ini menunjukkan hubungan statistik, bukan kepastian bahwa kontrasepsi menyebabkan kanker pada seseorang. Penelitian sebelumnya juga lebih banyak menyoroti pil kombinasi, sementara metode berbasis progestin kini makin sering dipakai sehingga dampak jangka panjangnya perlu ditelaah lebih dalam.

Desogestrel dan Etonogestrel Perlu Dicermati

Temuan penting studi ini adalah adanya perbedaan risiko antarjenis progestin. Desogestrel menjadi salah satu kandungan yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi. Pada pengguna pil oral yang hanya berisi desogestrel, risikonya lebih tinggi dibanding kelompok pembanding pengguna pil kombinasi berbasis levonorgestrel.

Kontrasepsi kombinasi dengan desogestrel juga menunjukkan peningkatan risiko. Hal serupa terlihat pada implan yang mengandung etonogestrel, metabolit aktif dari desogestrel.

"Tidak semua kontrasepsi hormonal memberikan efek yang sama terhadap risiko kanker payudara. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa jenis progestin khususnya desogestrel dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi, sementara jenis lainnya, seperti suntikan depot medroxyprogesterone acetate, tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko," ujar Profesor Åsa Johansson, pemimpin kelompok penelitian di Uppsala University dan SciLifeLab sekaligus penulis senior studi.

Apakah Harus Langsung Berhenti?

Temuan ini bukan alasan untuk buru-buru menghentikan pemakaian kontrasepsi hormonal. Fatemeh Hadizadeh, penulis utama studi, menegaskan manfaat kontrasepsi hormonal tetap perlu diperhitungkan.

Selain mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, kontrasepsi hormonal diketahui menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium. Metode ini juga membantu meredakan nyeri haid serta perdarahan menstruasi yang berat.

"Kontrasepsi hormonal sangat efektif dan memberikan manfaat penting bagi kesehatan. Kami tidak menganjurkan perempuan untuk berhenti menggunakannya. Selain membantu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, kontrasepsi hormonal juga dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium, meredakan nyeri menstruasi serta perdarahan menstruasi yang berlebihan, membantu mengatasi jerawat, dan memberikan perempuan kendali yang lebih besar terhadap kesehatan reproduksinya," tuturnya.

Yang Perlu Ibu Diskusikan dengan Dokter

Pemilihan alat kontrasepsi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing perempuan. Faktor yang perlu dipertimbangkan mencakup usia, riwayat kesehatan, faktor risiko kanker payudara, jenis kontrasepsi, serta kebutuhan dalam mengatur kehamilan.

Jangan ragu menanyakan langsung ke dokter kandungan atau bidan soal kandungan hormon pada metode yang sedang atau akan dipakai. Diskusi terbuka membantu ibu memilih kontrasepsi yang paling sesuai, bukan sekadar ikut tren atau pilihan orang lain.

Hari Kontrasepsi Sedunia 26 September

Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) menyebut Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day diperingati setiap 26 September. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan penggunaan kontrasepsi sekaligus memberi pilihan bagi pasangan muda soal kesehatan seksual dan reproduksi mereka.

Kampanye tahunan ini juga mendorong perempuan lebih aktif mencari informasi akurat sebelum menentukan metode kontrasepsi. Dengan begitu, keputusan yang diambil benar-benar sesuai kondisi tubuh dan kebutuhan keluarga.

Memahami risiko bukan berarti takut memakai kontrasepsi. Justru dengan tahu perbedaannya, ibu bisa berdiskusi lebih tenang dengan tenaga kesehatan dan memilih metode yang paling aman untuk diri sendiri.

Sumber: haibunda.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks