KILASKINI.COM — Sebanyak 1.543 sampel ASI dari ibu di Kanada, Pakistan, dan Burkina Faso dianalisis peneliti NYU Grossman School of Medicine untuk melihat pola molekulnya. Hasilnya menunjukkan komposisi ASI menyimpan petunjuk soal status gizi ibu, fungsi kelenjar payudara, sampai pertumbuhan bayi. Simak apa saja yang terungkap dari studi terbaru ini.
Air susu ibu bukan sekadar cairan bergizi untuk si kecil. Di balik kandungannya yang kaya nutrisi, ASI menyimpan informasi biologis tentang tubuh ibu yang memproduksinya. Peneliti di NYU Grossman School of Medicine baru-baru ini memetakan pola molekuler ASI dari tiga populasi ibu yang berbeda secara geografis untuk memahami hubungan itu lebih dalam.
Apa yang Sebenarnya Diukur dalam Studi Ini
Tim peneliti menganalisis ribuan pengukuran molekuler dari 1.543 sampel ASI manusia yang dikumpulkan di Kanada, Pakistan, dan Burkina Faso. Mereka menggabungkan berbagai lapisan molekul, mulai dari metabolit, protein, mikronutrien seperti vitamin, makronutrien seperti karbohidrat, hingga oligosakarida susu manusia.
Data itu kemudian dipadukan dengan informasi pertumbuhan bayi dan pendekatan komputasi, termasuk pembelajaran mesin. Tujuannya bukan sekadar mendata apa yang ada di dalam susu, tetapi membaca apa yang bisa diungkapkan komposisi tersebut tentang kondisi biologis ibu.
Tiga Fungsi Kelenjar Payudara yang Terpetakan
Studi ini menyoroti tiga aspek fungsi kelenjar susu yang saling terkait. Pertama, sintesis dan sekresi susu, yaitu cara sel susu memproduksi komponen ASI lalu melepaskannya. Kedua, fungsi penghalang epitel dan remodeling jaringan, yang mengatur apa saja yang mengalir antara aliran darah dan susu sambil membentuk ulang jaringan penghasil susu.
Ketiga, aktivitas imun dan perbaikan, yang membantu melindungi kelenjar serta memulihkan jaringan setelah stres atau cedera. Dengan memetakan pola molekuler ke dalam proses biologis ini, para peneliti mendapat gambaran yang lebih utuh tentang cara kerja kelenjar payudara saat menyusui.
Mengapa ASI Disebut Jendela Biologis Ibu
Menurut Liat Shenhav, PhD, penulis senior studi sekaligus asisten profesor di NYU Grossman School of Medicine, ASI memberi peneliti akses yang jarang tersedia.
"ASI manusia memberi kita jendela langka dan non-invasif ke dalam biologi kelenjar payudara yang sedang menyusui," kata Shenhav, yang juga berafiliasi dengan Institut Genetika Sistem, Departemen Mikrobiologi, dan Departemen Obstetri dan Ginekologi.
Dengan melihat pola molekuler lintas populasi, peneliti bisa mengidentifikasi ciri fungsi payudara yang sama di berbagai negara. Mereka juga dapat memahami bagaimana kondisi nutrisi dan metabolik ibu berkaitan dengan komposisi susu serta pertumbuhan bayi.
Tujuh Penanda yang Paling Konsisten
Analisis peneliti menemukan tujuh kandidat biomarker yang paling konsisten berkaitan dengan status nutrisi ibu, pertumbuhan bayi, dan program biologis kelenjar payudara. Empat di antaranya adalah asilkarnitin rantai pendek, yaitu C2, C3, C4, dan C5, molekul yang membantu sel memproses nutrisi menjadi energi.
Tiga penanda lainnya adalah lisin (asam amino), 6? sialyllaktosa (oligosakarida susu manusia), dan selenium (mineral). Kadar C5 yang lebih tinggi tercatat berkaitan dengan penurunan tanda sintesis susu serta pola biologis yang terkait remodeling jaringan dan aktivitas imun.
Metabolisme asilkarnitin sendiri bergantung pada koenzim A, molekul sentral dalam metabolisme energi dan lipid yang disintesis dari asam pantotenat atau vitamin B5. Temuan ini membuka jalan bagi penelitian lanjutan soal peran nutrisi ibu dalam kualitas ASI.
Kapan Ibu Perlu Berkonsultasi
Studi ini adalah penelitian molekuler berskala laboratorium, bukan panduan praktis untuk menilai kualitas ASI di rumah. Kalau ibu khawatir soal kecukupan gizi selama menyusui atau pertumbuhan bayi yang terasa lambat, konsultasikan ke dokter anak dan ahli gizi. Pemeriksaan tumbuh kembang rutin di posyandu atau klinik tetap jadi cara paling praktis memantau kondisi si kecil.
Dari penelitian ini terlihat bahwa ASI membawa jejak kondisi tubuh ibu, mulai dari status gizi sampai fungsi kelenjar payudara. Bagi ibu menyusui, pesan praktisnya sederhana: menjaga asupan makan dan memeriksakan tumbuh kembang bayi secara berkala tetap jadi langkah paling masuk akal.