KILASKINI.COM — Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Syamsir Abduh menilai Hari Listrik Nasional ke-81 harus jadi momentum memperkuat pemerataan akses listrik, ketahanan energi, dan kemandirian industri kelistrikan nasional. Penilaian itu disampaikan di tengah tantangan geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau. Pemerataan pasokan listrik yang andal dan terjangkau dinilai menjadi kunci bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah terpencil.
Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Syamsir Abduh menegaskan sektor kelistrikan nasional tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai penyedia energi. Menurutnya, listrik berperan sebagai penggerak pembangunan industri dan inovasi teknologi. Pandangan itu disampaikan Syamsir dalam peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81, Rabu (28/10/2026).
Setiap 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional. Peringatan HLN 2026 mengusung tema "Energi untuk Semua, Kemandirian bagi Indonesia". Tema itu menekankan dua hal sekaligus: pemerataan akses listrik dan pengurangan ketergantungan pada teknologi serta energi impor.
Ukuran Keberhasilan Bukan Cuma Kapasitas Pembangkit
Syamsir menilai pembangunan sektor kelistrikan tidak cukup diukur dari kapasitas pembangkit yang terpasang. Ada sejumlah indikator lain yang sama pentingnya, mulai dari keandalan pasokan, keterjangkauan tarif, hingga manfaat langsung bagi masyarakat dan perekonomian.
"Keberhasilan pembangunan kelistrikan juga harus diukur dari berapa banyak masyarakat yang mendapatkan akses terhadap listrik yang andal, seberapa efektif listrik mendukung kegiatan ekonomi produktif, seberapa tangguh sistem kelistrikan dalam menghadapi gangguan eksternal, serta sejauh mana negara ini berhasil mengurangi dampak lingkungan dari pembangkitan listrik," ujar Syamsir.
Dia juga menyoroti pentingnya penguatan industri kelistrikan dalam negeri. Pengembangan teknologi energi terbarukan, peralatan kelistrikan, jaringan cerdas atau smart grid, penyimpanan energi, dan rekayasa sistem tenaga diharapkan menciptakan lapangan kerja terampil. Langkah itu sekaligus meningkatkan nilai tambah dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor.
Pemerataan Akses Masih Jadi PR di Ribuan Pulau
Di sisi lain, Syamsir mengakui pemerataan akses listrik masih menjadi tantangan besar. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau membuat distribusi pasokan tidak merata. Wilayah terpencil dan daerah yang belum terlayani optimal masih membutuhkan perhatian.
Menurut Syamsir, pasokan listrik yang andal, terjangkau, dan berkualitas dibutuhkan untuk mendukung pendidikan, layanan kesehatan, usaha lokal, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Kebutuhan itu paling terasa di daerah-daerah yang selama ini belum menikmati layanan listrik secara penuh.
Transisi Energi Harus Seiring Ketahanan Pasokan
Kemandirian energi menuntut percepatan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan panas bumi. Syamsir menekankan percepatan itu harus disertai penguatan jaringan transmisi dan distribusi, penyimpanan energi, serta digitalisasi sistem kelistrikan.
Transisi menuju energi bersih perlu berjalan seiring dengan ketahanan pasokan dan daya saing ekonomi. Tanpa itu, percepatan energi terbarukan berisiko mengganggu keandalan sistem yang sudah ada.
"Karena itu, kepastian regulasi dan kolaborasi pemerintah, PT PLN (Persero), investor, perguruan tinggi, serta masyarakat menjadi faktor penting dalam pelaksanaannya," tegas Syamsir.
Melalui momentum HLN ke-81, Syamsir berharap pengembangan sektor kelistrikan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Sektor ini juga perlu mendorong lahirnya inovasi, penguatan industri nasional, dan pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan.
Bagi Indonesia, arah itu menentukan posisi sektor kelistrikan ke depan. Listrik yang merata dan andal menjadi fondasi pemerataan kesejahteraan, sekaligus memperkuat kemandirian dan daya saing ekonomi nasional di tengah tekanan global.