Pencarian

BMKG Ungkap Alasan Prakiraan Cuaca Cerah tapi Hujan di Lokasi Kita

Rabu, 28 Oktober 2026 • 10:21:01 WIB
BMKG Ungkap Alasan Prakiraan Cuaca Cerah tapi Hujan di Lokasi Kita
BMKG menjelaskan prakiraan cuaca dapat meleset akibat dinamika atmosfer yang berubah tidak menentu.

KILASKINI.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan penyebab prakiraan cuaca bisa meleset dari kenyataan, termasuk saat ramalan cerah tapi wilayah kita justru diguyur hujan. Model cuaca berbasis perhitungan matematis itu bekerja dari data kondisi awal atmosfer yang bisa berubah tak menentu. Perbedaan kecil pada kondisi awal berpotensi menghasilkan prediksi yang jauh berbeda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap alasan prakiraan cuaca kadang tidak sesuai kenyataan. Sebagian wilayah bisa tiba-tiba diguyur hujan padahal ramalan menyebut cerah, atau sebaliknya hujan tak kunjung turun meski sudah diprakirakan.

Penjelasan itu disampaikan BMKG melalui unggahannya di Instagram, Minggu (25/10). Menurut BMKG, ketidakakuratan prakiraan cuaca salah satunya dipicu dinamika atmosfer yang berubah secara tidak menentu.

Bagaimana BMKG Menyusun Prakiraan Cuaca

BMKG mengamati dan mengolah data atmosfer menggunakan model cuaca. Model itu berupa perhitungan matematis yang menjadi representasi tiruan atau simulasi prakiraan cuaca ke depan.

Data kondisi awal atmosfer dikumpulkan dari berbagai alat pengukuran. Mulai dari termometer untuk suhu udara, barometer untuk tekanan udara, higrometer untuk kelembapan, anemometer untuk kecepatan dan arah angin, hingga pluviometer untuk jumlah curah hujan.

Selain alat di permukaan, BMKG juga memanfaatkan satelit dan radar cuaca di berbagai wilayah. Seluruh data itu menjadi bahan simulasi sebelum hasilnya disajikan sebagai prakiraan.

Mengapa Prediksi Bisa Meleset

Pada periode yang diprakirakan, kondisi atmosfer bisa berubah dari kondisi awal yang diamati BMKG. Akibatnya, cuaca yang benar-benar terjadi pada hari tersebut tidak sesuai hasil prediksi sebelumnya.

"Perbedaan kecil pada kondisi awal atmosfer berpotensi menghasilkan prakiraan cuaca yang berbeda," kata BMKG.

BMKG menganalogikannya seperti dua bola yang ditendang dari posisi sama ke arah berlawanan. Satu ke kanan, satu ke kiri. Posisi akhir keduanya akan jauh berbeda seiring bola semakin menjauh dari titik awal.

Hal serupa berlaku pada dinamika atmosfer. Meski kondisi awal menunjukkan tanda cuaca cerah atau hanya berawan, perubahan yang terjadi seiring waktu bisa membuat wilayah tersebut mengalami hujan.

Ikon Cuaca Hanya Tampilkan Kondisi Paling Signifikan

Faktor lain adalah cara infografis prakiraan cuaca BMKG disajikan. Infografis hanya menampilkan cuaca paling signifikan di suatu wilayah.

Prakiraan untuk satu kabupaten atau kota belum tentu berlaku untuk seluruh wilayah tersebut. Bisa jadi hujan diprediksi turun, tapi kenyataannya hanya terjadi di sebagian daerah.

Kondisi sebaliknya juga mungkin terjadi. Suatu daerah diprakirakan cerah, namun sebagian wilayahnya justru mengalami hujan.

"Misalnya, sebagian besar wilayah di Balikpapan berawan, tapi sebagian wilayah lainnya berpotensi hujan, maka ikon cuaca yang akan ditampilkan adalah ikon cuaca hujan. Jadi, belum tentu seluruh Balikpapan akan hujan," jelas BMKG.

Apa Artinya bagi Pengguna Informasi Cuaca

Penjelasan BMKG ini relevan bagi siapa pun yang mengandalkan prakiraan cuaca untuk aktivitas harian. Pengguna aplikasi cuaca di smartphone, pelaku usaha yang bergantung pada kondisi lapangan, hingga pengelola acara luar ruang perlu membaca prakiraan sebagai gambaran umum, bukan kepastian titik per titik.

BMKG menegaskan prakiraan disusun dari simulasi matematis atas data pengukuran nyata. Keterbatasan muncul ketika atmosfer bergerak di luar kondisi awal yang terekam alat, sehingga hasil simulasi bisa berbeda dari kejadian sebenarnya di lapangan.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks