KILASKINI.COM — Seorang ibu asal Australia, Winona Wyborn, menjadi sasaran hujatan netizen setelah membagikan pengalaman menyusui dua anaknya secara bersamaan. Reaksi negatif muncul karena ia dianggap "terlalu lama" memberikan ASI kepada anak keduanya yang sudah berusia dua tahun.
Kasus ini menyoroti kesalahpahaman umum tentang durasi menyusui. Banyak orang tua muda di Indonesia mungkin mengalami dilema serupa ketika harus membagi perhatian antara si kecil yang baru lahir dan kakak yang masih menyusu. Berikut adalah fakta medis dan panduan praktis terkait tandem nursing.
Apa Itu Tandem Nursing?
Tandem nursing adalah kondisi ketika seorang ibu menyusui bayi baru lahir dan anak yang lebih besar dalam periode yang sama. Praktik ini sering terjadi ketika ibu hamil lagi saat anak pertama atau kedua masih aktif menyusu.
Penting untuk dipahami bahwa tandem nursing tidak berarti kedua anak harus menyusu secara fisik pada waktu yang sama. Ibu dapat mengatur jadwal pemberian ASI sesuai kebutuhan masing-masing anak. Tujuannya adalah memastikan nutrisi terpenuhi bagi bayi sekaligus menjaga ikatan emosional dengan sang kakak.
Dukungan Organisasi Kesehatan Dunia
Kekhawatiran soal usia anak yang terlalu besar untuk menyusu sebenarnya tidak memiliki dasar medis yang kuat. American Academy of Pediatrics (AAP) mendukung pemberian ASI berkelanjutan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih, selama ibu dan anak menginginkannya.
Rekomendasi serupa juga diberikan oleh World Health Organization (WHO). Lembaga tersebut menganjurkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, lalu dilanjutkan bersama makanan pendamping hingga usia 2 tahun ke atas. Artinya, menyusui toddler bukan tindakan abnormal atau berbahaya secara klinis.
Apakah Produksi ASI Cukup untuk Dua Anak?
Ketakutan terbesar ibu biasanya berkaitan dengan kecukupan pasokan ASI. Leigh Anne O'Connor, konsultan laktasi bersertifikat internasional (IBCLC), menjelaskan bahwa tubuh ibu memiliki mekanisme adaptif yang canggih.
Produksi ASI akan menyesuaikan diri berdasarkan frekuensi dan kebutuhan penyusuan. Kondisi ini mirip dengan ibu yang menyusui bayi kembar. Tubuh tetap mampu menghasilkan kolostrum dan ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi baru lahir maupun kakaknya.
Namun, ada aturan prioritas yang wajib dipatuhi. AAP menyarankan agar bayi baru lahir selalu mendapatkan kesempatan menyusu terlebih dahulu. Hal ini krusial karena bayi sangat bergantung pada ASI untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhannya di masa awal kelahiran.
Manfaat Psikologis bagi Sang Kakak
Selain aspek nutrisi, tandem nursing menawarkan keuntungan emosional yang signifikan. Kehadiran adik baru sering kali memicu rasa cemburu atau regresi perilaku pada anak sulung.
Winona Wyborn menyatakan bahwa menyusui membantu dirinya menjaga kedekatan dengan anak keduanya yang sedang bertransisi dari peran "bayi" menjadi "kakak". Waktu menyusui menjadi momen eksklusif di mana ibu dan anak bisa terhubung kembali tanpa gangguan.
Pakar laktasi sepakat bahwa melanjutkan menyusui anak yang lebih besar dapat mempererat ikatan batin. Praktik ini berpotensi mencegah rasa tersingkir yang mungkin dialami anak saat fokus keluarga terbagi ke anggota baru.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Ahli?
Meskipun umumnya aman, setiap ibu perlu memantau respons tubuhnya sendiri. Jika merasa kelelahan ekstrem, nyeri payudara berkelanjutan, atau produksi ASI menurun drastis, segera hubungi konsultan laktasi atau dokter anak.
Keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan tandem nursing sepenuhnya berada di tangan ibu dan anak. Tidak ada tekanan sosial atau komentar negatif yang seharusnya memaksa ibu mengakhiri proses menyusui sebelum mereka siap. Fokuslah pada kenyamanan dan kesehatan bersama.