Pencarian

SIGAP EMAS: Program Tumbuh Kembang Anak di Lapas Perempuan Kerobokan

Jumat, 04 September 2026 • 05:48:31 WIB
SIGAP EMAS: Program Tumbuh Kembang Anak di Lapas Perempuan Kerobokan
Petugas kesehatan memeriksa tumbuh kembang anak bawaan warga binaan dalam peluncuran program SIGAP EMAS di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Kamis (3/9).

KILASKINI.COM — Sebuah program inovatif baru saja diluncurkan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Kamis (3/9). Namanya SIGAP EMAS, ditujukan untuk memastikan tumbuh kembang anak-anak bawaan warga binaan tetap optimal meski mereka tinggal di balik jeruji.

Apa Itu SIGAP EMAS?

SIGAP EMAS adalah singkatan dari Sinergi Pendampingan Tumbuh Kembang Anak Bawaan Warga Binaan pada Periode Emas. Program ini dilahirkan oleh Pemerintah Kabupaten Badung bersama Gerakan Badung Peduli sebagai perluasan layanan kesehatan hingga ke kelompok paling rentan.

Tidak sekadar pemeriksaan medis, program ini juga menyentuh aspek psikologis anak dan ibu. Harapannya, setiap anak yang lahir dan tumbuh di lapas tetap mendapat hak tumbuh kembangnya secara layak.

Anak yang Tidak Pernah Memilih Berada di Sana

Bunda PAUD Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, menegaskan bahwa anak-anak ini tidak punya pilihan atas kondisi yang mereka alami. “Anak-anak ini tidak pernah memilih untuk berada di sini. Karena keadaan, mereka terpaksa tinggal hingga batas usia tiga tahun,” ujarnya di hadapan para pejabat yang hadir.

Menurut aturan, anak bawaan hanya bisa tinggal bersama ibunya di lapas sampai usia tiga tahun. Setelah itu, mereka harus berpisah — momen yang berisiko meninggalkan trauma. “Kita harus memikirkan psikologis anak ketika nanti harus berpisah dengan ibunya,” lanjut Rasniathi.

Ia pun mengusulkan cara yang lebih humanis: anak-anak dikenalkan dengan lingkungan luar secara bertahap, misalnya saat akhir pekan, agar adaptasi tidak terjadi mendadak.

Gabungan Layanan Kesehatan dan Kemandirian

Program SIGAP EMAS tidak berjalan sendiri. Melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama, layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan berkala, Posyandu rutin, pendampingan psikologis, hingga pelatihan keterampilan kerja bagi para ibu warga binaan.

Kolaborasi ini melibatkan Dinas Kesehatan, DP2KBP3A, Disdikpora, akademisi Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, serta Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bali, Andi Wijaya Rivai, turut hadir bersama Kepala Lapas Ni Luh Putu Andiyani.

Jangan Berhenti di Seremonial

Di sela acara, Rasniathi juga menyempatkan melihat hasil karya warga binaan — keripik tempe, olahan pangan, hingga tas anyaman yang dinilai punya kualitas bersaing. Menurutnya, pembinaan kemandirian ini sudah berjalan baik dan perlu diteruskan.

Yang lebih penting, ia mengingatkan agar kerja sama ini tidak berhenti pada tanda tangan semata. “Langkah kecil ini akan membawa manfaat besar bagi warga binaan dan tumbuh kembang anak-anak mereka,” tegasnya.

Dengan adanya pendampingan yang konsisten, anak-anak yang lahir di lapas punya kesempatan tumbuh lebih baik, dan para ibu warga binaan bisa lebih siap kembali ke masyarakat.

Sumber: atnews.id

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks