Pencarian

Kecemasan pada Anak Bisa Bangun Kepercayaan Diri, Ini Cara Mengelolanya

Selasa, 25 Agustus 2026 • 06:06:31 WIB
Kecemasan pada Anak Bisa Bangun Kepercayaan Diri, Ini Cara Mengelolanya
Seorang anak terlihat menenangkan diri di tengah kegiatan belajar di kelas.

KILASKINI.COM — Setiap orang tua pasti pernah melihat buah hatinya gelisah menghadapi sesuatu—entah itu ujian sekolah, tampil di depan kelas, atau mencoba aktivitas baru. Reaksi naluriah kita mungkin langsung menenangkan atau bahkan menyelesaikan masalahnya. Padahal, psikolog klinis anak Kathryn Hecht justru menyarankan pendekatan yang berbeda.

Menurut Hecht, kecemasan adalah emosi dasar manusia yang muncul ketika menghadapi hal baru atau tidak pasti. Emosi ini bukan musuh yang harus dihilangkan, melainkan sinyal bahwa anak sedang berada di zona pertumbuhan. Kuncinya ada pada formula sederhana: Kecemasan + Keberanian = Kepercayaan Diri.

"Ketika anak-anak menyadari bahwa mereka dapat mengatasi sesuatu yang dulunya menakutkan, tanpa campur tangan orang tua, mereka dapat memperoleh peningkatan kepercayaan diri yang besar," ungkap Hecht dalam wawancaranya dengan CNBC Make It.

Mengapa Orang Tua Perlu Menahan Diri untuk Langsung Menolong

Secara naluriah, orang tua memang terprogram untuk merespons anak yang sedang kesulitan. Namun, ketika kita terlalu cepat turun tangan, tanpa sadar kita merampas kesempatan anak untuk membuktikan bahwa situasi tersebut sebenarnya aman bagi mereka.

Perilaku ini juga mengirim sinyal tersirat bahwa kita tidak percaya anak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Hecht mengingatkan bahwa kecemasan itu aman, dapat ditoleransi, dan bersifat sementara. "Mengalami perasaan-perasaan tersebut adalah langkah penting untuk melewatinya," jelasnya.

Jangan Memaksa, Biarkan Anak Mengambil Langkah Sendiri

Meski demikian, bukan berarti kita boleh membiarkan anak larut dalam ketakutannya. Kuncinya adalah keseimbangan. Memaksa anak berani—misalnya mendorongnya melompat dari papan loncat tinggi—tidak akan membangun keberanian yang sejati.

"Jika orang tua mencoba membujuk seorang anak untuk melompat dari papan loncat tinggi atau mendorong mereka ke kolam renang, itu tidak akan membuat mereka lebih berani. Agar kepercayaan diri terbangun, anak tersebut perlu mengambil langkah sendiri ke arah hal yang sulit tersebut," kata Hecht.

3 Cara Praktis Mengubah Kecemasan Anak Menjadi Keberanian

Orang tua bisa meningkatkan peluang anak menghadapi kecemasannya dengan menciptakan situasi yang mendukung. Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba di rumah.

1. Mulai dari Situasi Berisiko Rendah

Jika anak mengalami kecemasan sosial, bantu mereka membuat kemajuan kecil dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Misalnya, saat makan di restoran, tawarkan anak untuk memesan makanan penutup untuk seluruh keluarga. Langkah kecil ini melatih keberanian berkomunikasi tanpa tekanan berlebihan.

2. Jadilah Teladan Keberanian

Anak belajar banyak dari mengamati orang tuanya. Jika Bunda sendiri punya ketakutan—misalnya takut pada lebah—coba tunjukkan cara menghadapinya dengan tenang. Mengusir lebah keluar jendela dengan sikap kalem di depan Si Kecil sudah menjadi contoh nyata bahwa rasa takut bisa dikelola.

3. Rayakan Setiap Langkah Kecil

Setiap kemajuan, sekecil apa pun, layak diapresiasi. "Setiap langkah menuju lompatan tinggi adalah sesuatu yang dapat kita beri banyak perhatian dan soraki. Hal itu dapat membuat anak mulai bergerak ke arah yang kita harapkan, karena sering kali keberanian dibangun di atas keberanian," ujar Hecht.

Ubah Menghadapi Ketakutan Menjadi Permainan

Suasana yang menyenangkan dan penuh petualangan bisa menjadi katalisator keberanian anak. Bunda bisa mengubah proses menghadapi rasa takut menjadi sebuah permainan seru. Biarkan anak memimpin dan fokus pada minat pribadinya.

Contohnya, jika anak cemas berteman dengan orang baru, ajak mereka membuat jajak pendapat kecil-kecilan untuk mencari tahu berapa banyak teman sekelas yang menyukai acara televisi favoritnya. Pendekatan bermain ini tidak mengenal batas usia. "Ini adalah seperangkat alat dan pendekatan yang akan berhasil di seluruh spektrum usia hingga dewasa," tambah Hecht.

Dengan membiarkan anak merasakan kecemasan dan menghadapinya secara bertahap, kita membantu mereka membangun fondasi kepercayaan diri yang kokoh. Mereka belajar bahwa mereka mampu melewati masa sulit—pelajaran berharga yang akan terus berguna hingga dewasa.

Sumber: haibunda.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks