Pencarian

Skrining Kanker Payudara saat Hamil dan Menyusui: Panduan Aman untuk Ibu

Jumat, 30 Oktober 2026 • 09:00:31 WIB
Skrining Kanker Payudara saat Hamil dan Menyusui: Panduan Aman untuk Ibu
Ilustrasi pemeriksaan payudara pada ibu hamil dan menyusui.

KILASKINI.COM — Jumlah perempuan yang menunda kehamilan hingga usia lebih matang membuat kasus skrining kanker payudara selama hamil dan menyusui makin sering ditemui di ruang radiologi. Panduan berikut merangkum jenis pemeriksaan yang aman, teknik pencitraan yang perlu dihindari, serta kapan ibu sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Kehamilan dan masa menyusui bukan alasan untuk menunda pemeriksaan payudara. Justru di fase ini payudara mengalami perubahan fisiologis yang bisa menyamarkan benjolan jinak maupun ganas, sehingga deteksi dini menjadi kian penting.

Sayangnya, masih banyak ibu ragu karena khawatir soal keamanan radiasi bagi janin atau bayi. Kebingungan ini pula yang mendorong para ahli menegaskan perlunya informasi berbasis bukti yang jelas.

Mengapa Skrining Payudara di Masa Hamil dan Menyusui Makin Dibutuhkan

Haydee Ojeda-Fournier, MD, FACR, FSBI, Direktur Medis Breast Imaging di UC San Diego Health, menyebut pergeseran pola usia kehamilan ikut mengubah kebutuhan skrining. Makin banyak perempuan menunda kehamilan, makin banyak pula yang membutuhkan pemeriksaan payudara selama masa reproduksi, termasuk mereka dengan risiko genetik tinggi.

"Seiring semakin banyak perempuan menunda kehamilan hingga usia lanjut, para radiolog melihat semakin banyak perempuan yang membutuhkan skrining kanker payudara selama kehamilan dan laktasi," kata Ojeda-Fournier, dikutip dari artikel di jurnal RadioGraphics.

Mamografi Digital Dinilai Tetap Aman

Mamografi masih menjadi pilihan utama skrining selama hamil dan menyusui. Menurut Ojeda-Fournier, mamografi digital lapangan penuh maupun tomosintesis payudara digital dapat dilakukan dengan aman, dengan tingkat sensitivitas deteksi kanker yang dilaporkan antara 74 persen hingga 100 persen.

Meski begitu, pemeriksaan ini punya tantangan tersendiri. Jaringan payudara yang padat bisa mengaburkan temuan mamografi, sementara peningkatan jaringan selama masa laktasi membatasi visualisasi pada MRI.

Pencitraan yang Perlu Dihindari dan yang Masih Boleh

MRI payudara dengan kontras aman untuk ibu menyusui, tetapi tidak dianjurkan selama kehamilan. Sementara USG, walau berguna mengevaluasi benjolan yang terasa, dinilai kurang efektif sebagai alat skrining mandiri.

"USG memiliki tingkat positif palsu yang lebih tinggi, menyebabkan biopsi yang lebih tidak perlu, dan bukti yang sangat terbatas yang mendukung penggunaannya sebagai pemeriksaan skrining mandiri pada perempuan hamil atau menyusui," jelas Ojeda-Fournier.

Jika temuan pencitraan memerlukan evaluasi lanjutan, prosedur biopsi berpemandu gambar tetap aman di kedua fase tersebut. Risiko fistula susu sangat rendah dan bisa ditangani, sehingga biopsi tidak seharusnya ditunda hanya karena ibu sedang hamil atau menyusui.

Keterbatasan Data dan Peran Konsultasi Dokter

Tantangan terbesar dalam skrining kelompok ini adalah minimnya bukti ilmiah. Perempuan hamil dan menyusui selama ini dikecualikan dari uji klinis acak, sehingga radiolog mengandalkan data observasi, prinsip keamanan, dan konsensus ahli.

Karena itu, pemilihan jenis pencitraan sebaiknya disesuaikan dengan usia dan faktor risiko masing-masing ibu, bukan menerapkan semua modalitas sekaligus. Radiolog dapat merujuk pada Kriteria Kesesuaian American College of Radiology 2025 serta pedoman National Comprehensive Cancer Network.

Bila ibu merasa cemas soal paparan radiasi, sampaikan langsung kepada dokter. Diskusikan dengan bahasa sederhana agar informasi keamanan dan keterbatasan pemeriksaan bisa dipahami tanpa menimbulkan kekhawatiran berlebih.

Kapan Perlu Segera ke Dokter

Segera konsultasikan ke dokter bila ibu hamil atau menyusui menemukan benjolan baru, perubahan bentuk atau tekstur kulit payudara, keluarnya cairan tidak wajar, atau nyeri menetap yang tidak kunjung reda. Pemeriksaan lebih awal membantu memastikan penyebabnya, sekaligus menepis kemungkinan yang lebih serius.

Skrining yang tepat waktu memberi ibu ketenangan menjalani kehamilan dan menyusui. Diskusikan kebutuhan pemeriksaan payudara bersama dokter kandungan atau radiolog agar langkah yang diambil sesuai kondisi tubuh dan riwayat risiko masing-masing.

Sumber: haibunda.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks