Pencarian

Bos Instagram Prediksi Kemarahan Publik pada AI Makin Parah

Jumat, 30 Oktober 2026 • 10:21:01 WIB
Bos Instagram Prediksi Kemarahan Publik pada AI Makin Parah
Kepala Instagram Adam Mosseri memprediksi gelombang kemarahan publik terhadap AI akan semakin memburuk dalam beberapa tahun ke depan.

KILASKINI.COM — Adam Mosseri, kepala Instagram, memperkirakan gelombang frustrasi dan kemarahan publik terhadap kecerdasan buatan bakal memburuk dalam beberapa tahun ke depan, terutama di kalangan pekerja kreatif. Dalam wawancara podcast Colin and Samir, Mosseri menilai penolakan itu kini meluas dari anak muda dan seniman ke masyarakat umum. Sikap publik terhadap AI menjadi penting karena platform seperti Instagram mulai membedakan perlakuan algoritma untuk konten AI dan buatan manusia.

Pernyataan Mosseri muncul di tengah maraknya aksi mahasiswa dan wisudawan yang menyoraki para bos teknologi saat menyampaikan pidato di kelulusan kampus. Dalam wawancara podcast Colin and Samir, ia menilai penolakan terhadap AI tidak lagi hanya datang dari anak muda atau pekerja seni, melainkan sudah meluas ke masyarakat umum.

Peringatan Mosseri soal Eskalasi Penolakan AI

Mosseri memprediksi tekanan publik terhadap industri AI akan terus meningkat dan menyulitkan banyak pihak, bukan hanya pelaku di sektor teknologi.

"Fenomena ini tidak hanya makin parah, tetapi bakal terus memburuk. Saya rasa kita akan melihat lebih banyak frustrasi dan kemarahan--sebagian beralasan, sebagian lagi tidak--dalam kurun beberapa tahun ke depan. Hal ini akan menyulitkan banyak orang, bukan hanya pelaku di industri teknologi," ungkap Mosseri.

Ia tidak merinci bentuk tekanan seperti apa yang ia maksud. Namun pernyataan itu memberi sinyal bahwa perusahaan platform mesti menyiapkan strategi komunikasi dan kebijakan produk untuk meredam sentimen negatif terhadap AI.

Sikap Instagram terhadap Konten AI Slop

Mosseri turut menyinggung fenomena AI slop, sebutan untuk tumpukan konten AI berkualitas rendah, sampah, atau manipulatif yang membanjiri media sosial. Menurutnya, istilah itu kini dipakai terlalu bebas, tetapi Instagram tetap membedakan perlakuan algoritma terhadap konten AI dan konten buatan manusia.

"Ada banyak konten AI yang bagus, tetapi ada juga banyak 'AI slop'. Apakah kami memberi peringkat konten AI sebaik konten non-AI? Kemungkinan besar tidak," tegas Mosseri.

Instagram telah meluncurkan fitur label khusus dan mulai mewajibkan akun buatan AI memasang identitas secara transparan agar pengguna paham apa yang mereka lihat. Meski begitu, Mosseri menilai pemblokiran total terhadap konten AI bukan opsi yang masuk akal.

"Saya rasa tidak praktis bagi kami untuk mencoba melarang penuh konten AI dari platform," tambahnya.

Empat Ketakutan Kreator yang Mendorong Penolakan

Mosseri membedah sejumlah kekhawatiran mendalam yang dirasakan kreator konten, engineer, hingga akademisi terkait disrupsi AI. Pertama, soal hak cipta dan pelatihan model, yakni kekhawatiran karya pribadi dicuri tanpa izin untuk melatih model AI.

Kedua, manipulasi digital berupa maraknya konten penipuan seperti celebrity deepfakes yang merugikan. Ketiga, pergeseran lapangan kerja, yaitu kecemasan bahwa peran manusia sebagai kreator maupun insinyur bakal digantikan otomatisasi mesin.

Keempat, ketakutan tertinggal, yakni kekhawatiran mendasar akan kehilangan relevansi di tengah pesatnya laju teknologi. Menurut Mosseri, akar dari penolakan publik terhadap AI adalah rasa takut akan tertinggal dan kehilangan kendali atas karya serta mata pencaharian mereka di masa depan.

Pernyataan ini dikutip detikINET dari The Verge. Bagi pengguna Instagram di Indonesia, kebijakan label konten AI dan pembedaan ranking algoritma menjadi hal yang perlu dicermati, terutama saat platform memperluas aturan transparansi konten sintetis ke berbagai pasar.

Sumber: inet.detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks