Bursa Sawit Baru Icomex Diminta Mampu Bersaing, GAPKI Sebut Transaksi CPO Saat Ini Sudah Transparan
JAKARTA — Rencana pemerintah meluncurkan bursa komoditas baru bernama Indonesia Commodity Exchange (Icomex) mendapat sorotan dari pelaku industri kelapa sawit. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menilai keberadaan bursa tambahan tidak menjadi masalah selama mampu memberikan nilai tambah dan bersaing ketat dengan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) yang sudah beroperasi lebih dulu.
Menurut Eddy, tujuan utama pembentukan bursa komoditas adalah menciptakan transparansi harga. Namun, ia menilai harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya saat ini sudah cukup transparan karena mengikuti mekanisme pasar yang terbuka.
“Untuk rencana akan dibentuk lagi bursa tidak ada masalah, yang penting bisa bersaing dengan bursa yang telah ada. Sebenarnya mengenai harga saat ini juga sudah transparan,” tuturnya, Rabu (19/8/2026).
Volume Transaksi di ICDX Masih Minim
GAPKI mengakui industri sawit sebenarnya sudah memiliki sarana perdagangan melalui ICDX. Hanya saja, volume transaksi di bursa tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan perdagangan langsung antar pelaku usaha.
“Sebenarnya sudah ada bursa untuk sawit yaitu ICDX, hanya volume transaksinya masih kecil,” ujar Eddy Martono.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah jika ingin mempopulerkan perdagangan CPO melalui bursa berjangka. Tanpa insentif dan skema yang menarik, pelaku usaha dinilai akan tetap bertahan pada pola transaksi yang sudah berjalan selama ini.
Mengapa Perdagangan Langsung Masih Mendominasi?
Eddy menjelaskan bahwa perdagangan CPO di dalam negeri selama ini lebih banyak dilakukan melalui mekanisme business to business (B2B). Hal itu terjadi karena mayoritas perusahaan perkebunan kelapa sawit bukanlah eksportir langsung.
Produksi dari banyak perusahaan perkebunan dinilai belum cukup besar untuk mencapai skala ekonomi ekspor secara mandiri. Karena itu, perusahaan eksportir biasanya membeli pasokan dari sejumlah perusahaan perkebunan sebelum mengirimkannya ke pasar internasional.
“Memang saat ini transaksi lebih ke B2B sebab kebanyakan perusahaan perkebunan kelapa sawit bukan eksportir, karena jumlah produksinya tidak ekonomis untuk diekspor. Jadi apabila akan diekspor maka pembelinya perusahaan memang eksportir, mereka membeli dari beberapa perusahaan, baru ekspor, selain mereka juga produksi sendiri,” jelas Eddy.
Keunggulan Skema B2B bagi Perusahaan Menengah
Skema B2B dinilai masih menawarkan sejumlah keunggulan, terutama bagi perusahaan perkebunan skala menengah dan kecil. Dalam praktiknya, pembeli dapat melakukan pembayaran di muka hingga 100 persen, sementara penyerahan barang biasanya berlangsung dalam kurun waktu satu hingga dua minggu.
Pola tersebut masih dikategorikan sebagai transaksi spot market, sehingga dianggap lebih fleksibel dan menarik bagi pelaku usaha. Skema ini juga memberikan kepastian pembayaran dan memudahkan pengelolaan arus kas perusahaan, terutama di tengah dinamika harga CPO yang dipengaruhi pasar global.
CPO, Nikel, dan Batu Bara Bakal Masuk Icomex?
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas strategis tengah dipertimbangkan untuk diperdagangkan melalui bursa baru tersebut. Beberapa komoditas yang disebut antara lain crude palm oil (CPO), nikel, dan batu bara.
Meski demikian, pemerintah masih melakukan pembahasan terkait komoditas mana saja yang akan masuk dalam skema perdagangan bursa tersebut. Keputusan final disebut belum diambil.
“Belum, belum diputuskan. Yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu produksi kita,” ujar Prasetyo Hadi.