Tesla Hentikan Produksi Solar Roof, Fokus Penuh ke Cybercab dan Ekspansi Semi Eropa
Kabar mengejutkan datang dari Tesla. Dalam episode terbaru podcast Electrek yang tayang Jumat lalu, terungkap bahwa perusahaan milik Elon Musk ini telah menghentikan produksi Solar Roof—produk atap surya yang sempat menjadi andalan di segmen energi terbarukan.
Tesla menilai teknologi ini tidak lagi layak secara ekonomi. Padahal, Solar Roof awalnya diposisikan sebagai produk premium yang memadukan estetika atap rumah dengan fungsi panel surya.
Alasan Ekonomi di Balik Penghentian Solar Roof
Sejak diperkenalkan pada 2016, Solar Roof menghadapi tantangan berat. Biaya produksi dan pemasangan yang tinggi membuat harga jualnya jauh di atas kompetitor, sementara permintaan pasar tak pernah mencapai volume yang diharapkan.
Langkah ini menegaskan fokus Tesla pada bisnis utama: kendaraan listrik dan solusi penyimpanan energi. Keputusan ini juga menjadi bagian dari efisiensi operasional di tengah persaingan ketat sektor energi terbarukan.
Cybercab dan Fokus Baru Tesla pada Robotaxi
Di sisi lain, Tesla tengah bersiap meluncurkan Cybercab, layanan robotaxi yang sempat tertunda beberapa kali. Peluncuran ini menjadi prioritas utama, meskipun pertanyaan besar masih menggantung soal kesiapan teknologi otonom di jalan raya.
Menariknya, mantan presiden Tesla, Jon McNeill, mengungkapkan bahwa penundaan pengembangan Roadster generasi baru terkait erat dengan upaya perusahaan mendekatkan diri ke SpaceX menjelang potensi merger. Pernyataan ini memicu spekulasi soal arah strategis Tesla ke depan.
Ekspansi Tesla Semi ke Eropa dan Pesanan Raksasa
Tesla juga mengonfirmasi bahwa truk listrik Semi akan segera hadir di Eropa. Rencana ini akan diumumkan resmi pada ajang IAA Transportation mendatang—kabar yang datang setelah perusahaan logistik Swedia, Einride, memesan 500 unit dalam transaksi truk listrik terbesar yang pernah ada.
Selain itu, Tesla baru saja merilis adaptor Vehicle-to-Load (V2L) seharga USD 80 atau sekitar Rp 1,2 juta untuk Model Y Premium. Dengan adaptor ini, pemilik Model Y bisa menggunakan baterai mobilnya untuk menyalakan perangkat elektronik eksternal—fitur yang sudah lama dinantikan pengguna setia Tesla.
Persaingan Ketat: Genesis GV90 dan BYD
Di segmen SUV listrik mewah, Genesis memperkenalkan GV90 yang dilengkapi coach doors—pintu belakang yang membuka berlawanan arah. Model ini menargetkan pembeli yang menginginkan kemewahan ekstra dengan sentuhan futuristik.
Sementara itu, BYD kembali menggebrak dengan SUV listrik 5-seater terbaru yang diklaim memiliki jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer dan kemampuan pengisian daya hanya 5 menit. Angka ini menjadi lompatan besar dalam teknologi baterai dan ancaman serius bagi pemain lama di pasar kendaraan listrik global.
Di tengah hiruk-pikuk persaingan, Ferrari juga mencuri perhatian dengan menjual unit pertama mobil listriknya, Luce, seharga USD 40 juta atau sekitar Rp 640 miliar—36 kali lipat dari estimasi awal. Angka ini membuktikan bahwa pasar mobil listrik mewah masih memiliki ruang tumbuh yang besar.