TKDN Pertamina 71,14% Sepanjang 2025, Belanja Produk Lokal Tembus Rp 531,5 Triliun
KILASKINI.COM — Realisasi TKDN tersebut diperoleh dari hasil verifikasi terhadap pekerjaan dan kontrak yang dilaksanakan di holding serta seluruh subholding Pertamina sepanjang 2025. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi langkah ini dalam acara P3DN Summit 2026 Lintas Kementerian di Jakarta, Rabu (22/7).
Agus menyatakan, dari total belanja Rp 531,5 triliun tersebut, sekitar Rp 309,6 triliun dialokasikan untuk pengadaan infrastruktur, operasional, dan pemeliharaan yang menyerap berbagai produk manufaktur nasional. Sisanya, Pertamina juga merealisasikan pengadaan barang dan jasa kepada UMKM melalui platform digital dengan nilai mencapai Rp 14,2 triliun.
Strategi Pertamina Menaikkan Penggunaan Produk Lokal
Untuk mencapai TKDN 71,14%, Pertamina menjalankan sejumlah strategi. Langkah utama meliputi penyusunan regulasi dan roadmap peningkatan TKDN, substitusi produk impor dengan produk lokal, hingga pengelolaan sertifikasi TKDN. Perusahaan juga melakukan digitalisasi sistem perencanaan, monitoring, dan verifikasi implementasi TKDN di seluruh Pertamina Group.
Upaya ini merupakan kelanjutan dari tren positif belanja produk lokal. Pada 2024, nilai penggunaan produk dalam negeri di seluruh lini usaha Pertamina mencapai Rp 415,4 triliun, meningkat dibandingkan Rp 374 triliun pada 2023.
Efek Berganda bagi Industri dan Tenaga Kerja
Agus menilai besarnya belanja tersebut memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan utilisasi industri nasional, memperkuat rantai pasok domestik, serta memperluas penyerapan tenaga kerja. "P3DN bukan sekadar kebijakan pengadaan barang dan jasa, tetapi merupakan strategi besar untuk memperkuat struktur industri nasional," ujar Agus.
Menurutnya, setiap belanja terhadap produk dalam negeri akan memberikan efek berganda yang menggerakkan sektor industri, meningkatkan permintaan bahan baku lokal, dan memperluas kesempatan kerja. "Pemerintah mengapresiasi komitmen Pertamina yang telah menempatkan penggunaan produk dalam negeri sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan," tegasnya.
Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai posisi Pertamina sangat strategis sebagai penggerak permintaan. "Jadi industri migas, terutama Pertamina, bisa menjadi motor penggeraknya," kata Toto saat dihubungi.
Dukungan Anggota Komisi XII dan Komitmen Ke Depan
Anggota Komisi XII DPR RI Ramson Siagian menilai capaian TKDN 71,14% sangat signifikan, terutama di tengah banyaknya peralatan canggih dalam industri migas. Menurutnya, angka tersebut tetap menjaga produktivitas dan efisiensi operasional. "TKDN 71,14% cukup signifikan dengan tetap terjaganya produktivitas dan efisiensi. Dari sisi kualitas dan spesifikasi dan lifetime yang lama," kata Ramson.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan kebijakan P3DN telah membawa dampak positif bagi perekonomian negara. "Kebijakan ini telah membawa dampak yang sangat positif bagi perekonomian negara, menggerakkan sektor industri, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan tenaga kerja dan ekonomi rakyat," jelas Baron.
Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan belanja produk dalam negeri. Perusahaan berharap semakin banyak industri kecil dan menengah yang dapat mendukung operasional perusahaan, mulai dari sektor hulu, pengolahan, hingga pemasaran dan niaga.