Target Devisa Pariwisata 2029 Tembus USD 39,4 Miliar, Ini Dampaknya buat Traveler

Suasana kawasan wisata di Kabupaten Badung, Bali, tampak ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik.
Penulis: Doni
Kamis, 27 Agustus 2026 | 22:03:01 WIB

KILASKINI.COM — Badung, Kabupaten Badung, Bali — Kementerian Pariwisata menargetkan penerimaan devisa dari sektor pariwisata mencapai USD 39,4 miliar pada 2029. Angka tersebut menjadi pijakan baru bagi pengembangan industri wisata nasional yang selama ini bertumpu pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

Target ini bukan sekadar angka di atas kertas. Untuk mewujudkannya, pemerintah mengandalkan penguatan investasi di sektor pariwisata serta peningkatan daya saing destinasi di kancah global.

Dari Mana Angka USD 39,4 Miliar Berasal?

Penerimaan devisa pariwisata dihitung dari total belanja wisman selama berada di Indonesia, mencakup akomodasi, transportasi lokal, kuliner, hingga suvenir. Semakin lama durasi tinggal dan semakin besar pengeluaran harian, semakin besar kontribusinya terhadap target ini.

Dibandingkan capaian beberapa tahun terakhir yang berkisar di angka USD 10-15 miliar, target USD 39,4 miliar merupakan lompatan besar. Artinya, Indonesia tidak hanya mengejar kuantitas kunjungan, tetapi juga kualitas belanja wisatawan.

Investasi dan Daya Saing Jadi Kunci Utama

Dua pilar utama yang digenjot untuk mencapai target tersebut adalah investasi dan daya saing. Investasi difokuskan pada pembangunan hotel berbintang, pengembangan destinasi super prioritas, serta peningkatan konektivitas udara ke kota-kota wisata.

Di sisi lain, daya saing diukur dari kemudahan akses visa, kualitas layanan di destinasi, hingga kebersihan dan keamanan. Peningkatan ini diharapkan membuat wisatawan betah lebih lama dan terdorong untuk kembali lagi.

Apa Artinya bagi Wisatawan Domestik?

Meski berorientasi pada wisman, target ini berdampak langsung pada traveler domestik. Infrastruktur yang dibangun untuk menarik turis asing—seperti bandara baru, jalan tol menuju kawasan wisata, dan revitalisasi objek wisata—juga dinikmati wisatawan lokal.

Destinasi yang sebelumnya minim fasilitas kemungkinan besar akan mengalami peningkatan kualitas. Ini kabar baik bagi Anda yang gemar menjelajah daerah terpencil di Indonesia.

Kapan Target Ini Akan Mulai Terasa?

Proyeksi ini dicanangkan untuk periode lima tahun ke depan, dengan sasaran bertahap setiap tahunnya. Pada 2029 nanti, diharapkan ekosistem pariwisata Indonesia sudah jauh lebih matang dan kompetitif di tingkat Asia Tenggara.

Bagi Anda yang merencanakan liburan jangka panjang atau investasi properti wisata, tren ini patut dicermati. Pertumbuhan sektor pariwisata biasanya berbanding lurus dengan kenaikan nilai properti dan bisnis pendukung di sekitarnya.

Destinasi yang Diprediksi Jadi Fokus Utama

Meski belum dirinci secara spesifik dalam pengumuman ini, pemerintah selama ini konsisten mengembangkan lima destinasi super prioritas: Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Kawasan-kawasan ini diproyeksikan menjadi mesin utama pertumbuhan devisa.

Perlu dicatat, pencapaian target ini juga bergantung pada stabilitas geopolitik global dan tren perjalanan internasional pasca-pandemi. Jika kondisi dunia mendukung, bukan tidak mungkin realisasi devisa bisa melampaui proyeksi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan investasi dan destinasi prioritas, Anda dapat memantau laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sementara itu, bagi traveler, ini saat yang tepat untuk mulai merencanakan eksplorasi destinasi-destinasi baru di Indonesia yang sedang bertransformasi.

Reporter: Doni