KILASKINI.COM — Pelemahan ini sekaligus memangkas penguatan emas yang sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei 2026 pada Selasa (25/8/2026) lalu. Kontrak berjangka emas AS juga ditutup di zona merah, turun 0,9 persen ke level USD4.653,30 per ons.
Tekanan tambahan datang dari indeks dolar AS yang naik 0,3 persen. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang greenback menjadi semakin mahal bagi investor pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan cenderung turun.
Inflasi AS Lebih Panas dari Perkiraan, The Fed Kembali Jadi Pusat Perhatian
Inflasi AS yang tercatat 3,7 persen secara tahunan (year-on-year) hingga Juli 2026 berada sedikit di atas konsensus pasar. Angka ini mengkhawatirkan pelaku pasar karena dapat memaksa Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan bulan depan.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Sebab, logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield) dan daya tariknya akan berkurang ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat.
Pernyataan Kevin Warsh Dinanti Investor Pekan Ini
Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter, para investor kini mengalihkan fokus pada agenda pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pekan ini. Pernyataan dari pejabat tertinggi bank sentral AS tersebut akan menjadi petunjuk utama mengenai langkah suku bunga berikutnya.
Pasar ingin melihat apakah The Fed akan memilih untuk menahan suku bunga lebih lama atau justru melanjutkan siklus pengetatan moneter mengingat inflasi yang masih bandel. Sinyal yang disampaikan Warsh akan menentukan arah pergerakan dolar AS dan harga emas dalam beberapa pekan ke depan.
Investasi mengandung risiko.