Cegah Stunting Sejak Hamil: Peran Ayah dan Gizi Ibu yang Wajib Dipahami
KILASKINI.COM — Menjadi ibu adalah perjalanan panjang yang dimulai bahkan sebelum si kecil lahir ke dunia. Salah satu fondasi terpenting yang bisa kita berikan untuk masa depan anak adalah memastikan kesehatan optimal selama masa kehamilan. Ini bukan sekadar tentang ibu, melainkan tentang menyiapkan generasi yang lebih sehat dan kuat.
Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, dalam acara "Merdeka Stunting" di Jakarta, Kamis lalu, mengingatkan bahwa perhatian pada ibu hamil adalah langkah krusial untuk mencegah stunting. "Kalau kita bicara stunting kita harus mulai dari ibu. Ketika seorang perempuan hamil, yang kita siapkan bukan hanya kesehatan ibu, tetapi juga masa depan anak," ujarnya. Ini panggilan bagi kita semua untuk lebih peduli pada kebutuhan gizi dan kesehatan ibu sejak awal kehamilan.
Stunting Bukan Hanya Urusan Ibu, Ini Tanggung Jawab Bersama
Seringkali beban menjaga kehamilan terasa berat jika ditanggung sendiri. Padahal, Veronica Tan menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan kepada perempuan seorang diri. Suami dan keluarga terdekat memiliki peran yang sangat vital.
"Tanggung jawab menjaga kesehatan ibu dan anak tidak dapat dibebankan kepada perempuan seorang diri. Ayah dan keluarga perlu terlibat sejak pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi, persiapan persalinan, hingga pengasuhan anak," jelas Veronica Tan.
Kehadiran ayah bukan hanya sebagai pendukung moral, tetapi juga mitra aktif dalam setiap langkah. Mulai dari menemani kontrol kandungan, memastikan asupan makanan bergizi tersedia, hingga menyiapkan mental dan fisik untuk proses persalinan. Keterlibatan ini membuat ibu merasa didukung dan lebih tenang, yang berdampak positif pada tumbuh kembang janin.
Manfaatkan Pangan Lokal untuk Ketahanan Gizi Keluarga
Selain pendampingan, pemenuhan gizi menjadi pilar utama pencegahan stunting. Kementerian PPPA kini tengah mendorong pemanfaatan pangan lokal melalui program Kebun Pangan Lokal Perempuan. Tujuannya bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi ibu-ibu di rumah.
"Perempuan bisa memanfaatkan apa yang ada di lingkungannya. Ada tanaman pangan, tanaman obat, rempah, kopi, pala, bambu, dan berbagai komoditas lainnya. Potensi ini dapat mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus menjadi sumber ekonomi," kata Veronica Tan.
Ini adalah pengingat bahwa makanan bergizi tidak harus mahal atau impor. Di sekitar kita, banyak sekali sumber pangan lokal yang kaya nutrisi dan bisa diolah menjadi menu sehat untuk ibu hamil dan anak. Dengan memberdayakan potensi lokal, kita sekaligus memperkuat ekonomi keluarga dan memastikan asupan gizi terbaik untuk buah hati.
Target Prevalensi Stunting 14,2 Persen: Peran Kita Semua
Pemerintah telah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029. Angka ini bukan hanya tugas pemerintah, melainkan butuh gerakan bersama dari seluruh lapisan masyarakat. Setiap keluarga yang sadar akan pentingnya gizi dan pendampingan selama kehamilan adalah kontributor nyata bagi masa depan bangsa.
"Kehamilan memang dialami perempuan, tetapi kesehatan ibu dan anak merupakan tanggung jawab bersama. Perhatian terhadap ibu hamil menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat. Di sinilah peran dan kehadiran ayah sangat penting," pungkas Veronica Tan.
Mari mulai dari keluarga kita sendiri. Pastikan ibu hamil mendapatkan makanan bergizi, istirahat cukup, dan dukungan emosional dari suami dan keluarga. Jangan ragu untuk aktif memeriksakan kehamilan secara rutin ke fasilitas kesehatan. Dengan begitu, kita tidak hanya mencegah stunting, tetapi juga menyiapkan anak-anak Indonesia yang cerdas dan berdaya saing.