5 Cara Orang Tua Mendidik Clarissa yang Diterima 14 Kampus di Luar Negeri

Clarissa, lulusan terbaik MH Thamrin, berfoto bersama orang tuanya yang menerapkan pola asuh tanpa paksaan.
Penulis: Farah
Rabu, 02 September 2026 | 06:09:01 WIB

KILASKINI.COM — Orang tua Clarissa mengaku tidak pernah memaksakan minat tertentu kepada anaknya. Saat duduk di bangku SD, Clarissa adalah anak biasa yang gemar bermain game dan sempat bercita-cita menjadi YouTuber.

Sang ayah, Tri Febriantono Saputra, menceritakan bahwa ia dan istrinya hanya meminta Clarissa untuk fokus belajar dan mengikutkannya les bahasa Inggris. Ketertarikan Clarissa pada fisika dan robotika muncul dengan sendirinya, bukan karena diarahkan.

"Jadi dulu waktu SD, dia itu sebenarnya anaknya biasa aja seperti anak-anak lain yang suka main game. Dulu sempat jadi YouTuber," tutur Febri.

Mulai Berani Ambisius di Masa Pandemi

Perubahan besar Clarisssa terlihat saat pandemi COVID-19. Di kamarnya, ia memasang poster tokoh-tokoh besar seperti Einstein dan Marie Curie sebagai inspirasi. Ia kemudian mulai menyusun strategi untuk bisa tembus SMA impiannya, MH Thamrin.

Usahanya membuahkan hasil. Dari siswa biasa, Clarissa berhasil menjadi lulusan terbaik (valedictorian) di angkatannya di MH Thamrin.

Melatih Kemandirian dengan Disiplin Koper

Metode unik yang diterapkan keluarga ini adalah "disiplin koper". Sejak usia 7 tahun, Clarissa dan adiknya diwajibkan membawa koper sendiri saat bepergian ke luar negeri.

Bahkan saat mereka menginjak usia 10 tahun, kedua anak itu sudah mampu membawa dua koper besar tanpa bantuan orang dewasa. Keluarga ini sengaja menggunakan transportasi umum seperti bus dan kereta agar anak-anak terbiasa mandiri.

"Saya membuat dia belajar mandiri, saya nggak mau ngasih. Kita naik angkutan umum ya naik bus naik kereta, kamu harus bawa koper sendiri. Akhirnya itu sangat membantu, jadi anak-anak jadi lebih mandiri," ujar Febri.

Membangun Fondasi Hard Skill Sejak Dini

Meski tidak memaksa soal minat, sang ibu, Ratna Komala Dewi, tetap memastikan Clarissa punya dasar hard skill yang kuat. Sejak kecil, Clarissa sudah diikutkan les bahasa Inggris dan matematika.

Pengalaman sang ibu yang tengah menempuh studi spesialis kedokteran saat Clarissa kecil juga turut memengaruhi cara pandang anaknya. Meski seorang dokter, Ratna tidak pernah memaksa Clarissa mengikuti jejaknya.

Mengajarkan Resiliensi saat Gagal

Perjalanan Clarissa tidak selalu mulus. Ia sempat ditolak kampus impiannya, MIT, dan gagal meraih medali emas di OSN Nasional. Alih-alih memberi hukuman, orang tuanya justru memberikan dukungan moral dan doa.

"Kami bilang, buktikan ke teman-teman kamu yang diterima di kampus-kampus terkemuka di USA bahwa kamu bisa melebihi mereka dengan prestasi," ujar sang ayah.

Dukungan itu terbukti berhasil. Clarissa kini menempuh pendidikan di University of California (UC) San Diego dan berhasil membangun dua startup bernama Clean AI dan StudiLanjut bersama rekannya. Salah satunya mendapat pendanaan 50.000 dolar dari startup accelerator di San Francisco, dan kini di-back oleh Y Combinator.

Kunci dari pola asuh ini adalah keseimbangan antara memberi kebebasan bereksplorasi dan tetap memberikan arahan tegas di masa transisi. Anak perlu diberi ruang untuk menemukan passion-nya sendiri, namun orang tua tetap hadir sebagai pendukung saat mereka menghadapi kegagalan.

Reporter: Farah