PALOPO — Limbah empelur sagu yang selama ini kerap dibuang begitu saja kini disulap menjadi produk panel ecocomposite oleh warga Kelurahan Jaya, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo. Inisiatif ini merupakan kelanjutan program tahun sebelumnya yang dikembangkan oleh Tim PKM Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo dengan fokus baru pada diversifikasi produk dan hilirisasi usaha masyarakat.
Dua Hari Pelatihan, dari Manajemen Keuangan hingga Jualan di Marketplace
Pada 24 Agustus 2026, pelatihan perdana menyasar penguatan kapasitas kelembagaan Kelompok Usaha Bersama (KUB). Materi yang diberikan mencakup analisis pasar, penetapan harga, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan dan administrasi usaha.
Warga juga dikenalkan pada pencatatan transaksi digital menggunakan aplikasi sederhana. Sistem ini diharapkan membantu pelaku usaha memantau arus kas dan perkembangan bisnis secara lebih teratur.
Baru tiga hari berselang, tepatnya 27 Agustus 2026, pelatihan dilanjutkan dengan praktik pemasaran digital. Peserta diajak langsung memanfaatkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp sebagai media promosi, termasuk membuat konten foto, video, dan narasi produk yang menarik.
Simulasi Jualan di Tokopedia dan Shopee
Dalam sesi tersebut, peserta mengikuti simulasi pemasaran melalui marketplace seperti Tokopedia dan Shopee. Mereka mempelajari teknik promosi daring, mulai dari iklan berbayar, penggunaan hashtag, hingga cara membangun interaksi dengan konsumen.
Tim PKM juga mendampingi warga dalam penyusunan rencana bisnis, analisis harga agar produk tetap kompetitif, serta penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Nasruddin, SE., MM., dan Muhlis Muhalim, S.Kom., M.Cs., sebagai anggota tim.
Lurah Jaya: Digitalisasi Kunci Perluas Pasar
Lurah Jaya, Attriana Rumae, SE., berharap masyarakat mampu mengelola usaha ecocomposite berbasis limbah sagu yang telah dirintis sejak 2025 secara lebih profesional. Menurutnya, digitalisasi usaha menjadi kunci untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat peran warga dalam penerapan ekonomi sirkular dan green economy.
Ketua PKM, Dr. Budiawan Sulaeman, menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemanfaatan potensi lokal.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga menguasai manajemen usaha dan pemasaran digital. Dengan begitu, usaha berbasis ecocomposite dapat tumbuh berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan serta ekonomi lokal," ujarnya.
Melalui program ini, masyarakat tidak hanya didorong mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga dibekali keterampilan mengelola usaha secara profesional. Diversifikasi produk dan hilirisasi ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Kota Palopo.