Harga Keekonomian Pertamax Sentuh Rp16.800 per Liter, Pertamina Pilih Tahan di September

Harga keekonomian Pertamax diproyeksikan mencapai Rp16.800 per liter seiring rata-rata harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran US$90 per barel.
Penulis: Wahyu
Rabu, 02 September 2026 | 12:10:31 WIB

KILASKINI.COM — Keputusan menahan harga jual tersebut diambil di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level tinggi pada kuartal kedua tahun ini. Pertamina Patra Niaga dinilai menahan beban tambahan agar daya beli masyarakat tetap terjaga, meskipun secara bisnis, selisih tersebut menjadi beban subsidi terselubung.

Proyeksi Angka: Rp16.800 per Liter

Perhitungan itu mengemuka dari praktisi senior industri migas, Hadi Ismoyo. Dia merinci, rata-rata harga minyak mentah dunia sepanjang tahun berjalan (year to date) berada di kisaran US$90 per barel. Jika dikonversi menggunakan formulasi yang berlaku untuk BBM RON 92, angkanya setara dengan Rp16.800 per liter.

"Sekitar US$90/barel dengan cara yang sama memang perhitungannya untuk basic Pertamax adalah Rp16.800/liter," ujar Hadi saat dihubungi, Rabu (2/9/2026).

Acuan Bulanan Berpotensi Lebih Murah

Meski demikian, ada ruang penurunan jika menggunakan rata-rata harga yang lebih pendek. Hadi mencatat rerata harga minyak mentah pada Agustus 2026 sudah turun ke sekitar US$85 per barel. Realisasi ini jauh lebih rendah dibandingkan periode April—Juli 2026 yang sempat melonjak ke kisaran US$105 per barel.

Apabila Pertamina Patra Niaga memutuskan untuk merefleksikan rata-rata harga bulanan tersebut, maka harga keekonomian Pertamax versi terbaru bakal berada di angka Rp15.800 per liter. Angka ini masih lebih rendah dari proyeksi year to date, namun tetap membutuhkan penyesuaian dari harga jual saat ini.

Skema Harga dan Tekanan Beban Operasional

Keputusan untuk tidak menaikkan harga tentu mempengaruhi margin operasional badan usaha. Di sisi lain, konsumen yang selama ini mengandalkan Pertamax untuk kendaraan sehari-hari masih bisa bernapas lega karena pengeluaran bahan bakarnya tidak berubah di tengah tren kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

Kebijakan ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah dan Pertamina masih berhati-hati dalam melonggarkan tekanan inflasi. Menahan harga BBM nonsubsidi memang tidak langsung menyumbang inflasi, tetapi langkah ini membantu menjaga psikologi pasar dan stabilitas harga barang-barang yang biaya logistiknya bergantung pada bahan bakar.

Kepastian mengenai berapa lama harga Pertamax akan bertahan di level sekarang masih menjadi pertanyaan besar. Faktor penentunya adalah pergerakan harga minyak mentah global dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika ketegangan geopolitik yang sempat memicu lonjakan harga di pertengahan tahun kembali meningkat.

Reporter: Wahyu